Jumat, 05 Februari 2016

MU dan Prof Shahab

Manchester United (MU) dan final Champions League 1999.  Dua hal yang saling menggambarkan satu sama lain, yang pertama adalah sebuah klub besar dari daratan Inggris dan satunya adalah kisah dramatis dalam sejarah sepak bola dimana MU berhasil mengalahkan Bayern Munchen. Semua cerita itu meninggalkan kesan yang tak terlupakan hingga 16 tahun kemudian.

Persistence dan determinasi pemain MU selama 90 menit menginspirasi saya sampai hari ini.
2 gol dari Ole Gunnar Solkjaer Gol Solkjaer dan Teddy Sheringham masih terasa magisnya hingga kini. Keberanian Peter Schmeichel untuk maju sampai memasuki area Kahn, hingga momen David Beckham mengambil tendang penjuru pun masih terngiang-ngiang di benak saya. Saya masih ingat teriakan bapak saya di dini hari. Karena itulah momen dimana saya dan bapak pertama kalinya menyaksikan sepakbola berdua (saja) di tengah malam.

Saya adalah satu dari jutaan orang yang lumayan setia mengikuti berita tentang MU di media massa. Tapi saya belum bisa dibilang fans berat, karena saya jarang menyaksikan pertandingan MU di televisi, apalagi kalau pertandingannya lewat tengah malam. 

Saya pernah memiliki beberapa kostum MU. Sewaktu SD, bapak membelikan saya kaos MU bernomor punggung 19 milik Dwight Yorke. Sekarang yang ada tinggal kostum milik Javier Chicarito dan kostum kiper seperti yang dipakai David De Gea. Inipun belum bisa membuat saya otomatis menjadi fans berat, karena saya tidak terlalu hafal pemain-pemain MU saat ini.

Saat saya masih SMP dan SMU, beberapa poster David Beckham, Paul Scholes, dan Ruud Van Nisterrooj terpasang rapi bersama poster Juventus dan Valentino Rossi di kamar saya. Inipun belum cukup membuat saya dibilang pendukung garis keras. Karena saya tidak terlalu sedih bila MU kalah, dan tidak ikut jemawa bila MU menang.


***
Saya punya banyak teman dengan idolanya masing-masing dan jauh lebih fanatik daripada saya. Menonton pertandingan, baik secara langsung atau lewat televisi, wajib hukumnya. Koleksi segala pernak-pernik tentang klub adalah hobi yang lumrah. Berita dan gosip adalah buruan utama saat berselancar di dunia maya. Bila bertemu dengan teman yang berbeda idola, berbalas ejekan adalah hal yang biasa. Apalagi kalau tim mereka atau idola mereka baru saja saling berduel dan saling mengalahkan.

Pada level tertentu, dukungan terhadap idola diwujudkan dalam bentuk adu balas komentar di lini massa. Apapun yang dilakukan oleh sang idola adalah hal yang harus terus dibela. Kalaupun ada yang salah, dicari sudut pandang sedemikan sehingga sang idola pun bisa "dianggap" benar.

Saya teringat pesan Prof.Abdullah Shahab saat kuliah. Beliau juga memiliki sedikit ketertarikan akan sepak bola. Namun ketertarikan itu hanya dalam konteks olah raga atau permainan, tidak sampai menjadi pendukung fanatik. 

Bahkan hanya untuk seekedar menonton pertandingan sepak bila, beliau pun sangat selektif. Beliau hanya akan menonton tim yang permainannya enak dilihat. Saat itu, tahun 2008, beliau menyebut MU sebagai tim yang enak ditonton. Itupun kalau pertandingannya tidak dini hari. Menurut beliau, untuk apa kita sampai bangun dini hari hanya untuk menonton sepakbola kalau ibadah kita di pagi hari menjadi lalai.

Inilah yang sering terjadi di antara kita. Kita begitu mengidolakan sesuatu mati-matian hinga rela mengorbankan banyak hal. Sayangnya, kebanyakan dar kita sendiri bukanlah orang yang dikenal oleh idola kita. Saat kita care dengan idola kita, belum tentu mereka care dengan kita. Saat kita sedih karena idola kita kalah, apakah mereka juga ikut merasa sedih saat nilai Perencanaan Eksperimen* kita dapat C? Begitu kira-kira uraian beliau.

Dalam urusan dunia, kita perlu mengambil titik kesimbangan dalam mendukung sesuatu. Jangan sampai energi kita habis hanya utk mendukung atau membela sesuatu yang belum tentu berbalas dan belum tentu benar.

Kita perlu memfokuskan diri menjadi "pemain" atau "aktor" ketimbang hanya menjadi "pendukung". Mari saling mengingatkan untuk terus menyibukkan diri dengan karya, dibanding fokus hanya memandang orang lain berkarya (ini tamparan untuk saya pribadi :p).


Keep Learning,Keep Growing!!

*Perencanaan Eksperimen adalah salah satu mata kuliah Teknik Mesin yang diampu oleh Prof. Abdullah Shahab

3 komentar:

  1. Koreksi. Ole Gunnar Solskjaer bikin 1 gol (bukan 2 gol). Gol pertama MU di final 1999 dicetak oleh Teddy Sheringham. Wehehehe

    BalasHapus
  2. Nice articel!
    Tapi golnya oleh teddy seringham dan ole gunnar solskjaer sa..
    Bukan solskjaer semua :)

    BalasHapus
  3. SSuwun sing akeh Boss fantul dan Pak Bau. langsung dikoreksi sama fans MU sejati :)

    BalasHapus