Tampilkan postingan dengan label Self Development. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Self Development. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Oktober 2017

Re-inventing your self!!

Re-inventing your self. Itu adalah judul sebuah artikel yang beredar di grup whatsapp beberapa hari yang lalu. Isinya cukup menarik bagi saya. Sebuah proses menemukan-lalu menumbuhkan kembali diri sendiri dengan tampilan yang berbeda dan lebih baik. Diceritakan beberapa perusahaan musti re-inventing karena tuntutan zaman, yang justru membuatnya tidak hanya sekedar bertahan hidup, namun justru bisa tampil lebih unggul.

Tuntutan re-inventing sebenarnya tidak hanya relevan dengan kondisi perusahaan yang terdesak dengan kondisi pasar/zaman. Idealnya, re-inventing sudah menjadi siklus bagi siapapun yang selalu ingin tumbuh. Sama halnya dahan sebuah pohon yan selalu tumbuh bergerak ke arah sinar matahari datang.

Situasi ini mengingatkan saya jadi teringat saat selesai wisuda. Masa kuliah telah usai, nilai IPK sudah keluar, karir organisasi telah paripurna, dan status mahasiswa pun sukses ditanggalkan. Saatnya bergerak ke step selanjutnya, dunia pasca kampus.

Tak mudah awalnya. Saya tahu apa yang sejak dulu ingin saya tuju dan saya hindari, tapi belum cukup yakin bagaimana caranya menuju ke arah sana. Setelah dipikirkan dengan masak, akhirnya mengerucutlah dua  tujuan besar yang harus dikejar , yaitu bekerja di multinational company dan sesegera mungkin berkeluarga, serta satu hal yang (kalau bisa) dihindari, yaitu  profesi engineer (lol).

Saya sejak awal lebih ingin berkarir di multinational company karena beberapa pertimbangan. Pertama saya ingin scale up, dari yang awalnya berinteraksi dengan teman-teman dalam level nasional, naik menjadi internasional. Kedua, kesempatan untuk belajar (sekaligus mempraktekan) keterampilan berbahasa asing pasti akan makin terasah. Ketiga, ada keinginan besar untuk mensejajarkan diri dengan rekan dari bangsa lain. Keempat, bergabung dengan multinational company tentu akan membuat peluang mendapatkan overseas opportunity makin besar. 

Gaji? Tidak terlalu menjadi pertimbangan, karena bagi saya poin 1 hingga 4 sudah cukup menggambarkan berapa pasaran gaji yang akan diterima.

Kelima, ini adalah keinginan yang terdengar agak kurang nyambung.

Pertimbangan yang kelima,saya ingin kerja di kota kelahiran saya, Cilacap. Ini lebih karena saya ingin memenuhi permintaan orang tua saya. Beliau ingin saya kembali ke rumah. Tapi siapa sangka, justru poin inilah yang akhirnya memudahkan saya meraih poin 1 hingga poin 4.

Begini ceritanya, tiga bulan setelah lulus kuliah, saya mulai bekerja di sebuah multinational company. Sembilan bulan selanjutnya, saya dipindahkan ke Cilacap. Masya Allah, setelah tercapai keingingan saya di poin 1 (berkarir di multinational company), lalu terwujud poin 5 (kerja di kota kelahiran saya, Cilacap). Selanjutnya, berkat doa orang tua, poin 2 hingga 4 nampak begitu mudah.

Lima bulan berikutnya saya dikirim ke Vietnam selama satu bulan. Sepulang dari Vietnam, saya dipindah ke Tuban dan bergabung dengan tim project sebagai Mechanical Engineer. Tugas saya meliputi pekerjaan engineering untuk project yang terkait auxiliary facilities, seperti fire protection, water supply, workshop facility, warehouse facility, dan modifikasi palletizer facilities.

Dalam kesehariannya, saya melapor langsung ke seorang manager berkebangsaan Rumania. Di tim project saya terbiasa berinteraksi dengan rekan dari berbagai negara, Canada, Rumania, Mexico, India, Kolombia, Jerman dan sebagainya. Di sela-sela periode tersebut, saya menikah saat usia baru 24 tahun.

Dua tahun di tim project, saya lalu bergabung di tim operasional sebagai Maintenance Engineer dengan tanggung jawab riset dan modifikasi yang terkait peningkatan performa alat, pekerjaan terkait capex project, dan root cause analysis untuk beberapa trouble  di pabrik yang terjadi berulang kali dan menyebabkan durasi stop yang panjang.

Tidak sampai dua tahun di tim operasional, saya mendapatkan kesempatan untuk ke Kenya, Afrika. Selama tiga minggu disana, saya menjalani program pengembangan diri untuk sertifikasi sebagai Preventive Maintenance Engineer. Setahun setelahnya, saya mempresentasikan sebuah proyek yang berhasil diselesaikan dalam waktu 9 bulan dengan tema peningkatan efisiensi performa unit pengemasan semen. 

Alhamdulillah, saya sukses melewati fase sertifikasi tersebut bersama sekitar 30-an rekan engineer dari negara lain.

Dalam rentang waktu lima tahun, semua yang dicita-citakan saat selesai kuliah, baik yang terkait pekerjaan maupun keluarga telah diraih. Kini saya memasuki lagi siklus re-inventing. Sama persis saat selesai wisuda.

**
Seperti yang diceritakan dalam artikel re-inventing your self, inilah saat nya saya menganalisis dan mengkaji current strength dalam diri saya. Lalu mendefinisikan area baru (green field) yang memungkinkan saya untuk tumbuh. Selanjutnya, tentukan strength dan knowledge apa yang perlu terus dikembangkan untuk memasuki green field area. Terakhir, saya harus beranikan diri untuk bergerak dan terus menantang diri sendiri agar tetap tumbuh.

Well, bukan step yang mudah untuk diselesaikan dalam waktu semalam. Setidaknya perlu dimulai dari sekarang. 

Bila dua tujuan besar telah diraih, bekerja di multinational company dan berkeluarga. Maka starting point selanjutnya bisa saya awali dengan mewujudkan satu hal yang sedari dulu justru ingin saya hindari namun belum juga berhasil yaitu profesi engineer.

Yes, it’s time for re-inventing my self and going to next level, beyond the engineer.

Doakan saya.


Keep Learning, Keep Growing!!

Rabu, 13 September 2017

Learning Attitude

Bismillah

Ini adalah postingan pertama saya setelah setahun (lebih sedikit) absen menulis. Ya, mempertahankan kebiasaan baik itu jauh lebih susah ketimbang memulainya. Semoga postingan ini bukan pertama dan terakhir untuk tahun ini.

Saya ingin memulainya lagi dari sebuah titik dimana saya berhenti sesaat untuk melihat lagi ke belakang sebelum melompat ke depan. Titik itu adalah hari dimana saya tepat 5 tahun berkarir sebagai engineer. Hari yang terasa singkat bila dihitung dengan bilangan tahun. Namun waktu yang lama untuk hanya sekedar menjalani rutinitas ala kadarnya.

Oleh karenanya, perlu sepertinya kita berhenti sejenak untuk melihat apa yang telah dicapai, apa-apa saja yang kurang berhasil, target apa yang perlu ditingkatkan. Semua dievaluasi sebagai bekal untuk melangkah ke depan dan mengejar target-target selanjutnya. 

Oke, selama 5 tahun berkarir satu pelajaran yang sangat berkesan adalah "learning attitude". Saya menyebutnya sebagai sesuatu yang harus kita jaga supaya kita bisa beradaptasi dengan lingkungan. Ini adalah sikap dimana kita harus mampu belajar dengan waktu singkat, belajar dengan siapa saja, dan mempertahankan semangat belajar itu sendiri.

Sebagai lulusan sarjana, tentu ekspektasi yang dibebankan tidaklah main-main. Banyak orang menganggap bahwa lulusan sarjana tahu banyak hal dan bisa membantu menyelesaikan banyak persoalan. Kenyataannya seringkali apa yang kita jumpai di lapangan atau dunia kerja jauh berbeda dengan apa yang kita pelajari di kampus. Perbedaan mindset dan approach dalam menyelesaikan sebuah problematikan sangat terasa.

Di bangku kuliah, kita terbiasa menyelesaikan permasalahan dalam bentuk soal cerita. Solusi yang dirumuskan pun hanya dalam bentuk jawaban atas pertanyaan soal tersebut. Kalaupun ada penugasan dalam bentuk real project, intensitasnya pun masih jauh lebih sedikit dibanding penugasan dalam bentuk paper work. Berbeda saat masuk di dunia kerja, kedua penugasan baik paper work ataupun field activities (terutama untuk maintenance engineer) memiliki porsi yang sama besar.

Situasi seperti inilah yang menuntut kita untuk gesit dalam belajar.  Bisa jadi ilmu yang kita pelajari selama kuliah tidak semuanya terpakai. Namun trick ataupun metode belajar kita selama kuliah akan terus terpakai. Oleh karenanya keterampilan belajar dengan cepat yang dibangun selama di bangku kuliah, akan sangat bermanfaat.

Bila kita selama kuliah kita senang belajar kelompok, maka tidak akan ada kesulitan berarti saat bekerja sama dengan rekan kerja. Bila kita terbiasa membaca textbook, maka tidak akan ada kesulitan berarti saat kita mencari informasi di OEM/manual book. Kalau kita terbiasa mbacem dan mencari teman yang tepat untuk dibacem, maka kita tidak akan panik saat menemui masalah yang belum pernah kita hadapi sebelunya. Karena kita tahu kemana harus bertanya dan mbacem of course.

Bahkan bila kita terbiasa mengerjakan tugas mendekati deadline, h-1 jam sebelum dikumpulkan, maka kita akan terbiasa bekerja di bawah tekanan. Haha (another good side).

*
Well, masih dalam konteks "belajar", kita akan lebih mudah menguasai sebuah persoalan bila kita mampu bekerja sama dengan orang lain. Kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan pihak lain, membaca potensi kawan, dan menggerakan orang untuk bekerja bersama, akan sangat diperlukan di dunia kerja. Karena semakin banyak potensi yang bisa dikolaborasikan, makin besar peluang kita untuk menemukan solusi dalam waktu yang singkat.


Sebagai newcomer di sebuah tempat kerja. Kita akan dihadapkan oleh bervariasi nya rekan kerja. Baik dari usia, latar belakang pendidikan, dan tentu saja jabatan. Kepada rekan kerja yang lebih senior. Karena mereka terlahir lebih dulu untuk merasakan apa-apa yg sebagian besar belum pernah kita rasakan. Dari mereka lah kita akan belajar tentang experience, success stories dan kegagalan yang pernah dialami, sehingga kita bisa mengambil pelajaran.

Respect kepada yg masih muda. Meski belum tentu kita lebih pintar, mereka memiliki energi dan semangat yang belum tentu bisa kita samai. Dari merekalah kita bisa tertular energi yg lebih besar utk berkembang. Dari mereka pula kita bisa mendapatkan ide yang lebih fresh.

Kepada merekalah, rekan kerja yang lebih senior dan junior, kita padukan antara kebijaksanaan dan ambisi.

**
Learning attitude sebenarnya adalah akumulasi kebiasaan kita dalam belajar yang dimulai sejak kecil hingga kita lulus kuliah. Ini bukan soal bagaimana metode terbaik untuk belajar, karena masing-masing orang memiliki caranya masing-masing. Ini adalah tentang sikap kita sebagai pribadi yang terus memacu diri untuk belajar hingga jatah usia hidup habis.

Belajar bukan hanya perkara memperkaya diri sendiri dengan ilmu, namun bagaimana mengembangkan orang di sekitar kita untuk sama-sama tumbuh. Kita tidak akan pernah menjadi tertinggal hanya karena membantu orang lain untuk tumbuh.

Justru ilmu kita akan bertambah seiring dengan makin banyaknya orang yang mampu kita bantu untuk sama sama belajar. Karena bagaimanapun untuk tumbuh lebih tinggi, kita perlu partner (baik co-partner atau sparring partner) untuk membuat kita terus terpacu untuk bergerak dan belajar lebih jauh di tengah luasnya lautan ilmu.

Dan inilah yang harus terus kita pertahankan agar waktu yang kita habiskan tidak berlalu begitu saja, sebagaimana rutinitas yang membosankan. Namun ada value yang bisa kita raih, yaitu growth


Keep Learning, Keep Growing!!

Minggu, 14 Februari 2016

Essay Prolead ALITS 2016

Bismillahirahmannirohim

Kedua orang tua memberi saya nama Essa Abubakar Wahid. Saya dilahirkan pada tanggal 19 Juni 1988. Cilacap (Jawa Tengah) adalah kota di mana saya lahir dan dibesarkan. Semua jenjang pendidikan saya tempuh di Cilacap kecuali perguruan tinggi. Pada tahun 2006, saya  meneruskan kuliah di ITS Jurusan Teknik Mesin.

Semasa kuliah, saya mengikuti beberapa kegiatan organisasi baik tingkat jurusan maupun institut. Di internal jurusanTeknik Mesin, saya tergabung dalam LDJ Ash Shaff dan Club Pers Dimensi.  Sementara untuk kegiatan Himpunan Mahasiswa Mesin, saya aktif sebagai pemandu LKMM pra TD, LKMM TD dan trainer Advanced Leadership Training.

Di tingkat institut, saya aktif sebagai anggota dan pengurus Kopma dr.Angka ITS. Bergabung pada tahun 2006 sebagai anggota, saya mulai dipercaya menjadi pengurus di tahun 2008 sebagai Asisten  Direktur Bid PSDA (Pengembangan Sumber Daya Anggota). Hingga pada tahun 2009 saya mendapat amanah sebagai Direktur Utama. Pada tahun 2010 saya diangkat sebagai Pengawas Kopma dr.Angka ITS.

Selama rentang waktu 2008-2010, saya juga memperoleh beasiswa dari Total EP Indonesie dan Yayasan Pengembangan SDM IPTEK.  Kedua beasiwa ini memberi saya kesempatan untuk bergabung dalam komunitas yang kondusif untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Segala keterampilan yang diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin masa depan, baik itu menulis, berbicara di depan pubik, hingga memimpin organisasi, semuanya diasah dan digembleng dalam atmosfer yang saling mendukung satu sama lain.

Setelah lulus kuliah di tahun 2011 dengan IPK 3.36, saya diterima di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang industri semen sebagai peserta program GDP.  Selama satu tahun pertama, saya mempelajari A to Z business process yang dikerjakan oleh PT Holcim Indonesia.

Seusai program GDP pada pertengahan 2012, saya melanjutkan program pendidikan di Vietnam selama 1 bulan. Setelah itu, saya ditempatkan di Tuban Project  Team sebagai area mechanical engineer. Tanggung jawab saya meliputi engineering review, tendering, construction, hingga test-comm.  Saya terlibat di pembangunan auxiliaries facilities, maintenance workshop facility, warehouse, quarry facility, hingga logistics and jetty fire protection system.

Seiring berakhirnya Tuban Project, pada awal tahun 2015 saya dipindah-tugaskan ke  Tuban Operational Team. Hingga kini saya bergabung di Maintenance Dept. sebagai Mechanical Engineering Support. Tanggung jawab saya meliputi modification, Root Cause Failure Analysis, support Mechanical Area SI, dan realisasi CAPEX. Area pekerjaan saya mencakup Raw Mill-Kiln Tuban 2, Finish Mill and Dispatch, dan industrial water system.

Di sela rutinitas sebagai engineer, saya meneruskan  hobi menulis blog, membaca buku tentang people development, dan tergabung dalam beberapa komunitas. Hal ini membuat saya memiliki lingkungan yang kondusif untuk tetap berkembang sekaligus meraih keseimbangan dalam hidup.

Saya bergabung dalam komunitas OWOP (One Week One Paper) untuk menunjang saya agar dapat menulis lebih konsisten. Saya juga tergabung dalam komunitas Kelas Inspirasi Tuban dimana saya terpanggil untuk menyebarkan optimisme dan inspirasi kepada generasi yang lebih muda untuk terus berjuang menempuh pendidikan tinggi.

Menurut saya, keberhasilan pembangunan sebuah bangsa dapat  dilihat dari peradaban masyarakatnya. Inilah yang mendorong saya untuk aktif juga di kegiatan sosial keagamaan, karena agama hadir untuk menata manusia dan membangun peradaban mulai dari elemen terkecil, yaitu pribadi, keluarga,masyarakat, hingga tingkat yang lebih tinggi, negara. Oleh sebab itu, saya juga tergabung dalam komunitas Youth of Tuban, dimana agenda besarnya adalah mengajak sebanyak-banyaknya pemuda untuk sama-sama tumbuh dan berkembang sebagaimana yang telah ditunjukkan jalannya di dalam Quran dan Hadits.

Saya yakin bahwa bangsa ini terlalu besar untuk dibangun oleh satu-dua orang. Anak-anak bangsa yang memiliki potensi dan perhatian yang sama untuk bangsa, perlu berkumpul bersama, sharing ideas, transfer knowledge dan menyatukan energi untuk sama sama tumbuh sebagai satu kekuatan yang lebih besar. Inilah alasan saya untuk mengikuti Prolead ALITS 2016.

Terima kasih.


Keep Learning, Keep Growing!!


Jumat, 05 Februari 2016

MU dan Prof Shahab

Manchester United (MU) dan final Champions League 1999.  Dua hal yang saling menggambarkan satu sama lain, yang pertama adalah sebuah klub besar dari daratan Inggris dan satunya adalah kisah dramatis dalam sejarah sepak bola dimana MU berhasil mengalahkan Bayern Munchen. Semua cerita itu meninggalkan kesan yang tak terlupakan hingga 16 tahun kemudian.

Persistence dan determinasi pemain MU selama 90 menit menginspirasi saya sampai hari ini.
2 gol dari Ole Gunnar Solkjaer Gol Solkjaer dan Teddy Sheringham masih terasa magisnya hingga kini. Keberanian Peter Schmeichel untuk maju sampai memasuki area Kahn, hingga momen David Beckham mengambil tendang penjuru pun masih terngiang-ngiang di benak saya. Saya masih ingat teriakan bapak saya di dini hari. Karena itulah momen dimana saya dan bapak pertama kalinya menyaksikan sepakbola berdua (saja) di tengah malam.

Saya adalah satu dari jutaan orang yang lumayan setia mengikuti berita tentang MU di media massa. Tapi saya belum bisa dibilang fans berat, karena saya jarang menyaksikan pertandingan MU di televisi, apalagi kalau pertandingannya lewat tengah malam. 

Saya pernah memiliki beberapa kostum MU. Sewaktu SD, bapak membelikan saya kaos MU bernomor punggung 19 milik Dwight Yorke. Sekarang yang ada tinggal kostum milik Javier Chicarito dan kostum kiper seperti yang dipakai David De Gea. Inipun belum bisa membuat saya otomatis menjadi fans berat, karena saya tidak terlalu hafal pemain-pemain MU saat ini.

Saat saya masih SMP dan SMU, beberapa poster David Beckham, Paul Scholes, dan Ruud Van Nisterrooj terpasang rapi bersama poster Juventus dan Valentino Rossi di kamar saya. Inipun belum cukup membuat saya dibilang pendukung garis keras. Karena saya tidak terlalu sedih bila MU kalah, dan tidak ikut jemawa bila MU menang.


***
Saya punya banyak teman dengan idolanya masing-masing dan jauh lebih fanatik daripada saya. Menonton pertandingan, baik secara langsung atau lewat televisi, wajib hukumnya. Koleksi segala pernak-pernik tentang klub adalah hobi yang lumrah. Berita dan gosip adalah buruan utama saat berselancar di dunia maya. Bila bertemu dengan teman yang berbeda idola, berbalas ejekan adalah hal yang biasa. Apalagi kalau tim mereka atau idola mereka baru saja saling berduel dan saling mengalahkan.

Pada level tertentu, dukungan terhadap idola diwujudkan dalam bentuk adu balas komentar di lini massa. Apapun yang dilakukan oleh sang idola adalah hal yang harus terus dibela. Kalaupun ada yang salah, dicari sudut pandang sedemikan sehingga sang idola pun bisa "dianggap" benar.

Saya teringat pesan Prof.Abdullah Shahab saat kuliah. Beliau juga memiliki sedikit ketertarikan akan sepak bola. Namun ketertarikan itu hanya dalam konteks olah raga atau permainan, tidak sampai menjadi pendukung fanatik. 

Bahkan hanya untuk seekedar menonton pertandingan sepak bila, beliau pun sangat selektif. Beliau hanya akan menonton tim yang permainannya enak dilihat. Saat itu, tahun 2008, beliau menyebut MU sebagai tim yang enak ditonton. Itupun kalau pertandingannya tidak dini hari. Menurut beliau, untuk apa kita sampai bangun dini hari hanya untuk menonton sepakbola kalau ibadah kita di pagi hari menjadi lalai.

Inilah yang sering terjadi di antara kita. Kita begitu mengidolakan sesuatu mati-matian hinga rela mengorbankan banyak hal. Sayangnya, kebanyakan dar kita sendiri bukanlah orang yang dikenal oleh idola kita. Saat kita care dengan idola kita, belum tentu mereka care dengan kita. Saat kita sedih karena idola kita kalah, apakah mereka juga ikut merasa sedih saat nilai Perencanaan Eksperimen* kita dapat C? Begitu kira-kira uraian beliau.

Dalam urusan dunia, kita perlu mengambil titik kesimbangan dalam mendukung sesuatu. Jangan sampai energi kita habis hanya utk mendukung atau membela sesuatu yang belum tentu berbalas dan belum tentu benar.

Kita perlu memfokuskan diri menjadi "pemain" atau "aktor" ketimbang hanya menjadi "pendukung". Mari saling mengingatkan untuk terus menyibukkan diri dengan karya, dibanding fokus hanya memandang orang lain berkarya (ini tamparan untuk saya pribadi :p).


Keep Learning,Keep Growing!!

*Perencanaan Eksperimen adalah salah satu mata kuliah Teknik Mesin yang diampu oleh Prof. Abdullah Shahab

Kamis, 07 Januari 2016

Keluar Zona Nyaman atau Memperluas Zona Nyaman?

"Keluar dari Zona Nyaman"  quote yg sudah tidak asing bagi kita. Di berbagai kesempatan, mulai dari pelatihan motivasi, artikel di media masaa, training entrepreuner, hingga buku-buku pengembangan diri, kalimat tersebut seperti mantra andalan yang menyihir banyak orang.

Sebetulnya, saya baru mulai mengenal rangkaian kata tersebut saat pertama kali merantau di tahun 2006. Terbiasa dengan hidup yang serba "ada" saat bersama keluarga, seketika berubah saat itu. Tak ada orang tua, tak ada sanak famili, hanya saya seorang. Simply no more comfort zone. Itulah masa transisi dalam hidup saya.


Kondisi tidak nyaman ini membuat saya mau tak mau harus terus "bergerak". Persis seperti filosofi orang belajar bersepeda. Kita harus pandai menjaga ritme antara terus mengayuh pedal, menahan laju, dan menjaga keseimbangan as well.

Bermodal habit yang sudah dibangun orang tua sejak kecil. Berbekal segudang nasihat, petuah, dan sedikit "kiriman" dari orang tua. Tidak lupa kemampuan berkomunikasi dan menjalin relasi dengan orang lain. Perpaduan semua itu, membuat saya berani memulai babak baru dalam hidup.

Petualangan itu saya mulai dengan menata ulang aktivitas keseharian. Hal ini tercermin, salah satunya, dengan mencari tempat tinggal (kost) yang dekat dengan tempat ibadah. Kost yang dekat dengan tempat ibadah merupakan tempat yang istimewa. Minimal kita selalu diingatkan untuk sholat wajib 5 waktu. Makin sering berjamaah, makin sering bertemu orang-orang yang istimewa. Terutama karena merawat solat berjamaah.

Selanjutnya membangun "jaringan". Keterampilan untuk membina relasi membuat "lingkaran" saya makin luas. Demi memuluskan pencapaian kesuksesan, saya fokus mengelilingi diri dengan orang-orang yang sejalan dengan tujuan saya. Lingkaran itu saya bangun mulai dari teman-teman satu kampung di rantau, kakak-kakak satu kos, dan tentu saja teman-teman satu kampus. Seiring berjalannya waktu, keikusertaan di beberapa organisasi kemahasiswaan juga menambah luas jaringan yang saya miliki.

Berada di tengah-tengah jaringan yang kondusif, membuat saya seperti berada di sumber energi yang tidak ada habisnya. Setiap interaksi yang terjadi di dalamnya tak lain adalah proses saling menginspirasi dan saling menguatkan. Hingga kecil kemungkinan saya terjebak dalam kubangan "kegalauan" yang berlarut-larut.

Slow but sure, jaringan ini membawa saya ke dalam sebuah zona nyaman yang baru. Sama halnya dengan sebagian besar teman saya yang merantau. Kita sama-sama keluar dari zona nyaman pada awalnya. Kemudian dengan proses adaptasi yang tidak mudah, ada yang berhasil menemukan zona nyaman yaang baru, ada pula yang gagal membangun zona nyamannya. Karena yang diperlukan bukan hanya keberanian untuk keluar dadi zona nyaman. Tapi kemampuan untuk membuat zona nyaman baru.

Pada akhirnya, bukan "keluar dari zona nyaman"-lah yang menjadi tujuan akhir. Namun kegigihan untuk terus berjuang "memperluas zona nyaman"-lah yang akan membawa kita berprestasi dalam level yang lebih tinggi lagi.


Bersambung

Keep Learning, Keep Growing!!

Sabtu, 02 Januari 2016

Pria Bule Berkaos Mettalica Itu...

Jumat 1 Januari 2016.

Hari ini saya ada janji dengan seorang teman lama. Seusai sholat jumat, saya meluncur dari masjid manarul ilmi ITS menuju sebuah minimarket di depan kampus UPN Surabaya. Saya hubungi teman tsb dan menunggu di dalam mobil.

Saat sedang menunggu di mobil, saya melihat dari kejauhan seorang pria bule berkaos hitam sedang asyik minum di dalam kedai minimarket. Pria tsb tak terlalu jelas dari luar.

Saya sedang membuka HP ketika istri saya kemudian bergumam "Wah bulenya pake kaos Mettalica tapi celananya nyunnah (diatas mata kaki)".Saya baru benar-benar tertarik (kepo) utk lihat ke arah si bule ketika istri saya kembali bergumam. "Wah istrinya (si bule) pake jilbab syari' (jilbab lebar).

Kali ini saya benar2 terkejut. Awalnya tak ada yg istimewa dari si bule. Typical bule seperti boss saya dulu. Berambut pirang. Berbadan tinggi. Hobi memakai kaos rock (Mettallica).

Saya dan istri benar2 kaget (sekaligus kagum). Kami melihat dia keluar dari minimarket bersama istrinya (dari wajahnya, org Indonesia) dengan busana Islami (bahkan mgkn lbh Islami dibanding kami). Dengan beberapa bekas tatto yg masih terlihat di tangannya, besar kemungkinan si bule adalah seorang mualaf.

Alhamdulillah, Allah ingatkan saya satu pelajaran yg sangat berharga melalui  si bule. Ini pelajaran tentang bagaimana penampilan luar membangun image.

Sebagian org mengatakan "dont judge the book from its cover". Saya sepakat bahwa seringkali kita tidak bisa menilai semua hal ttg seseorang hanya dari penampilan luar. Awalnya, hanya karena si bule memakai berkaos metallica, kami mengira beliau cuma bule biasa.

Di sisi lain, kita tidak bisa memungkiri bahwa persepsi dibangun dalam 20 detik pertama (atau bahkan kurang). Inilah letak challenge kita.

Saya setuju bahwa akhlak, aqidah, dan nilai ibadah kita, tak akan pernah dapat dinilai hanya dari pakaian. Tapi, dari cara kita berpakaian, kita bisa mensyiarkan keislaman kita.

Selain mengikuti sunnah rasul, berpakaian yg Islami adalah upaya kita yang plg mudah untuk memasyaratkan dan membangun image yang baik tentang Islam, sekaligus menepis image buruk yang selama ini banyak mengarah ke Islam.

Last but not least. Bila benar beliau adalah seorang mualaf, teriring doa dari saya supaya beliau beserta keluarganya terus istiqomah dalam memegang ajaran Islam.

Dan untuk kita yang lebih dulu memeluk dien ini, terucap doa supaya kita tak kalah semangat dari saudara kita yg mualaf dalam meningkatkan iman dan mengikuti sunnah2 Rasul.

Keep Learning, Keep Growing!!

Selasa, 14 April 2015

One Week One Paper, Gardu Energi Yang Selama Ini Kami Cari

Salah satu penulis dan trainer kondang, Jamil Azzaini, pernah menulis dalam bukunya. Bahwa untuk mengakselerasi dan mempertahankan spirit, kita perlu mendekat atau selalu terkoneksi dengan orang-orang yang memiliki semangat dan energi yang lebih besar. Mereka disebutnya Gardu Energi.

Sama seperti yang saya pahami dengan hukum energi. Bahwa energi akan mengalir dari potensial energy tinggi ke potensial energi yang lebih rendah. Persis dengan semangat. Kita perlu mendekat atau bergabung dalam komunitas yang berisi orang-orang yang memiliki semangat tinggi supaya kita bisa tetap terus semangat. Setidaknya ada tangan-tangan yang akan membantu kita bangkit saat kita terjatuh.

Komunitas ini memiliki 3 agenda rutin tiap minggunya, selain setor artikel. Senin malam kita ada “Narasi Bebas”. Salah seorang akan upload sebuah gambar di grup, lalu dalam waktu yang terbatas kita berlomba-loma membuat narasi bebas dari gambar tersebut. Ini mengingatkan saya saat masih tergabung  di Teater Kretta. Kita terbiasa berpikir keras di sempitnya waktu untuk membuat sebuah pementasan.

Lain lagi di Selasa malam. OWOP memiliki thematic challenge. Salah seorang akan menyampaikan sebuah challenge, biasanya membuat sebuah karya sastra berdasarkan topik yag telah ditentukan. Bagi karya yang terbaik akan mendapakatkan hadiah ekslusif.

Lalu di Jumat malam, kita ada agenda sharing bersama penulis. Ini adalah sesi dimana kita kedatangan tamu yang bisa kita gali ilmu dan pengalamannya. Agenda-agenda ini membuat kita terus semangat yang seringkali

Itulah alasan kami berdua (saya dan istri) untuk bergabung dalam komunitas One Week One Paper (OWOP). Sebuah komunitas lintas usia, lintas kota, namun berisi orang yang memiliki kesamaan semangat dan passion, menulis.

Kami belumlah mahir dalam tulis menulis. Kami hanyalah dua insan yang masih terus belajar sembari meyelipkan inspirasi di tengah susunan kata yang kami rangkai dalam sebuah tulisan.

Tertarik bergabung di OWOP? Langsung saya kunjungi situsnya www.oneweekonepaper.com
Mari bersama berkumpul, menyatukan semangat, mengalirkan energi, dan melahirkan karya.

"Sederhana dalam hidup, Kaya dalam Karya". (Sheila on 7)
 




Keep Writing, Keep Growing!!

Kamis, 26 Maret 2015

Kisah Seorang Pemuda Kaya dan Pakaiannya

Konon di sebuah negeri terdapatlah seorang pemuda yang sangat ulet. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun membawanya tumbuh menjadi  seorang pengusaha yang kaya raya. Kekayaannya meliputi tanah perkebunan, lahan pertanian hingga beberapa peternakan. Tak cukup disitu, kekayaan yang melimpah telah membuat masyarakat sekitar sangat hormat kepadanya.

Hingga pada suatu hari tersiar kabar Sang Raja di negeri tersebut bermaksud menggelar sebuah pesta untuk orang-orang terdekatnya. Pesta itu akan digelar di istana kerajaan selama dua hari dua malam dan pemuda tersebut menjadi salah satu orang yang diundang Sang Raja.

Hingga waktunya tiba, sang pemuda kaya pun datang memenuhi undangan tersebut.

Pada hari pertama dia datang ke pesta dengan menngunakan pakaian terbaik yang dia punya. Mulai dari sepatu, celana hingga baju, semuanya terbuat dari bahan dan model terbaik di eranya. Sesampainya di pintu masuk istana dia pun disambut bak tamu agung oleh para pengawal.
Malam itu dia juga suskes menyihir para tamu undangan. Selama pesta berlangsung tak sedikit orang-orang yang mengerumuninya.

Sedang di hari kedua dia mengubah penampilannya. Dia mengganti pakaian terbaiknya dengan pakaian yang sederhana layaknya rakyat kecil kebanyakan. Tak nampak lagi hal istimewa seperti malam sebelumnya.

Alhasil dia pun diusir oleh pengawal istana saat hendak memasuki istana. Jangankan masuk ke dalam istana, mendekati pintu masuk pun dia dilarang. Tak ada lagi sorot mata yang memandangi dirinya.

Pada saat itulah dia berpikir, bila  memang yang dinilai adalah pakaianku, mengapa aku harus senang dan bangga. Sebaliknya, bila yang dihina bukan diriku melainkan pakaianku, mengapa aku pun harus bersedih dan berkecil hati?

**
Jika kita begitu dihormati dan disanjung  oleh kebanyakan orang, tidak perlu kita terlalu bangga atau senang.  Sebaliknya bila kita dihina dan dicaci janganlah kita terlalu bersedih. Belum tentu yang dilihat dan dinilai oleh orang lain selalu benar. Karena tidak semua yang kita miliki harus terlihat oleh orang lain.

Cukuplah pujian dan cacian dijadikan renungan untuk terus selalu memperbaiki diri. Bukankah Sang Khalik pun  menilai kita bukan dari harta atau jabatan yang kita miliki, melainkan semata-mata dari keimanan dan ketakwaan.

Semoga kita selalu terjaga dari berbagai penyakit hati, saling mengingatkan dan selalu semangat untuk terus berlomba-lomba mengumpulkan kebaikan. 

Semata-mata untuk mendapat ridlo-Nya.



Keep Learning Keep Growing!!




Rabu, 20 Agustus 2014

6 Pertanyaan Imam Al Ghozali kepada Muridnya

Pagi ini saya mendapat broadcast di grup whatsapp yang cukup menarik perhatian saya. Semoga bermanfaat.

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. 

Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. 

Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"
Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. 

Tapi yang paling benar adalah "Masa lalu"Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. 

Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A'Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Iimam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72). 

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. 

Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "Meninggalkan Sholat"

Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat. 

Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukaiperasaan saudaranya sendiri.


Semoga kisah di atas bisa menginspirasi kita untuk terus instropeksi diri dan saling mengingatkan dalam kebaikan.


Keep Learning, Keep Growing!!

Selasa, 04 Februari 2014

Anomali Waktu (Semakin hari, waktu terasa makin singkat)

Beberapa tahun belakangan ini, terutama semenjak memasuki dunia kerja, waktu terasa lebih cepat. Rasanya baru kemarin mengawali aktivitas di hari Senin, tanpa terasa hari Juma't sudah tiba. Satu minggu serasa seperti satu hari. Satu bulan terasa seperti satu minggu, dan akhirnya satu tahun akan terasa seperti satu bulan.

*
Bila kita mengingat kembali materi fisika yang diajarkan di SMP tentang besaran pokok. Kita akan menemukan bahwa salah satu yang termasuk besaran pokok adalah "waktu". Besaran "waktu" tidak diturunkan dari besaran-besaran lainnya, melainkan berdiri sendiri. Hal ini dikarenakan satuan "waktu", 1 sekon,  memiliki standard yang tetap dalam menentukan besar 1 sekon.

Mulanya, 1 sekon ditetapkan sama dengan 1/86400 rata-rata gerak semu matahari dalam mengelilingi Bumi. Namun, dalam perkembangannnya, metode ini dinilai kurang tepat akibat adanya pergeseran. Hingga akhirnya, pada tahun 1956, ditetapkan bahwa 1 sekon adalah waktu yang dibutuhkan atom cesium-133 untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali.

**
Kemudian bila kita melihat contoh sederhana dari hukum relativitas yang dipopulerkan oleh Albert Einstein. Bahwa sebenarnya kecepatan sebuah partikel bisa berbeda tergantung dari mana kita meninjaunya. Seorang penumpang kereta akan mengatakan bahwa orang-orang di luar kereta bergerak sangat cepat, padahal mereka sebenarnya diam. Sebaliknya orang-orang di luar kereta akan mengatakan bahwa penumpang kereta bergerak sangat cepat, padahal penumpang tersebut diam tak bergerak di dalam kereta.


Sumber : http://hdwallpapers4free.com/

***

Bahwa sejatinya waktu yang kita lalui tidaklah berubah. 1 sekon tetaplah 1 sekon sesuai dengan waktu yang dibutuhkan atom cesium-133 untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali. 1 menit tetaplah 60 sekon. 1 jam tetaplah 60 menit dan 1 hari tetaplah 24 jam. Semua tetap sesuai dengan ketentuannya, tidak berkurang dan bertambah sedikit pun.

Namun, mengapa waktu tetap saja terasa lebih cepat?

Pada umumnya, kita akan merasakan waktu berjalan lebih cepat bila kita melakukan hal-hal yang bersifat duniawi secara berlebihan. Bermain game on line, larut dalam rutinitas pekerjaan yang menumpuk atau berlibur ke sebuah tempat wisata.

Satu jam akan terasa sangat cepat, bila kita bermain game on line. Satu hari akan terasa sangat cepat bila hanya untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor. Dan tentu saja satu minggu akan sangat kurang bila hanya untuk sekedar berkeliling dan berlibur di sebuah tempat.

Sebaliknya, untuk hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan akhirat, waktu terasa sangat lambat. Meski normalnya hanya 5 menit yang dibutuhkan untuk membaca 1 halaman Al Quran, namun kita merasa sangat lama untuk membacanya. Begitu pula untuk sholat tarawih berjamaah, sholat jum'at, dan ibadah puasa. Waktu terasa sangat panjang bila dihabiskan untuk beribadah.

Inikah tanda-tanda kiamat yang diriwayatkan oleh Anas RA?

Rasulullah bersabda


"Hari Kiamat tak akan datang kecuali waktu semakin singkat. Penyingkatan ini terjadi sedemikian cara seperti satu tahun yang berlalu seperti sebulan, dan sebulan yang berlalu seperti seminggu, dan seminggu berlalu seperti satu hari dan satu hari yang berlalu seperti satu jam dan satu jam yang berlalu seperti secepat kilat.'' 
(Tirmidhi, Zuhd: 24, 2333).


 Urusan dunia memiliki kecenderungan untuk membuat kita "ketagihan", terus dan terus. Sebaliknya bila berurusan dengan akhirat, kita merasa sangat berat. Oleh karenanya kita tidak boleh lengah, marilah kita manfaatkan waktu yang tersisa dengan cerdas, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ 

(HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)



Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk menghabiskan waktu dengan aktivitas yang sia-sia.
Mari kelilingi diri dengan lingkungan yang selalu mendukung kita untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan. Mari kita sibukkan diri kita dengan aktivitas yang selalu bernilai ibadah. :)



Keep Learning, Keep Growing!!


Referensi.
1. www.ittelkom.ac.id



Minggu, 03 November 2013

Kisah Penebang Kayu


Konon dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang sedang berencana membuka hutan seluas 2 hektar untuk memperluas ibu kotanya. Maka dicarilah tim penebang kayu terhebat seantero negeri. Setelah melakukan pencarian ke sana kemari, didapatlah 2 tim penebang kayu yang siap dibayar untuk membuka hutan dalam waktu singkat.  

Kedua tim diberikan hutan dengan luas wilayah yang sama, masing-masing 1 hektar. Barang siapa yang berhasil membuka hutan paling cepat, akan diberi hadiah atau bonus yang menggiurkan. Alhasil kedua tim saling bersaing sengit untuk beradu cepat dalam menebang pohon dan membuka hutan.

Di minggu pertama, tim 1 berhasil mengungguli tim 2. Mereka sudah berhasil membuka 1/3 dari luas hutan yang harus dibuka. Sedang tim dua hanya berhasil membuka ¼ dari luas hutan yang harus dibuka.

Di minggu kedua dan ketiga, tim 1 mulai menunjukkan penuruan produktivitas. Selama 2 minggu, mereka hanya berhasil menambah 1/3 dari luas hutan. Sedang tim 2 berhasil mempertahankan performanya tiap minggunya. Hingga sampai minggu ketiga mereka berhasil membuka ¾ dari luas hutan yang harus dibuka. Tersisa ¼ lagi dari total luas hutan yang harus dibuka.

Hingga akhirnya, sebelum minggu ke-empat berakhir, tim 2 berhasil menuntaskan pekerjaannya. Semua pohon di hutan seluas 1 hektar berhasil ditebang oleh mereka. Sedang tim 1 yang terus menurun peformanya di akhir minggu ke-4 masih menyisakan lahan seluas 1/6 dari total hutan yang harus dibuka. Alhasil tim 2 berhasil meraih bonus yang dijanjikan oleh kerajaan.

Saat memberikan bonus di depan rakyatnya, Sang Raja yang merasa kagum pun bertanya kepada tim 2, apa yang telah menjadi rahasia mereka hingga berhasil membuka lahan dalam waktu singkat.

Perwakilan tim 2 pun menuturkan rahasia yang tidak dilakukan oleh tim 1. Mereka secara rutin mengasah kapaknya hingga untuk memastikannya tetap tajam saat dipakai. Kecakapan dan ketangkasan dalam menebang pohon memang penting untuk mengejar target. Namun bila tidak didukung dengan kapak yang tajam maka secakap apapun si penebang pohon, hasilnya tetap tidak akan memuaskan.

Inilah yang tidak dilakukan oleh tim 1. Mereka terlalu fokus dalam menebang pohon dan membuka hutan, tanpa mempedulikan kondisi kapak yang mereka pakai. Oleh karenanya, tanpa mereka sadari, produktivitas mereka terus menurun secara perlahan seiring menumpulnya kapak mereka.

 
Sumber : flexmedia.co.id


**
Hal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih sering larut dalam rutinas dan kesibukan untuk mengejar target yang dipatok oleh atasan. Kita terus tenggelam dalam kompetisi untuk terus berlari mencapai hasil yang terbaik. Hari demi hari kita terus bekerja dengan keras tanpa memberikan waktu kepada diri sendiri untuk sejenak istirahat, berintropeksi atau evaluasi diri.

Lingkungan sekitar yang terus berubah juga membuat kita mau tidak mau untuk terus meng-up grade diri. Oleh karenanya, up grading/training yang rutin, silaturahmi/memperluas relasi dan jaringan, hingga hal paling sepele seperti membaca buku-buku di luar bidang pekerjaan kita, akan memperluas wawasan dan meningkatkan daya saing kita.

Pada akhirnya, proses pengembangan diri yang terus dilakukan tanpa henti akan menjadi kunci agar kita bisa tetap survive dan competitive.



Keep Learning, Keep Growing!!

Selasa, 08 Januari 2013

M Penghambat Kesuksesan (Welcoming Note)

Hari ini, tanggal 8 Januari 2012, adalah hari ke 92 sejak saya ditugaskan di kota Tuban.Ironisnya sampai artikel ini dimuat, saya belum pernah sekalipun menulis sejak pertama kali tiba di kota ini.

Tanpa bermaksud mencari pembenaran, selain jam kerja yang  memang berbeda dengan tempat sebelumnya, juga jarak yang cukup jauh dari pusat kota, 25 km. Saya masuk kerja jam 7 pagi dan pulang setelah jam 5 sore. Oleh karenanya, sekitar jam 6 pagi saya sudah siap di tepi jalan menunggu bis jemputan. Sedang sore harinya, pukul 6 lewat saya baru sampai di tempat tinggal..

Sesampainya di kamar kos, godaan kasur yang empuk terlalu susah untuk ditolak. Alhasil saya lebih sering tertidur ketimbang  membaca buku atau menulis. Demikianlah aktivitas saya yang berulang dari hari ke hari.

Ini tantangan saya. Sejak berkomitmen untuk tetap belajar dan mengembangkan diri, akan selalu datang yang disebut rintangan dan godaan. Namun demikian, saya harus bersyukur memiliki teman-teman inspiratif yang masih tetap berhubungan hingga kini. Meski hanya melalui dunia maya, tidak menghalangi kami untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi.

Demikian juga dengan pasangan hidup saya. Dia sosok yang memiliki sisi-sisi hidup yang selalu menginspirasi saya.Sebagai contoh, saat masuk ke kamar pribadinya saya menemukan banyak note kecil inspiratif yang dipasang di sudut kamar. Hingga kemudian saya temukan note yang “menampar” saya.
Berikut saya ketik ulang note tersebut.

“M  Penghambat Kesuksesan”
Malas
  Menunda pekerjaan
Mencari alasan
   Motivasi diri rendah 
 Manja


Bagai tersulut api, semangat saya kembali berkobar. Cukup sudah saya mencari cari alasan dan bermalas-malasan dalam zona nyaman. Meski harus menjalani rutinitas yang melelahkan, pengembangan diri tidak boleh berhenti, motivasi harus tetap tinggi. Manja dan menunda pekerjaan harus segera ditinggalkan.

Seperti kata seorang yang bijak, musuh terbesar bukanlah orang lain, bukan pula godaan setan, namun musuh terbesar adalah diri kita sendiri dan hawa nafsu. Bila kita bisa menaklukannya, maka selebihnya akan tampak lebih mudah. Dalam hal pengembangan diri, sepatutnya kita keras kepada diri sendiri, dengan sendirinya lingkungan akan lunak kepada kita.

Sebagai awal pembuka, inilah postingan saya yang pertama (bismillah, semoga juga bukan juga yang terakhir) di tahun 2013. Selanjutnya saya akan banyak bercerita tentang hal spesial yang baru saja saya alami (marri*d) dan tentu saja resolusi tahun ini.

Selamat berkarya di tahun 2013


Keep learning, Keep Growing!!