Selasa, 31 Oktober 2017
Re-inventing your self!!
Rabu, 13 September 2017
Learning Attitude
Di bangku kuliah, kita terbiasa menyelesaikan permasalahan dalam bentuk soal cerita. Solusi yang dirumuskan pun hanya dalam bentuk jawaban atas pertanyaan soal tersebut. Kalaupun ada penugasan dalam bentuk real project, intensitasnya pun masih jauh lebih sedikit dibanding penugasan dalam bentuk paper work. Berbeda saat masuk di dunia kerja, kedua penugasan baik paper work ataupun field activities (terutama untuk maintenance engineer) memiliki porsi yang sama besar.
Situasi seperti inilah yang menuntut kita untuk gesit dalam belajar. Bisa jadi ilmu yang kita pelajari selama kuliah tidak semuanya terpakai. Namun trick ataupun metode belajar kita selama kuliah akan terus terpakai. Oleh karenanya keterampilan belajar dengan cepat yang dibangun selama di bangku kuliah, akan sangat bermanfaat.
Bila kita selama kuliah kita senang belajar kelompok, maka tidak akan ada kesulitan berarti saat bekerja sama dengan rekan kerja. Bila kita terbiasa membaca textbook, maka tidak akan ada kesulitan berarti saat kita mencari informasi di OEM/manual book. Kalau kita terbiasa mbacem dan mencari teman yang tepat untuk dibacem, maka kita tidak akan panik saat menemui masalah yang belum pernah kita hadapi sebelunya. Karena kita tahu kemana harus bertanya dan mbacem of course.
Bahkan bila kita terbiasa mengerjakan tugas mendekati deadline, h-1 jam sebelum dikumpulkan, maka kita akan terbiasa bekerja di bawah tekanan. Haha (another good side).
*
Well, masih dalam konteks "belajar", kita akan lebih mudah menguasai sebuah persoalan bila kita mampu bekerja sama dengan orang lain. Kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan pihak lain, membaca potensi kawan, dan menggerakan orang untuk bekerja bersama, akan sangat diperlukan di dunia kerja. Karena semakin banyak potensi yang bisa dikolaborasikan, makin besar peluang kita untuk menemukan solusi dalam waktu yang singkat.
Kepada merekalah, rekan kerja yang lebih senior dan junior, kita padukan antara kebijaksanaan dan ambisi.
Learning attitude sebenarnya adalah akumulasi kebiasaan kita dalam belajar yang dimulai sejak kecil hingga kita lulus kuliah. Ini bukan soal bagaimana metode terbaik untuk belajar, karena masing-masing orang memiliki caranya masing-masing. Ini adalah tentang sikap kita sebagai pribadi yang terus memacu diri untuk belajar hingga jatah usia hidup habis.
Belajar bukan hanya perkara memperkaya diri sendiri dengan ilmu, namun bagaimana mengembangkan orang di sekitar kita untuk sama-sama tumbuh. Kita tidak akan pernah menjadi tertinggal hanya karena membantu orang lain untuk tumbuh.
Justru ilmu kita akan bertambah seiring dengan makin banyaknya orang yang mampu kita bantu untuk sama sama belajar. Karena bagaimanapun untuk tumbuh lebih tinggi, kita perlu partner (baik co-partner atau sparring partner) untuk membuat kita terus terpacu untuk bergerak dan belajar lebih jauh di tengah luasnya lautan ilmu.
Minggu, 14 Februari 2016
Essay Prolead ALITS 2016
Jumat, 05 Februari 2016
MU dan Prof Shahab
Saya punya banyak teman dengan idolanya masing-masing dan jauh lebih fanatik daripada saya. Menonton pertandingan, baik secara langsung atau lewat televisi, wajib hukumnya. Koleksi segala pernak-pernik tentang klub adalah hobi yang lumrah. Berita dan gosip adalah buruan utama saat berselancar di dunia maya. Bila bertemu dengan teman yang berbeda idola, berbalas ejekan adalah hal yang biasa. Apalagi kalau tim mereka atau idola mereka baru saja saling berduel dan saling mengalahkan.
Kamis, 07 Januari 2016
Keluar Zona Nyaman atau Memperluas Zona Nyaman?
Sebetulnya, saya baru mulai mengenal rangkaian kata tersebut saat pertama kali merantau di tahun 2006. Terbiasa dengan hidup yang serba "ada" saat bersama keluarga, seketika berubah saat itu. Tak ada orang tua, tak ada sanak famili, hanya saya seorang. Simply no more comfort zone. Itulah masa transisi dalam hidup saya.
Kondisi tidak nyaman ini membuat saya mau tak mau harus terus "bergerak". Persis seperti filosofi orang belajar bersepeda. Kita harus pandai menjaga ritme antara terus mengayuh pedal, menahan laju, dan menjaga keseimbangan as well.
Bermodal habit yang sudah dibangun orang tua sejak kecil. Berbekal segudang nasihat, petuah, dan sedikit "kiriman" dari orang tua. Tidak lupa kemampuan berkomunikasi dan menjalin relasi dengan orang lain. Perpaduan semua itu, membuat saya berani memulai babak baru dalam hidup.
Petualangan itu saya mulai dengan menata ulang aktivitas keseharian. Hal ini tercermin, salah satunya, dengan mencari tempat tinggal (kost) yang dekat dengan tempat ibadah. Kost yang dekat dengan tempat ibadah merupakan tempat yang istimewa. Minimal kita selalu diingatkan untuk sholat wajib 5 waktu. Makin sering berjamaah, makin sering bertemu orang-orang yang istimewa. Terutama karena merawat solat berjamaah.
Selanjutnya membangun "jaringan". Keterampilan untuk membina relasi membuat "lingkaran" saya makin luas. Demi memuluskan pencapaian kesuksesan, saya fokus mengelilingi diri dengan orang-orang yang sejalan dengan tujuan saya. Lingkaran itu saya bangun mulai dari teman-teman satu kampung di rantau, kakak-kakak satu kos, dan tentu saja teman-teman satu kampus. Seiring berjalannya waktu, keikusertaan di beberapa organisasi kemahasiswaan juga menambah luas jaringan yang saya miliki.
Berada di tengah-tengah jaringan yang kondusif, membuat saya seperti berada di sumber energi yang tidak ada habisnya. Setiap interaksi yang terjadi di dalamnya tak lain adalah proses saling menginspirasi dan saling menguatkan. Hingga kecil kemungkinan saya terjebak dalam kubangan "kegalauan" yang berlarut-larut.
Slow but sure, jaringan ini membawa saya ke dalam sebuah zona nyaman yang baru. Sama halnya dengan sebagian besar teman saya yang merantau. Kita sama-sama keluar dari zona nyaman pada awalnya. Kemudian dengan proses adaptasi yang tidak mudah, ada yang berhasil menemukan zona nyaman yaang baru, ada pula yang gagal membangun zona nyamannya. Karena yang diperlukan bukan hanya keberanian untuk keluar dadi zona nyaman. Tapi kemampuan untuk membuat zona nyaman baru.
Pada akhirnya, bukan "keluar dari zona nyaman"-lah yang menjadi tujuan akhir. Namun kegigihan untuk terus berjuang "memperluas zona nyaman"-lah yang akan membawa kita berprestasi dalam level yang lebih tinggi lagi.
Keep Learning, Keep Growing!!
Sabtu, 02 Januari 2016
Pria Bule Berkaos Mettalica Itu...
Jumat 1 Januari 2016.
Hari ini saya ada janji dengan seorang teman lama. Seusai sholat jumat, saya meluncur dari masjid manarul ilmi ITS menuju sebuah minimarket di depan kampus UPN Surabaya. Saya hubungi teman tsb dan menunggu di dalam mobil.
Saat sedang menunggu di mobil, saya melihat dari kejauhan seorang pria bule berkaos hitam sedang asyik minum di dalam kedai minimarket. Pria tsb tak terlalu jelas dari luar.
Saya sedang membuka HP ketika istri saya kemudian bergumam "Wah bulenya pake kaos Mettalica tapi celananya nyunnah (diatas mata kaki)".Saya baru benar-benar tertarik (kepo) utk lihat ke arah si bule ketika istri saya kembali bergumam. "Wah istrinya (si bule) pake jilbab syari' (jilbab lebar).
Kali ini saya benar2 terkejut. Awalnya tak ada yg istimewa dari si bule. Typical bule seperti boss saya dulu. Berambut pirang. Berbadan tinggi. Hobi memakai kaos rock (Mettallica).
Saya dan istri benar2 kaget (sekaligus kagum). Kami melihat dia keluar dari minimarket bersama istrinya (dari wajahnya, org Indonesia) dengan busana Islami (bahkan mgkn lbh Islami dibanding kami). Dengan beberapa bekas tatto yg masih terlihat di tangannya, besar kemungkinan si bule adalah seorang mualaf.
Alhamdulillah, Allah ingatkan saya satu pelajaran yg sangat berharga melalui si bule. Ini pelajaran tentang bagaimana penampilan luar membangun image.
Sebagian org mengatakan "dont judge the book from its cover". Saya sepakat bahwa seringkali kita tidak bisa menilai semua hal ttg seseorang hanya dari penampilan luar. Awalnya, hanya karena si bule memakai berkaos metallica, kami mengira beliau cuma bule biasa.
Di sisi lain, kita tidak bisa memungkiri bahwa persepsi dibangun dalam 20 detik pertama (atau bahkan kurang). Inilah letak challenge kita.
Saya setuju bahwa akhlak, aqidah, dan nilai ibadah kita, tak akan pernah dapat dinilai hanya dari pakaian. Tapi, dari cara kita berpakaian, kita bisa mensyiarkan keislaman kita.
Selain mengikuti sunnah rasul, berpakaian yg Islami adalah upaya kita yang plg mudah untuk memasyaratkan dan membangun image yang baik tentang Islam, sekaligus menepis image buruk yang selama ini banyak mengarah ke Islam.
Last but not least. Bila benar beliau adalah seorang mualaf, teriring doa dari saya supaya beliau beserta keluarganya terus istiqomah dalam memegang ajaran Islam.
Dan untuk kita yang lebih dulu memeluk dien ini, terucap doa supaya kita tak kalah semangat dari saudara kita yg mualaf dalam meningkatkan iman dan mengikuti sunnah2 Rasul.
Keep Learning, Keep Growing!!
Selasa, 14 April 2015
One Week One Paper, Gardu Energi Yang Selama Ini Kami Cari
Sama seperti yang saya pahami dengan hukum energi. Bahwa energi akan mengalir dari potensial energy tinggi ke potensial energi yang lebih rendah. Persis dengan semangat. Kita perlu mendekat atau bergabung dalam komunitas yang berisi orang-orang yang memiliki semangat tinggi supaya kita bisa tetap terus semangat. Setidaknya ada tangan-tangan yang akan membantu kita bangkit saat kita terjatuh.
Komunitas ini memiliki 3 agenda rutin tiap minggunya, selain setor artikel. Senin malam kita ada “Narasi Bebas”. Salah seorang akan upload sebuah gambar di grup, lalu dalam waktu yang terbatas kita berlomba-loma membuat narasi bebas dari gambar tersebut. Ini mengingatkan saya saat masih tergabung di Teater Kretta. Kita terbiasa berpikir keras di sempitnya waktu untuk membuat sebuah pementasan.
Lain lagi di Selasa malam. OWOP memiliki thematic challenge. Salah seorang akan menyampaikan sebuah challenge, biasanya membuat sebuah karya sastra berdasarkan topik yag telah ditentukan. Bagi karya yang terbaik akan mendapakatkan hadiah ekslusif.
Lalu di Jumat malam, kita ada agenda sharing bersama penulis. Ini adalah sesi dimana kita kedatangan tamu yang bisa kita gali ilmu dan pengalamannya. Agenda-agenda ini membuat kita terus semangat yang seringkali
Itulah alasan kami berdua (saya dan istri) untuk bergabung dalam komunitas One Week One Paper (OWOP). Sebuah komunitas lintas usia, lintas kota, namun berisi orang yang memiliki kesamaan semangat dan passion, menulis.
Kami belumlah mahir dalam tulis menulis. Kami hanyalah dua insan yang masih terus belajar sembari meyelipkan inspirasi di tengah susunan kata yang kami rangkai dalam sebuah tulisan.
Tertarik bergabung di OWOP? Langsung saya kunjungi situsnya www.oneweekonepaper.com
Mari bersama berkumpul, menyatukan semangat, mengalirkan energi, dan melahirkan karya.
"Sederhana dalam hidup, Kaya dalam Karya". (Sheila on 7)
Keep Writing, Keep Growing!!
Kamis, 26 Maret 2015
Kisah Seorang Pemuda Kaya dan Pakaiannya
Rabu, 20 Agustus 2014
6 Pertanyaan Imam Al Ghozali kepada Muridnya
Selasa, 04 Februari 2014
Anomali Waktu (Semakin hari, waktu terasa makin singkat)
*
Bila kita mengingat kembali materi fisika yang diajarkan di SMP tentang besaran pokok. Kita akan menemukan bahwa salah satu yang termasuk besaran pokok adalah "waktu". Besaran "waktu" tidak diturunkan dari besaran-besaran lainnya, melainkan berdiri sendiri. Hal ini dikarenakan satuan "waktu", 1 sekon, memiliki standard yang tetap dalam menentukan besar 1 sekon.
Mulanya, 1 sekon ditetapkan sama dengan 1/86400 rata-rata gerak semu matahari dalam mengelilingi Bumi. Namun, dalam perkembangannnya, metode ini dinilai kurang tepat akibat adanya pergeseran. Hingga akhirnya, pada tahun 1956, ditetapkan bahwa 1 sekon adalah waktu yang dibutuhkan atom cesium-133 untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali.
**
Kemudian bila kita melihat contoh sederhana dari hukum relativitas yang dipopulerkan oleh Albert Einstein. Bahwa sebenarnya kecepatan sebuah partikel bisa berbeda tergantung dari mana kita meninjaunya. Seorang penumpang kereta akan mengatakan bahwa orang-orang di luar kereta bergerak sangat cepat, padahal mereka sebenarnya diam. Sebaliknya orang-orang di luar kereta akan mengatakan bahwa penumpang kereta bergerak sangat cepat, padahal penumpang tersebut diam tak bergerak di dalam kereta.
![]() |
| Sumber : http://hdwallpapers4free.com/ |
***
Bahwa sejatinya waktu yang kita lalui tidaklah berubah. 1 sekon tetaplah 1 sekon sesuai dengan waktu yang dibutuhkan atom cesium-133 untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali. 1 menit tetaplah 60 sekon. 1 jam tetaplah 60 menit dan 1 hari tetaplah 24 jam. Semua tetap sesuai dengan ketentuannya, tidak berkurang dan bertambah sedikit pun.
Namun, mengapa waktu tetap saja terasa lebih cepat?
Pada umumnya, kita akan merasakan waktu berjalan lebih cepat bila kita melakukan hal-hal yang bersifat duniawi secara berlebihan. Bermain game on line, larut dalam rutinitas pekerjaan yang menumpuk atau berlibur ke sebuah tempat wisata.
Satu jam akan terasa sangat cepat, bila kita bermain game on line. Satu hari akan terasa sangat cepat bila hanya untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor. Dan tentu saja satu minggu akan sangat kurang bila hanya untuk sekedar berkeliling dan berlibur di sebuah tempat.
Sebaliknya, untuk hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan akhirat, waktu terasa sangat lambat. Meski normalnya hanya 5 menit yang dibutuhkan untuk membaca 1 halaman Al Quran, namun kita merasa sangat lama untuk membacanya. Begitu pula untuk sholat tarawih berjamaah, sholat jum'at, dan ibadah puasa. Waktu terasa sangat panjang bila dihabiskan untuk beribadah.
Inikah tanda-tanda kiamat yang diriwayatkan oleh Anas RA?
Rasulullah bersabda :
Urusan dunia memiliki kecenderungan untuk membuat kita "ketagihan", terus dan terus. Sebaliknya bila berurusan dengan akhirat, kita merasa sangat berat. Oleh karenanya kita tidak boleh lengah, marilah kita manfaatkan waktu yang tersisa dengan cerdas, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk menghabiskan waktu dengan aktivitas yang sia-sia.
Mari kelilingi diri dengan lingkungan yang selalu mendukung kita untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan. Mari kita sibukkan diri kita dengan aktivitas yang selalu bernilai ibadah. :)
Keep Learning, Keep Growing!!
Referensi.
1. www.ittelkom.ac.id
Minggu, 03 November 2013
Kisah Penebang Kayu
Konon dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang sedang berencana membuka hutan seluas 2 hektar untuk memperluas ibu kotanya. Maka dicarilah tim penebang kayu terhebat seantero negeri. Setelah melakukan pencarian ke sana kemari, didapatlah 2 tim penebang kayu yang siap dibayar untuk membuka hutan dalam waktu singkat.
Kedua tim diberikan hutan dengan luas wilayah yang sama, masing-masing 1 hektar. Barang siapa yang berhasil membuka hutan paling cepat, akan diberi hadiah atau bonus yang menggiurkan. Alhasil kedua tim saling bersaing sengit untuk beradu cepat dalam menebang pohon dan membuka hutan.
Di minggu pertama, tim 1 berhasil mengungguli tim 2. Mereka sudah berhasil membuka 1/3 dari luas hutan yang harus dibuka. Sedang tim dua hanya berhasil membuka ¼ dari luas hutan yang harus dibuka.
Di minggu kedua dan ketiga, tim 1 mulai menunjukkan penuruan produktivitas. Selama 2 minggu, mereka hanya berhasil menambah 1/3 dari luas hutan. Sedang tim 2 berhasil mempertahankan performanya tiap minggunya. Hingga sampai minggu ketiga mereka berhasil membuka ¾ dari luas hutan yang harus dibuka. Tersisa ¼ lagi dari total luas hutan yang harus dibuka.
Hingga akhirnya, sebelum minggu ke-empat berakhir, tim 2 berhasil menuntaskan pekerjaannya. Semua pohon di hutan seluas 1 hektar berhasil ditebang oleh mereka. Sedang tim 1 yang terus menurun peformanya di akhir minggu ke-4 masih menyisakan lahan seluas 1/6 dari total hutan yang harus dibuka. Alhasil tim 2 berhasil meraih bonus yang dijanjikan oleh kerajaan.
Saat memberikan bonus di depan rakyatnya, Sang Raja yang merasa kagum pun bertanya kepada tim 2, apa yang telah menjadi rahasia mereka hingga berhasil membuka lahan dalam waktu singkat.
Perwakilan tim 2 pun menuturkan rahasia yang tidak dilakukan oleh tim 1. Mereka secara rutin mengasah kapaknya hingga untuk memastikannya tetap tajam saat dipakai. Kecakapan dan ketangkasan dalam menebang pohon memang penting untuk mengejar target. Namun bila tidak didukung dengan kapak yang tajam maka secakap apapun si penebang pohon, hasilnya tetap tidak akan memuaskan.
Inilah yang tidak dilakukan oleh tim 1. Mereka terlalu fokus dalam menebang pohon dan membuka hutan, tanpa mempedulikan kondisi kapak yang mereka pakai. Oleh karenanya, tanpa mereka sadari, produktivitas mereka terus menurun secara perlahan seiring menumpulnya kapak mereka.
![]() |
| Sumber : flexmedia.co.id |
**
Hal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih sering larut dalam rutinas dan kesibukan untuk mengejar target yang dipatok oleh atasan. Kita terus tenggelam dalam kompetisi untuk terus berlari mencapai hasil yang terbaik. Hari demi hari kita terus bekerja dengan keras tanpa memberikan waktu kepada diri sendiri untuk sejenak istirahat, berintropeksi atau evaluasi diri.
Lingkungan sekitar yang terus berubah juga membuat kita mau tidak mau untuk terus meng-up grade diri. Oleh karenanya, up grading/training yang rutin, silaturahmi/memperluas relasi dan jaringan, hingga hal paling sepele seperti membaca buku-buku di luar bidang pekerjaan kita, akan memperluas wawasan dan meningkatkan daya saing kita.
Pada akhirnya, proses pengembangan diri yang terus dilakukan tanpa henti akan menjadi kunci agar kita bisa tetap survive dan competitive.
Keep Learning, Keep Growing!!


