Senin, 20 Februari 2012

Kisah Seorang Penebang Kayu dan Anak Lelakinya

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
QS Ar Rahman (55:13)


*
Dikisahkan ada seorang penebang kayu dan anak lelaki satu-satunya. Sang penebang kayu bermaksud melatih anak satu-satunya untuk menebang, sehingga bisa meringankan bebannya. Berhari-hari ia melatih anaknya di pelataran rumahnya.

Setelah sekian lama dan dinilai siap untuk mencari kayu di hutan, maka dibawalah sang anak ke dalam sebuah hutan yang sangat lebat. Dia bermaksud ingin melihat bagaimana cara anaknya memilih dan menebang pohon.

Kemudian disuruhlah sang anak untuk menelusuri sebuah jalan setapak kecil sendirian. Dimintanya untuk memilih sebuah pohon yang paling besar untuk kemudian ditebang. Namun ada satu syarat yang diminta oleh sang penebang kayu kepada anaknya dan harus dipatuhi. Yaitu kewajiban untuk terus berjalan maju dan pantangan untuk mundur kembali ke belakang.

Maka sang anak pun dengan percaya diri dan berbekal sebuah kapak mulai menyelusuri jalan setapak sembari memilih batang pohon yang paling besar. Baru beberapa meter dia melangkah, nampaklah sebuah pohon yang sangat besar. Sebelum menebang, dia berpikir "Ah, barangkali di depan sana masih ada lagi yang lebih besar lagi". Dia pun menyurutkan niatnya untuk menebang dan meneruskan perjalanannya.

Belum jauh dia melangkah, terlihat lagi sebuah pohon yang lebih besar. Dia pun bergegas mendekati pohon tersebut dan bersiap menebang. Namun lagi-lagi dia berpikir "Ah, di depan sana pasti ada yang lebih besar lagi". Lagi-lagi dia pun membatalkan niat untuk menebang pohon dan kembali meneruskan perjalanannya.

Berkali-kali dia menemukan pohon yang selalu lebih besar dan berkali-kali pula dia membatalkan niat untuk menebangnya. Hingga di penghujung jalan setapak tersebut tidak satupun pohon yang berhasil dia tebang.

**
Kita seringkali terlalu pilih-pilih dalam banyak hal. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menimbang-nimbang daripada bertindak mengambil resiko. Kita terlalu sering mengeluhkan keadaan ketimbang mensyukuri apa yang telah didapat. Kita lebih suka menyesali daripada memanfaatkan apa-apa yang telah diraih.

Bila sedikit berpikir jauh ke depan, segala sesuatu yang telah kita peroleh dan terima bahwasannya adalah yang terbaik untuk kita. Tidak ada satupun manusia yang mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi esok hari. Bisa jadi apapun bentuknya dan berapapun jumlahnya yang kita punya dan kita raih hari ini adalah bekal terbaik untuk hari esok. Begitu pula apapun yang kita dambakan saat ini, belum tentu bermanfaat di kemudian hari, atau bahkan justru memberikan mudharat ketimbang manfaat.

Kita diciptakan oleh Alloh dengan segenap kemuliaan yang melekat sejak pertama kali dilahirkan. Kita dikaruniai akal dan kecerdasan yang lebih tinggi di antara mahluk lainnya. Kita pun dibekali dengan sisi emosional, rasa, dan hawa nafsu yang bila dikelola dengan baik akan membuat hidup kita semakin bermakna.

Itu sebabnya tidak semua yang kita inginkan dan dambakan selalu kita dapat dengan sempurna. Karena dengan akal, kecerdasan, rasa dan segenap kemuliaan lainnya, kita bisa menyempurnakan apa-apa yang kurang sempurna. Kita bisa memadukan beberapa diantara ketidaksempurnaan tersebut untuk menjadi sebuah kesempurnaan baru yang jauh lebih bermanfaat.

Secara pribadi saya berdoa untuk diri saya sendiri dan kita semua agar selalu dikaruniai kedewasan dan keikhlasan untuk mensyukuri tiap nikmat yang kita peroleh. Kita dilahirkan bukan hanya untuk menerima segala sesuatu dalam keadaan sempurna, namun bagaimana membuat sesuatu yang kurang sempurna menjadi lebih sempurna, setidaknya untuk kita sendiri. Selamat beraktivitas dan tetap semangat!!



Keep Learning, Keep Growing!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar