Minggu, 26 Agustus 2018

Adapt and Learn

Di awal masa kerja, saya memiliki seorang teman dekat. Sebut saja Bang Bokir. Kami memiliki latar belakang yang tidak jauh berbeda, baik itu pendidikan, pola pikir, bidang kerja, dan ketertarikan terhadap ilmu agama. Singkatnya, kami didekatkan karena banyak hal dan karenanya kami terbiasa ngobrol dan diskusi segala hal, mulai dari pekerjaan, hobi, dan keluarga.

Suatu hari beliau bercerita pada saya sebuah fase yang (mungkin) banyak terjadi di teman-teman yang memasuki masa kerja 5 hingga 7 tahun. Fase dimana umumnya, seorang lulusan sarjana sudah memiliki posisi yang lumayan baik dari segi ekonomi maupun pekerjaan. Dari segi keilmuan sudah tidak bisa dibilang fresh grad, namun dibilang experience pun tidak bisa semua dibilang senior, tergantung bidang yang digeluti.

Pada fase ini umumnya kita mulai melihat teman-teman sekampus yang melaju lebih jauh atau menanjak lebih tinggi. Menariknya, fenomena ini tidak memiliki korelasi sebanding dimana teman yang prestasi kuliahnya jauh lebih baik akan menjamin karirnya pun lebih baik. Sebagaimana korelasi regangan tegangan pada daerah elastis suatu benda kerja.

Karena selepas lulus, semua memiliki titik awal yang sama untuk sukses di tempatnya masing-masing. Tempat kerja tentu saja akan berbeda, karena seusai kuliah bekal yang dibawa untuk mendapatkan pekerjaan praktis hanya nilai IPK dan kepribadian. Pengalaman? Saya yakin pengalaman terbesar selain keterampilan berorganisasi, adalah menyelesaikan tugas kuliah dan ujian, baik tugas akhir maupun ujian semester.

Jadi tidak akan mengherankan bila kemudian muncul teman-teman yang semasa kuliah dulu dikenal biasa saja, namun di masa kerja yang sama sudah memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak. Dibanding saya, banyak sekali teman-teman di luar sana yang melaju  di depan saya.

Saya pernah terlibat di cement plant greenfield project. Tapi di seberang ujung timur Indonesia sana, ada teman saya sudah terlibat jauh di Tangguh LNG project. Saya pernah diutus untuk mengikuti kursus singkat di luar negeri, tapi di negeri matahari terbit sana, ada dua teman saya yang sedang menjalani penugasan dari perusahaannya untuk disekolahkan lagi. Salah satu darinya adalah teman yang sering telat bareng dan lupa naruh HP di warkop. Belum lagi yang di belahan benua sebelah, ada banyak teman yang sudah dan sedang mengejar master degree-nya. Ada seorang yang kala di asrama dulu tertinggal di bahasa Inggris, bahkan kelulusannya tertunda karena TOEFL, kini dia sedang menyelesaikan program doctoral-nya di negeri asal Doraemon.

Saya pernah diutus pula beberapa hari untuk business trip di luar negeri, sementara itu seorang teman teater saya sudah beberapa minggu ini keliling eropa untuk business trip. Saat ini saya mendapat penempatan sebagai maintenance mechanical engineer  di sebuah perusahaan semen, sementara di sudut kota Mojokerto gerombolan teman-teman saya yang ketika kuliah lebih banyak di bengkel ketimbang di laboratorium, justru sedang sibuk membesarkan perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang manufaktur dan rekayasa industri. Mereka melakukan riset dan produksi mesin dengan sentuhan khas mereka, Mekatronika.

Dalam kesehariannya, saya sering melakukan improvement study  untuk meningkatkan performa mesin, di saat yang sama di kota pahlawan terdapatlah seorang teman saya yang ketika kuliah lebih sering memberikan privat les untuk memenuhi  kebutuhan kuliah, kini sering menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan proyek studi berkelas nasional.

Hingga kini, saya masih tertatih-tatih untuk istiqomah menulis blog, sementara di saat yang sama teman satu dosen wali, teman yang pernah sama-sama masuk buku 25 mahasiswa inspiratif, kini sudah hidup dengan menulis dan menerbitkan buku-buku inspiratif. Dia Ahmad Rifa'i.

**
Well pada akhirnya kita mesti sadari bahwa kita hidup dengan garis edar masing-masing, dimana kesuksesan kita tidak selalu apple to apple dengan yang lain. Sama halnya membandingkan Presiden Trump dan Presiden Obama, dimana diantara keduanya meraih kursi presiden di saat usia yang berbeda. Presiden Trump berusia 71 tahun, sementara Obama 38 tahun. Namun bukan berarti yang satu otomatis lebih baik dibanding yang lain, karena mereka berdua memiliki milestone-nya masing-masing.

Kita memiliki medan juang dan tantangan yang unik dibanding satu sama lain. Meski demikian selalu ada ruang untuk kita terus beradaptasi dan belajar agar tetap mampu bersaing dan berprestasi di lajur kita masing-masing.

Karena kita, menurut Bang Bokir, memiliki kemampuan adapt and learn.


Keep Learning, Keep Growing!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar