Senin, 06 Februari 2012

Ketika Waktu Berlari Sangat Cepat

“Bila kau ingin tahu apa artinya waktu 1 tahun, tanyakan pada siswa yang tidak naik kelas.
Bila kau ingin tahu makna 1 semester, tanyakan pada seorang mahasiswa yang molor lulus.
Makna 1 bulan, tanyalah kepada ibu yang melahirkan premature.
Makna 1 minggu, tanyalah seorang editor majalah mingguan.
Makna 1 hari, tanyalah seorang yang bekerja dengan upah harian.
Makna 1 jam, tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya.

Kemudian, makna 1 menit, tanyalah seorang yang baru saja ketinggalan kereta.
Bila kau ingin tahu apa artinya waktu 1 detik, tanyakan pada atlet lari 100 meter yang baru menjadi runner up. Atau jika kau ingin tahu tentang makna waktu dan hidup, tanyakan pada orang yang akan dihukum mati esok hari.”
(Anonymous)

Terhitung sejak melangkah ke dunia kerja, saya merasakan betapa hidup terasa sangat cepat. Baru kemarin rasanya saya melakukan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan selama SMA. Mulai dari aneka kegiatan OSIS, teater Kretta, Vistara*, dan sebagainya.

Belum hilang betul ingatan tentang detail kehidupan semasa SMA, saya harus sudah merantau ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan. Tak disangka, di kota ini saya menorehkan banyak cerita yang sulit untuk dilupakan. Mulai dari kehidupan kampus Mesin yang keras, unik, solid, uber allez, dan tetek bengeknya, pengalaman hidup yang sangat berharga semasa di Kopma dr.Angka ITS, hingga pengalaman diliput langsung oleh Korlip ITS On Line.

Hidup pun terus berputar dan tak terasa usia saya mulai melangkah ke usia 24 tahun. Setelah sukses menanggalkan seragam SMA dan melanjutkan ke jenjang kuliah. Kemudian beralih dari status mahasiswa menjadi karyawan, tak lama lagi status bujang pun berganti ke status kawin/menikah. Semuanya terasa sangat cepat.

Hal ini membuat saya terus berpikir betapa singkatnya jarak antara satu fase kehidupan dengan fase hidup lainnya. Kemudian saya pun menyadari betapa semakin hari saya semakin dekat kematian. 

Beberapa hari terakhir saya banyak diingatkan dengan kematian. Pertama, saat saya sedang asyik berkeliling pabrik, HP saya berdering tanda sebuah pesan masuk. Berita duka tentang kematian seorang guru bahasa Inggris PT.Holcim Indonesia, Bu Nuzee. Beliau adalah guru bahasa Inggris bagi kami peserta program GDP. Rasanya baru minggu kemarin beliau mengisi English Session dengan segar dan bugar. Justru saat itu saya lah yang lemas karena sakit. Tidak diduga beberapa hari kemudian beliau-lah yang menghembuskan nafas terakhir.

Kedua, siang kemarin saya mendapatkan kabar duka langsung dari Ibu. Seorang saudara  dekat(adik dari alm.nenek saya) meninggal setelah sholat Dzuhur, Mbah Roh. Rasanya baru kemarin saya dan keluarga saya silaturahmi ke kediaman beliau. Kini beliau pun telah pergi mendahului kami (semoga Alloh menerima segala amal ibadahnya).

Waktu bisa terasa cepat, bisa terasa sangat lama. Semua tergantung bagaimana kita mensikapinya. Namun yang pasti, meski terbilang cepat atau lama, kita tidak akan pernah tahu kapan semuanya berakhir. Bisa hari ini, esok, atau lusa. Dan saya yakin, tepat sesaat setelah kita meninggal, kita akan menyadari betapa waktu yang dilewati sangat singkat dan cepat.

Semoga berita duka tersebut bisa menjadi reminder bagi saya dan kita semua untuk terus mengingat kematian. Hingga umur yang tersisa bisa benar-benar dimanfaatkan untuk memperbanyak bekal untuk dibawa ke alam selanjutnya. Bismillah, semoga apa yang kita lakukan hari ini bisa tercatat sebagai amal ibadah. 


Keep Learning, Keep Growing!!
*Vistara : Klub Seni Rupa SMA 1 Cilacap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar