Tampilkan postingan dengan label Inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiration. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2019

Cerita Pasca Menikah : Me-manage Me Time

Me time. Sebuah kesempatan  untuk melakukan aktivitas yang disukai. Bisa bentuknya hobby bersama teman, atau aktivitas sendiri yang bisa memfasilitasi aktualisasi diri.

Sebenarnya baru mengenal istilah ini dari istri saya. Walaupun saya telah mempraktikannya sejak sekolah. Saya biasanya me time dalam bentuk bermain sepakbola/futsal atau mengikuti  kegiatan organisasi.

Setelah menikah, memang tidak seleluasa seperti sebelumnya. Ada hati yang harus dijaga  agar manajemen waktu bisa seimbang. Karena terlalu banyak me time pun justru akan membuat kita nampak egois.

Jalan tengahnya, kita membuat kesepakatan. Kita saling berbagi waktu berapa lama dalam seminggu yang bisa digunakan untuk me time. Atau sesekali saya ajak untuk ikut saya me time, lihat saya main futsal misal. Though it doesn't always work. Karena saya lebih sering dibully daripada dipuji olehnya. Sigh.

Nah, setelah lahir anak pertama variabelnya makin bertambah. Kini ada 2 sosok yang harus "diopeni". Makin challenging. Lahir anak kedua. Wow double combo. Maka skala prioritaskan kita terapkan di semua aktivitas.

Aktivitas yang tidak terlalu memberi added value digeser dulu. Aktivitas yang bisa didelegasikan, ya dicarikan orang lain untuk dikerjakan. Hobi yang menyita waktu dan tidak bisa "disambi", ya dikurangi. Apalagi yang menguras doku. Stop.

Sebaliknya aktivitas yang bisa dilakukan bersama sama, diperbanyak dan dirutinkan. Karena aktivitas seperti ini bisa menambah bounding, selain bisa melepas penat.

Misal berkebun dan cuci mobil bersama, atau main bola berdua, even kita ke masjid bersama saya manfaatkan untuk momen me time bersama anak, sambil kita bercerita atau memasukkan value-value keislaman.

Bahkan saya beberapa kali manfaatkan cuti untuk me time dengan keluarga di rumah. Seperti halnya awal minggu ini. Saya bergantian dengan istri untuk me time dengan anak. Karena anak saya sekarang dua, maka kami bergiliran jaga satu dan lainnya.

We made a list of any activities which cover must do, fun, simple, and of course enhance the bounding. We went to market, car free day, florist, our new friend cafe and resto (tropicana green).

Sedangkan di rumah, saya dan anak pertama refurbish sepeda roda tiga yang sudah 2 tahun tidak dipakai agar bisa dinaiki si bungsu. Lalu kita keliling di sore hari bertiga bersama.

Istri saya pun menyempatkan hampir setengah hari hanya bersama si sulung, karena selama ini dirasa lebih banyak menghabiskan waktu dengan si bungsu. Maka diajaklah si sulung berkeliling dari toko donat hingga reflexy massage. Sementara saya bersama si bungsu di rumah. Every body was happy.

As a couple we need to keep supporting each other, should get better everyday. As a parent we need to take care the children full heartedly. The at the end we elevate our value of "me time", since our family time is now our new me time.

Keep Learning, Keep Growing!!

Sabtu, 22 Juni 2019

Cerita Pasca Menikah : Malam Minggu Yang Lama Takkan Terulang

Istri saya mengandung anak pertama saat usia pernikahan menginjak kira kira 8 bulan. Saat itu, kami masih bisa menikmati momen momen malam minggu dengan santai di tempat makan, jalan-jalan ke mall, dan aktivitas lainnya as a couple.

Kemudian setelah lahir anak pertama, maka saat itulah kami menghabiskan banyak waktu tak lagi berdua, namun bertiga.

Maka tak banyak momen-momen seperti sebelumnya. Tak ada ceritanya duduk duduk santai menikmati kopi atau nongkrong. Tak ada lagi cerita berduaan ke sana ke mari dengan santai.

Situasi berubah menjadi "momong" anywhere-anytime. Beragam scene yang diwarnai dengan tangisan, rengekan, ngamukan khas anak kecil, aksi "pethakilan" tingkat dewa, umek tak berujung, tantrum tak berkesudahan, kita sudah kenyang! Belum lagi bila drama melibatkan anak lain ataupun orang tuanya. Complete! hehe.

Well, inilah fase yang harus kita lewati as a couple. Fase yang berawal dari mengandung, lanjut menggendong, lalu mengandung lagi sambil menggandeng yang besar, dan seterusnya hingga pada akhirnya mereka tumbuh dewasa.

This is phase which makes us as couple to learn by ourselves, since there was not set up yet at our formal education curriculum. We need to learn by sharing w/others, reading many books, googling, and of course by DOING.

This is a phase which I'm sure no body wants to fail. All of us want to see they grow. We don't want to miss this moment. A moment that only come once a life. Tidak akan pernah terulang. Karena semakin lama anak akan semakin besar dan dewasa, sementara kita di waktu yang sama makin tua dan lemah.

Inilah fase dimana banyak pengorbanan dan energi diperlukan. Oleh karenanya, pengingat untuk kita dan saya (terutama), untuk selalu sabar,sabar, dan sabar. Karena kita selalu berharap padaNya agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa.

رَبَّنَا هَبۡ لَـنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعۡيُنٍ وَّاجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِيۡنَ اِمَامًا‏

[Our Lord! Grant us that our spouses and our offspring be a joy to our eyes,and do make us the leaders of the God-fearing. Al Furqan-74]

Keep Learning, Keep Growing!

Minggu, 26 Agustus 2018

Adapt and Learn

Di awal masa kerja, saya memiliki seorang teman dekat. Sebut saja Bang Bokir. Kami memiliki latar belakang yang tidak jauh berbeda, baik itu pendidikan, pola pikir, bidang kerja, dan ketertarikan terhadap ilmu agama. Singkatnya, kami didekatkan karena banyak hal dan karenanya kami terbiasa ngobrol dan diskusi segala hal, mulai dari pekerjaan, hobi, dan keluarga.

Suatu hari beliau bercerita pada saya sebuah fase yang (mungkin) banyak terjadi di teman-teman yang memasuki masa kerja 5 hingga 7 tahun. Fase dimana umumnya, seorang lulusan sarjana sudah memiliki posisi yang lumayan baik dari segi ekonomi maupun pekerjaan. Dari segi keilmuan sudah tidak bisa dibilang fresh grad, namun dibilang experience pun tidak bisa semua dibilang senior, tergantung bidang yang digeluti.

Pada fase ini umumnya kita mulai melihat teman-teman sekampus yang melaju lebih jauh atau menanjak lebih tinggi. Menariknya, fenomena ini tidak memiliki korelasi sebanding dimana teman yang prestasi kuliahnya jauh lebih baik akan menjamin karirnya pun lebih baik. Sebagaimana korelasi regangan tegangan pada daerah elastis suatu benda kerja.

Karena selepas lulus, semua memiliki titik awal yang sama untuk sukses di tempatnya masing-masing. Tempat kerja tentu saja akan berbeda, karena seusai kuliah bekal yang dibawa untuk mendapatkan pekerjaan praktis hanya nilai IPK dan kepribadian. Pengalaman? Saya yakin pengalaman terbesar selain keterampilan berorganisasi, adalah menyelesaikan tugas kuliah dan ujian, baik tugas akhir maupun ujian semester.

Jadi tidak akan mengherankan bila kemudian muncul teman-teman yang semasa kuliah dulu dikenal biasa saja, namun di masa kerja yang sama sudah memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak. Dibanding saya, banyak sekali teman-teman di luar sana yang melaju  di depan saya.

Saya pernah terlibat di cement plant greenfield project. Tapi di seberang ujung timur Indonesia sana, ada teman saya sudah terlibat jauh di Tangguh LNG project. Saya pernah diutus untuk mengikuti kursus singkat di luar negeri, tapi di negeri matahari terbit sana, ada dua teman saya yang sedang menjalani penugasan dari perusahaannya untuk disekolahkan lagi. Salah satu darinya adalah teman yang sering telat bareng dan lupa naruh HP di warkop. Belum lagi yang di belahan benua sebelah, ada banyak teman yang sudah dan sedang mengejar master degree-nya. Ada seorang yang kala di asrama dulu tertinggal di bahasa Inggris, bahkan kelulusannya tertunda karena TOEFL, kini dia sedang menyelesaikan program doctoral-nya di negeri asal Doraemon.

Saya pernah diutus pula beberapa hari untuk business trip di luar negeri, sementara itu seorang teman teater saya sudah beberapa minggu ini keliling eropa untuk business trip. Saat ini saya mendapat penempatan sebagai maintenance mechanical engineer  di sebuah perusahaan semen, sementara di sudut kota Mojokerto gerombolan teman-teman saya yang ketika kuliah lebih banyak di bengkel ketimbang di laboratorium, justru sedang sibuk membesarkan perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang manufaktur dan rekayasa industri. Mereka melakukan riset dan produksi mesin dengan sentuhan khas mereka, Mekatronika.

Dalam kesehariannya, saya sering melakukan improvement study  untuk meningkatkan performa mesin, di saat yang sama di kota pahlawan terdapatlah seorang teman saya yang ketika kuliah lebih sering memberikan privat les untuk memenuhi  kebutuhan kuliah, kini sering menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan proyek studi berkelas nasional.

Hingga kini, saya masih tertatih-tatih untuk istiqomah menulis blog, sementara di saat yang sama teman satu dosen wali, teman yang pernah sama-sama masuk buku 25 mahasiswa inspiratif, kini sudah hidup dengan menulis dan menerbitkan buku-buku inspiratif. Dia Ahmad Rifa'i.

**
Well pada akhirnya kita mesti sadari bahwa kita hidup dengan garis edar masing-masing, dimana kesuksesan kita tidak selalu apple to apple dengan yang lain. Sama halnya membandingkan Presiden Trump dan Presiden Obama, dimana diantara keduanya meraih kursi presiden di saat usia yang berbeda. Presiden Trump berusia 71 tahun, sementara Obama 38 tahun. Namun bukan berarti yang satu otomatis lebih baik dibanding yang lain, karena mereka berdua memiliki milestone-nya masing-masing.

Kita memiliki medan juang dan tantangan yang unik dibanding satu sama lain. Meski demikian selalu ada ruang untuk kita terus beradaptasi dan belajar agar tetap mampu bersaing dan berprestasi di lajur kita masing-masing.

Karena kita, menurut Bang Bokir, memiliki kemampuan adapt and learn.


Keep Learning, Keep Growing!!

Sabtu, 02 Januari 2016

Pria Bule Berkaos Mettalica Itu...

Jumat 1 Januari 2016.

Hari ini saya ada janji dengan seorang teman lama. Seusai sholat jumat, saya meluncur dari masjid manarul ilmi ITS menuju sebuah minimarket di depan kampus UPN Surabaya. Saya hubungi teman tsb dan menunggu di dalam mobil.

Saat sedang menunggu di mobil, saya melihat dari kejauhan seorang pria bule berkaos hitam sedang asyik minum di dalam kedai minimarket. Pria tsb tak terlalu jelas dari luar.

Saya sedang membuka HP ketika istri saya kemudian bergumam "Wah bulenya pake kaos Mettalica tapi celananya nyunnah (diatas mata kaki)".Saya baru benar-benar tertarik (kepo) utk lihat ke arah si bule ketika istri saya kembali bergumam. "Wah istrinya (si bule) pake jilbab syari' (jilbab lebar).

Kali ini saya benar2 terkejut. Awalnya tak ada yg istimewa dari si bule. Typical bule seperti boss saya dulu. Berambut pirang. Berbadan tinggi. Hobi memakai kaos rock (Mettallica).

Saya dan istri benar2 kaget (sekaligus kagum). Kami melihat dia keluar dari minimarket bersama istrinya (dari wajahnya, org Indonesia) dengan busana Islami (bahkan mgkn lbh Islami dibanding kami). Dengan beberapa bekas tatto yg masih terlihat di tangannya, besar kemungkinan si bule adalah seorang mualaf.

Alhamdulillah, Allah ingatkan saya satu pelajaran yg sangat berharga melalui  si bule. Ini pelajaran tentang bagaimana penampilan luar membangun image.

Sebagian org mengatakan "dont judge the book from its cover". Saya sepakat bahwa seringkali kita tidak bisa menilai semua hal ttg seseorang hanya dari penampilan luar. Awalnya, hanya karena si bule memakai berkaos metallica, kami mengira beliau cuma bule biasa.

Di sisi lain, kita tidak bisa memungkiri bahwa persepsi dibangun dalam 20 detik pertama (atau bahkan kurang). Inilah letak challenge kita.

Saya setuju bahwa akhlak, aqidah, dan nilai ibadah kita, tak akan pernah dapat dinilai hanya dari pakaian. Tapi, dari cara kita berpakaian, kita bisa mensyiarkan keislaman kita.

Selain mengikuti sunnah rasul, berpakaian yg Islami adalah upaya kita yang plg mudah untuk memasyaratkan dan membangun image yang baik tentang Islam, sekaligus menepis image buruk yang selama ini banyak mengarah ke Islam.

Last but not least. Bila benar beliau adalah seorang mualaf, teriring doa dari saya supaya beliau beserta keluarganya terus istiqomah dalam memegang ajaran Islam.

Dan untuk kita yang lebih dulu memeluk dien ini, terucap doa supaya kita tak kalah semangat dari saudara kita yg mualaf dalam meningkatkan iman dan mengikuti sunnah2 Rasul.

Keep Learning, Keep Growing!!

Kamis, 26 Maret 2015

Kisah Seorang Pemuda Kaya dan Pakaiannya

Konon di sebuah negeri terdapatlah seorang pemuda yang sangat ulet. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun membawanya tumbuh menjadi  seorang pengusaha yang kaya raya. Kekayaannya meliputi tanah perkebunan, lahan pertanian hingga beberapa peternakan. Tak cukup disitu, kekayaan yang melimpah telah membuat masyarakat sekitar sangat hormat kepadanya.

Hingga pada suatu hari tersiar kabar Sang Raja di negeri tersebut bermaksud menggelar sebuah pesta untuk orang-orang terdekatnya. Pesta itu akan digelar di istana kerajaan selama dua hari dua malam dan pemuda tersebut menjadi salah satu orang yang diundang Sang Raja.

Hingga waktunya tiba, sang pemuda kaya pun datang memenuhi undangan tersebut.

Pada hari pertama dia datang ke pesta dengan menngunakan pakaian terbaik yang dia punya. Mulai dari sepatu, celana hingga baju, semuanya terbuat dari bahan dan model terbaik di eranya. Sesampainya di pintu masuk istana dia pun disambut bak tamu agung oleh para pengawal.
Malam itu dia juga suskes menyihir para tamu undangan. Selama pesta berlangsung tak sedikit orang-orang yang mengerumuninya.

Sedang di hari kedua dia mengubah penampilannya. Dia mengganti pakaian terbaiknya dengan pakaian yang sederhana layaknya rakyat kecil kebanyakan. Tak nampak lagi hal istimewa seperti malam sebelumnya.

Alhasil dia pun diusir oleh pengawal istana saat hendak memasuki istana. Jangankan masuk ke dalam istana, mendekati pintu masuk pun dia dilarang. Tak ada lagi sorot mata yang memandangi dirinya.

Pada saat itulah dia berpikir, bila  memang yang dinilai adalah pakaianku, mengapa aku harus senang dan bangga. Sebaliknya, bila yang dihina bukan diriku melainkan pakaianku, mengapa aku pun harus bersedih dan berkecil hati?

**
Jika kita begitu dihormati dan disanjung  oleh kebanyakan orang, tidak perlu kita terlalu bangga atau senang.  Sebaliknya bila kita dihina dan dicaci janganlah kita terlalu bersedih. Belum tentu yang dilihat dan dinilai oleh orang lain selalu benar. Karena tidak semua yang kita miliki harus terlihat oleh orang lain.

Cukuplah pujian dan cacian dijadikan renungan untuk terus selalu memperbaiki diri. Bukankah Sang Khalik pun  menilai kita bukan dari harta atau jabatan yang kita miliki, melainkan semata-mata dari keimanan dan ketakwaan.

Semoga kita selalu terjaga dari berbagai penyakit hati, saling mengingatkan dan selalu semangat untuk terus berlomba-lomba mengumpulkan kebaikan. 

Semata-mata untuk mendapat ridlo-Nya.



Keep Learning Keep Growing!!




Rabu, 20 Agustus 2014

6 Pertanyaan Imam Al Ghozali kepada Muridnya

Pagi ini saya mendapat broadcast di grup whatsapp yang cukup menarik perhatian saya. Semoga bermanfaat.

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. 

Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. 

Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"
Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. 

Tapi yang paling benar adalah "Masa lalu"Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. 

Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A'Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Iimam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72). 

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. 

Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "Meninggalkan Sholat"

Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat. 

Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukaiperasaan saudaranya sendiri.


Semoga kisah di atas bisa menginspirasi kita untuk terus instropeksi diri dan saling mengingatkan dalam kebaikan.


Keep Learning, Keep Growing!!

Selasa, 04 Februari 2014

Anomali Waktu (Semakin hari, waktu terasa makin singkat)

Beberapa tahun belakangan ini, terutama semenjak memasuki dunia kerja, waktu terasa lebih cepat. Rasanya baru kemarin mengawali aktivitas di hari Senin, tanpa terasa hari Juma't sudah tiba. Satu minggu serasa seperti satu hari. Satu bulan terasa seperti satu minggu, dan akhirnya satu tahun akan terasa seperti satu bulan.

*
Bila kita mengingat kembali materi fisika yang diajarkan di SMP tentang besaran pokok. Kita akan menemukan bahwa salah satu yang termasuk besaran pokok adalah "waktu". Besaran "waktu" tidak diturunkan dari besaran-besaran lainnya, melainkan berdiri sendiri. Hal ini dikarenakan satuan "waktu", 1 sekon,  memiliki standard yang tetap dalam menentukan besar 1 sekon.

Mulanya, 1 sekon ditetapkan sama dengan 1/86400 rata-rata gerak semu matahari dalam mengelilingi Bumi. Namun, dalam perkembangannnya, metode ini dinilai kurang tepat akibat adanya pergeseran. Hingga akhirnya, pada tahun 1956, ditetapkan bahwa 1 sekon adalah waktu yang dibutuhkan atom cesium-133 untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali.

**
Kemudian bila kita melihat contoh sederhana dari hukum relativitas yang dipopulerkan oleh Albert Einstein. Bahwa sebenarnya kecepatan sebuah partikel bisa berbeda tergantung dari mana kita meninjaunya. Seorang penumpang kereta akan mengatakan bahwa orang-orang di luar kereta bergerak sangat cepat, padahal mereka sebenarnya diam. Sebaliknya orang-orang di luar kereta akan mengatakan bahwa penumpang kereta bergerak sangat cepat, padahal penumpang tersebut diam tak bergerak di dalam kereta.


Sumber : http://hdwallpapers4free.com/

***

Bahwa sejatinya waktu yang kita lalui tidaklah berubah. 1 sekon tetaplah 1 sekon sesuai dengan waktu yang dibutuhkan atom cesium-133 untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali. 1 menit tetaplah 60 sekon. 1 jam tetaplah 60 menit dan 1 hari tetaplah 24 jam. Semua tetap sesuai dengan ketentuannya, tidak berkurang dan bertambah sedikit pun.

Namun, mengapa waktu tetap saja terasa lebih cepat?

Pada umumnya, kita akan merasakan waktu berjalan lebih cepat bila kita melakukan hal-hal yang bersifat duniawi secara berlebihan. Bermain game on line, larut dalam rutinitas pekerjaan yang menumpuk atau berlibur ke sebuah tempat wisata.

Satu jam akan terasa sangat cepat, bila kita bermain game on line. Satu hari akan terasa sangat cepat bila hanya untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor. Dan tentu saja satu minggu akan sangat kurang bila hanya untuk sekedar berkeliling dan berlibur di sebuah tempat.

Sebaliknya, untuk hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan akhirat, waktu terasa sangat lambat. Meski normalnya hanya 5 menit yang dibutuhkan untuk membaca 1 halaman Al Quran, namun kita merasa sangat lama untuk membacanya. Begitu pula untuk sholat tarawih berjamaah, sholat jum'at, dan ibadah puasa. Waktu terasa sangat panjang bila dihabiskan untuk beribadah.

Inikah tanda-tanda kiamat yang diriwayatkan oleh Anas RA?

Rasulullah bersabda


"Hari Kiamat tak akan datang kecuali waktu semakin singkat. Penyingkatan ini terjadi sedemikian cara seperti satu tahun yang berlalu seperti sebulan, dan sebulan yang berlalu seperti seminggu, dan seminggu berlalu seperti satu hari dan satu hari yang berlalu seperti satu jam dan satu jam yang berlalu seperti secepat kilat.'' 
(Tirmidhi, Zuhd: 24, 2333).


 Urusan dunia memiliki kecenderungan untuk membuat kita "ketagihan", terus dan terus. Sebaliknya bila berurusan dengan akhirat, kita merasa sangat berat. Oleh karenanya kita tidak boleh lengah, marilah kita manfaatkan waktu yang tersisa dengan cerdas, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ 

(HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)



Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk menghabiskan waktu dengan aktivitas yang sia-sia.
Mari kelilingi diri dengan lingkungan yang selalu mendukung kita untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan. Mari kita sibukkan diri kita dengan aktivitas yang selalu bernilai ibadah. :)



Keep Learning, Keep Growing!!


Referensi.
1. www.ittelkom.ac.id



Minggu, 03 November 2013

Kisah Penebang Kayu


Konon dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang sedang berencana membuka hutan seluas 2 hektar untuk memperluas ibu kotanya. Maka dicarilah tim penebang kayu terhebat seantero negeri. Setelah melakukan pencarian ke sana kemari, didapatlah 2 tim penebang kayu yang siap dibayar untuk membuka hutan dalam waktu singkat.  

Kedua tim diberikan hutan dengan luas wilayah yang sama, masing-masing 1 hektar. Barang siapa yang berhasil membuka hutan paling cepat, akan diberi hadiah atau bonus yang menggiurkan. Alhasil kedua tim saling bersaing sengit untuk beradu cepat dalam menebang pohon dan membuka hutan.

Di minggu pertama, tim 1 berhasil mengungguli tim 2. Mereka sudah berhasil membuka 1/3 dari luas hutan yang harus dibuka. Sedang tim dua hanya berhasil membuka ¼ dari luas hutan yang harus dibuka.

Di minggu kedua dan ketiga, tim 1 mulai menunjukkan penuruan produktivitas. Selama 2 minggu, mereka hanya berhasil menambah 1/3 dari luas hutan. Sedang tim 2 berhasil mempertahankan performanya tiap minggunya. Hingga sampai minggu ketiga mereka berhasil membuka ¾ dari luas hutan yang harus dibuka. Tersisa ¼ lagi dari total luas hutan yang harus dibuka.

Hingga akhirnya, sebelum minggu ke-empat berakhir, tim 2 berhasil menuntaskan pekerjaannya. Semua pohon di hutan seluas 1 hektar berhasil ditebang oleh mereka. Sedang tim 1 yang terus menurun peformanya di akhir minggu ke-4 masih menyisakan lahan seluas 1/6 dari total hutan yang harus dibuka. Alhasil tim 2 berhasil meraih bonus yang dijanjikan oleh kerajaan.

Saat memberikan bonus di depan rakyatnya, Sang Raja yang merasa kagum pun bertanya kepada tim 2, apa yang telah menjadi rahasia mereka hingga berhasil membuka lahan dalam waktu singkat.

Perwakilan tim 2 pun menuturkan rahasia yang tidak dilakukan oleh tim 1. Mereka secara rutin mengasah kapaknya hingga untuk memastikannya tetap tajam saat dipakai. Kecakapan dan ketangkasan dalam menebang pohon memang penting untuk mengejar target. Namun bila tidak didukung dengan kapak yang tajam maka secakap apapun si penebang pohon, hasilnya tetap tidak akan memuaskan.

Inilah yang tidak dilakukan oleh tim 1. Mereka terlalu fokus dalam menebang pohon dan membuka hutan, tanpa mempedulikan kondisi kapak yang mereka pakai. Oleh karenanya, tanpa mereka sadari, produktivitas mereka terus menurun secara perlahan seiring menumpulnya kapak mereka.

 
Sumber : flexmedia.co.id


**
Hal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih sering larut dalam rutinas dan kesibukan untuk mengejar target yang dipatok oleh atasan. Kita terus tenggelam dalam kompetisi untuk terus berlari mencapai hasil yang terbaik. Hari demi hari kita terus bekerja dengan keras tanpa memberikan waktu kepada diri sendiri untuk sejenak istirahat, berintropeksi atau evaluasi diri.

Lingkungan sekitar yang terus berubah juga membuat kita mau tidak mau untuk terus meng-up grade diri. Oleh karenanya, up grading/training yang rutin, silaturahmi/memperluas relasi dan jaringan, hingga hal paling sepele seperti membaca buku-buku di luar bidang pekerjaan kita, akan memperluas wawasan dan meningkatkan daya saing kita.

Pada akhirnya, proses pengembangan diri yang terus dilakukan tanpa henti akan menjadi kunci agar kita bisa tetap survive dan competitive.



Keep Learning, Keep Growing!!

Senin, 17 Juni 2013

Cerita Pasca Menikah #5 : Seminar Online Sang Juara school "Dahsyatnya Percepatan Karir dengan Menikah di Usia Muda"

Adalah Miftakhul Falah, seorang sahabat-saudara-entrepreneur-alumni Teknik Kimia ITS, yang menghubungi saya minggu lalu. Beliau menawarkan sesuatu yang sulit saya tolak, yaitu kesempatan untuk berbagi cerita dalam acara Seminar Online yang rutin digelar oleh Sang Juara school. 

To be honest, saya merasa begitu tersanjung saat diminta untuk berbagi cerita. Terlebih topik yang diangkat pun sangat eye catching (terutama bagi pemuda/i berusia 20-an), apalagi jika bukan tentang pernikahan. Meski sebenarnya, saya bukanlah ustadz/da'i yang pandai berapi-api dalam mengorasikan ceramah, pandai membawakan opini, serta kaya akan referensi dan ilmu, meski demikian saya tetap tegakkan kepala dan kokohkan niat untuk berbagi. Tentu saya bukanlah orang yang lebih pandai atau, namun setidaknya saya sudah terlebih dulu merasakan apa dan bagaimana pernikahan itu. 

Saya makin tersanjung karena yang mengundang adalah Sang Juara School. Inilah "pasar" (yang disebut oleh Jamil Azzaini dalam bukunya Kubik Leadership) dimana akan banyak orang-orang dengan tingkat intelektualisme di atas rata-rata bisa temui. Kesempatan saya untuk berkumpul dan mengelilingi diri dengan orang-orang inspiratif. 

Alhasil, setelah bernegoisasi tentang waktu, saya sanggupi permintaan Falah untuk menjadi narasumber dalam acara yang akan dipandu langsung olehnya.
 



 


Inilah kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dan motivasi. Saya tidak berada dalam posisi yang lebih tinggi atau rendah daripada para pendengar yang saya pandu. Saya memposisikan diri dalam level yang sama. Kami sama-sama belajar. Satu hal yang membedakan diantara kami hanyalah "posisi".

Saya seakan-akan berada di dalam sebuah ruangan, dimana untuk memasukinya haruslah melewati serangkaian acara ijab kabul (menikah). Sedang yang menjadi pendengar, mayoritas masih di luar "ruangan" (dalam bahasa sederhana : belum menikah). 

Saya menceritakan dan menggambarkan apa-apa saja yang saya alami di dalam "ruangan" tersebut. Sehingga para pendengar yang berada di luar memperoleh gambaran dan bisa merasakannya, hingga semakin bersemangat untuk beramai-ramai memasuki "ruangan" tersebut (dalam bahasa sederhana : makin bersemangat untuk menikah).

Bila anda tertarik untuk membaca apa saja yang telah kita diskusikan melalui seminar online singkat ini, silahkan berkunjung ke link berikut ini. Semoga ada manfaatnya.

Pada akhirnya saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Meski acara tersebut cukup singkat, namun inilah nikmat yang tidak saya duga-duga sebelumnya. Karena bagi saya "kesempatan" adalah nikmat yang tidak ternilai harganya. Kesempatan untuk berbagi kebahagiaan, pengalaman, cerita, inspirasi, motivasi, kesempatan untuk terus belajar, kesempatan untuk terus berkembang, dan tentu saja kesempatan untuk tumbuh lebih tinggi lagi. 

Danke Schoon Sang Juara school!!



 
Keep Learning, Keep Growing!!


Note : Sang Juara School, bagi saya, bukan hanya sebuah unit bisnis. Lebih dari itu, inilah buah dari hasil idealisme, pengejawantahan passionate dan kreavitas tanpa batas. Dirintis saat masih berstatus mahasiswa dan eksis hingga kini. Doa saya selalu untuk kesuksesan teman-teman saya di Sang Juara school. :)