Kamis, 08 Desember 2011

Terlindas Zaman atau Melindas Zaman

google.com


Seminggu yang lalu, tepatnya rabu malam, kami seluruh peserta GDP 6 berkesempatan untuk menikmati makan malam bersama HR Director of HIL, Pak Rully Safari. Saat sesi ramah tamah kami banyak memberikan feedback terkait pelaksanaan program GDP. Diskusi pun berlangsung sangat interaktif dan penuh dengan suasana kekeluargaan. Beliau banyak menyampaikan cerita inspiratif dari berbagai role model. Salah satunya cerita tentang seorang komisaris Holcim Groups (HGRS) yang tidak bisa membuat sms dan email (sayangnya saya lupa siapa nama beliau).

Komisaris yang dimaksud  adalah seorang bangkir yang supersibuk. Pak Rully bahkan bercerita bahwa 70% waktunya dihabiskan diatas pesawat. Tak terbayangkan betapa padat aktivitasnya. Di tengah-tengah karirnya yang terus menanjak dan memegang kendali beberapa perusahaan papan atas, beliau ternyata "sengaja" tidak mau belajar untuk sekedar membuat sms dan email!! Sehingga orang yang hendak berkomunikasinya terpaksa harus menelepon langsung atau mengirimkan fax. Ketika ditanya mengapa tidak mau belajar sms, beliau beralasan bila saya bisa membuat sms bisa dibayangkan berapa banyak orang yang akan sms dan tentu saja ini akan memakan banyak waktu untuk membalasnya.

Bagi saya, ini masih belum seberapa. Setidaknya si komisaris masih memiliki nomer handphone untuk dihubungi. Salah seorang dosen yang jadi role model saya, Ust.Abdullah Shahab, bahkan "sengaja" tidak mau memiliki handphone. Otomatis orang yang ingin berkomunikasi dengannya harus menelpon, mengirim email atau bahkan bertamu langsung ke rumahnya.

Kedua tokoh tersebut saa-sama memiliki alasan yang kuat atas pendiriannya. Mereka sama-sama tidak ingin hidupnya menjadi ketergantungan terhadap teknologi. Mereka ingin mempertahankan nilai-nilai luhur yang mungkin saja bisa tergusur dengan kehadiran teknologi. Bayangkan bila tidak ada sms, mungkin tidak ada mahasiswa yang asyik sms-an/bbm-an saat kuliah berlangsung, tidak ada orang yang sibuk sms-an/bbm-an saat rapat sedang berlangsung. Bahkan sering kita menjumpai orang yang tidak mengacuhkan lawan bicaranya dengan sibuk ber-sms ria.

Bagi orang dengan posisi tertentu, pendirian kedua tokoh bisa sangat acceptable. Sedang bagi kita yang belum apa-apa, pendirian tersebut justru bisa membuat dibilang gaptek atau sebagainya. Bagi kita dan saya khususnya, yang masih sangat membutuhkan teknologi semacam itu, bisa mengambil learning point dari dua tokoh tersebut. Jangan sampai kemajuan teknologi yang ada membuat kita lupa bagaimana menghormati dan menghargai dalam berkomunikasi orang lain. Carilah waktu yang tepat untuk membalas sms atau menerima telepon. Bila memang urgent, kita bisa meminta izin kepada lawan bicara untuk meminta waktu sebentar.




Keep Learning, Keep Growing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar