Tampilkan postingan dengan label Dreams - Passion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dreams - Passion. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Oktober 2017

Re-inventing your self!!

Re-inventing your self. Itu adalah judul sebuah artikel yang beredar di grup whatsapp beberapa hari yang lalu. Isinya cukup menarik bagi saya. Sebuah proses menemukan-lalu menumbuhkan kembali diri sendiri dengan tampilan yang berbeda dan lebih baik. Diceritakan beberapa perusahaan musti re-inventing karena tuntutan zaman, yang justru membuatnya tidak hanya sekedar bertahan hidup, namun justru bisa tampil lebih unggul.

Tuntutan re-inventing sebenarnya tidak hanya relevan dengan kondisi perusahaan yang terdesak dengan kondisi pasar/zaman. Idealnya, re-inventing sudah menjadi siklus bagi siapapun yang selalu ingin tumbuh. Sama halnya dahan sebuah pohon yan selalu tumbuh bergerak ke arah sinar matahari datang.

Situasi ini mengingatkan saya jadi teringat saat selesai wisuda. Masa kuliah telah usai, nilai IPK sudah keluar, karir organisasi telah paripurna, dan status mahasiswa pun sukses ditanggalkan. Saatnya bergerak ke step selanjutnya, dunia pasca kampus.

Tak mudah awalnya. Saya tahu apa yang sejak dulu ingin saya tuju dan saya hindari, tapi belum cukup yakin bagaimana caranya menuju ke arah sana. Setelah dipikirkan dengan masak, akhirnya mengerucutlah dua  tujuan besar yang harus dikejar , yaitu bekerja di multinational company dan sesegera mungkin berkeluarga, serta satu hal yang (kalau bisa) dihindari, yaitu  profesi engineer (lol).

Saya sejak awal lebih ingin berkarir di multinational company karena beberapa pertimbangan. Pertama saya ingin scale up, dari yang awalnya berinteraksi dengan teman-teman dalam level nasional, naik menjadi internasional. Kedua, kesempatan untuk belajar (sekaligus mempraktekan) keterampilan berbahasa asing pasti akan makin terasah. Ketiga, ada keinginan besar untuk mensejajarkan diri dengan rekan dari bangsa lain. Keempat, bergabung dengan multinational company tentu akan membuat peluang mendapatkan overseas opportunity makin besar. 

Gaji? Tidak terlalu menjadi pertimbangan, karena bagi saya poin 1 hingga 4 sudah cukup menggambarkan berapa pasaran gaji yang akan diterima.

Kelima, ini adalah keinginan yang terdengar agak kurang nyambung.

Pertimbangan yang kelima,saya ingin kerja di kota kelahiran saya, Cilacap. Ini lebih karena saya ingin memenuhi permintaan orang tua saya. Beliau ingin saya kembali ke rumah. Tapi siapa sangka, justru poin inilah yang akhirnya memudahkan saya meraih poin 1 hingga poin 4.

Begini ceritanya, tiga bulan setelah lulus kuliah, saya mulai bekerja di sebuah multinational company. Sembilan bulan selanjutnya, saya dipindahkan ke Cilacap. Masya Allah, setelah tercapai keingingan saya di poin 1 (berkarir di multinational company), lalu terwujud poin 5 (kerja di kota kelahiran saya, Cilacap). Selanjutnya, berkat doa orang tua, poin 2 hingga 4 nampak begitu mudah.

Lima bulan berikutnya saya dikirim ke Vietnam selama satu bulan. Sepulang dari Vietnam, saya dipindah ke Tuban dan bergabung dengan tim project sebagai Mechanical Engineer. Tugas saya meliputi pekerjaan engineering untuk project yang terkait auxiliary facilities, seperti fire protection, water supply, workshop facility, warehouse facility, dan modifikasi palletizer facilities.

Dalam kesehariannya, saya melapor langsung ke seorang manager berkebangsaan Rumania. Di tim project saya terbiasa berinteraksi dengan rekan dari berbagai negara, Canada, Rumania, Mexico, India, Kolombia, Jerman dan sebagainya. Di sela-sela periode tersebut, saya menikah saat usia baru 24 tahun.

Dua tahun di tim project, saya lalu bergabung di tim operasional sebagai Maintenance Engineer dengan tanggung jawab riset dan modifikasi yang terkait peningkatan performa alat, pekerjaan terkait capex project, dan root cause analysis untuk beberapa trouble  di pabrik yang terjadi berulang kali dan menyebabkan durasi stop yang panjang.

Tidak sampai dua tahun di tim operasional, saya mendapatkan kesempatan untuk ke Kenya, Afrika. Selama tiga minggu disana, saya menjalani program pengembangan diri untuk sertifikasi sebagai Preventive Maintenance Engineer. Setahun setelahnya, saya mempresentasikan sebuah proyek yang berhasil diselesaikan dalam waktu 9 bulan dengan tema peningkatan efisiensi performa unit pengemasan semen. 

Alhamdulillah, saya sukses melewati fase sertifikasi tersebut bersama sekitar 30-an rekan engineer dari negara lain.

Dalam rentang waktu lima tahun, semua yang dicita-citakan saat selesai kuliah, baik yang terkait pekerjaan maupun keluarga telah diraih. Kini saya memasuki lagi siklus re-inventing. Sama persis saat selesai wisuda.

**
Seperti yang diceritakan dalam artikel re-inventing your self, inilah saat nya saya menganalisis dan mengkaji current strength dalam diri saya. Lalu mendefinisikan area baru (green field) yang memungkinkan saya untuk tumbuh. Selanjutnya, tentukan strength dan knowledge apa yang perlu terus dikembangkan untuk memasuki green field area. Terakhir, saya harus beranikan diri untuk bergerak dan terus menantang diri sendiri agar tetap tumbuh.

Well, bukan step yang mudah untuk diselesaikan dalam waktu semalam. Setidaknya perlu dimulai dari sekarang. 

Bila dua tujuan besar telah diraih, bekerja di multinational company dan berkeluarga. Maka starting point selanjutnya bisa saya awali dengan mewujudkan satu hal yang sedari dulu justru ingin saya hindari namun belum juga berhasil yaitu profesi engineer.

Yes, it’s time for re-inventing my self and going to next level, beyond the engineer.

Doakan saya.


Keep Learning, Keep Growing!!

Rabu, 26 Maret 2014

Habibie - SBY - Essa Abubakar

Presiden ke 3 RI sedang berpidato tentang Pancasila
Presiden ke 4 RI Susilo Bambang Yudhoyono saat berpidato tentang hubungan RI dan Malaysia
Saya seusai perayaan Harkopnas tahun 2010 menjajal podium yang dipakai oleh kedua orang besar di atas saya :) 



"If you can dream it, You can do it"

-Walt Disney-



Keep Learning, Keep Growing!!


Senin, 10 Februari 2014

My Younger Brother's Dream : "Aero Space Shuttle"






Those sketches show us how 12-years old kid has much imagination than us. 
Hopefully all of Indonesian kid are able to find their way in making their huge dreams become true.

Good luck Essa Zulfikar Salas!!



Keep Learning, Keep Growing!!

Rabu, 09 Oktober 2013

Home Sweet Home


Bismillah...
Tampak depan

Garasi

Kitchen Set

Ruang Tamu

Ruang Tengah



*Illustrasi dan design oleh : Agam Tri, ST


Keep Learning, Keep Growing!!

Rabu, 19 Juni 2013

Testimonial 25 tahun

Waktu memang tidak pernah ingkar. Inilah yang selalu tepat, baik saat datang dan pergi. Tidak pernah terlalu awal dan tidak pernah terlambat. Seperti apa yang pernah saya dengar dari pepatah Arab, waktu adalah pedang. Waktu akan menjadi senjata yang berguna bila kita mampu memanfaatkannya secara benar. Sebaliknya, bila kita tidak pandai memanfaatkannya, bisa-bisa kita sendirilah yang terhunus olehnya.  

Tidak terasa, 25 tahun sudah sejak pertama kali kedua orang tua saya memancarkan rona bahagia di mukanya atas kelahiran buah hatinya. Hari ini, 25 tahun yang lalu, seorang anak manusia yang telah dinantikan selama 2 tahun pernikahan akhirnya lahir di dunia. Seorang anak yang menjadi investasi untuk amal yang tidak pernah putus. Seorang anak yang menjadi harapan dan tumpuan bagi orang tua serta adik-adiknya.




**
Puja dan puji syukur saya haturkan kepada Sang Pemilik Bumi dan Langit, Alloh SWT. Atas segala nikmat yang tidak pernah bisa saya hitung. Kesempatan untuk tumbuh dan berkembang di lingkungan yang kondusif. Kesempatan untuk menuntut ilmu hingga perguruan tinggi. Kesempatan untuk bertemu dan berkenalan dengan figur-figur inspiratif. Hingga kesempatan untuk berpetualang, menjelajah, dan berbagi cerita serta inspirasi dengan sesama.

Serta sholawat untuk tokoh paling inspiratif sepanjang masa, pembawa kabar gembira, pemimpin ummat sekaligus utusan Alloh, Nabi Muhammad SAW.

Kepada pasangan Endi Suwandi dan Siti Amanah, orang tua kandung saya, kepadanya rasa hormat dan sayang selalu saya curahkan. Beribu maaf atas segala kesulitan, halangan, dan rasa malu yang diakibatkan karena ulah saya selama mendidik dan membesarkan saya. Bila hingga saat ini saya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, semua semata karena izin Alloh serta peran bapak dan mama. Oleh karenanya, jutaan terima kasih saya ucapkan.

Hormat dan terima kasih saya ucapkan kepada pasangan Moch. Hatta dan Ifat Fariza, yang telah mengikhlaskan putri sulungnya untuk menghabiskan sisa usianya bersama saya, Tyzha Inandia. Serta mohon maaf atas segala kekeliruan dan kesalahan selama ini. 

Kepada partner hidup, Tyzha Inandia, terima kasih atas rasa cinta, kasih sayang, inspirasi, motivasi, kepercayaan, dan kesempatan untuk berlari bersama mengejar impian menjadi pribadi dan keluarga yang lebih berkualitas dan bermanfaat. 

Kepada keempat adik-adik saya. Tumbuh dan berkembanglah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari kakak kalian. Di pundak kalian jugalah nama baik dan masa depan negeri ini bertumpu. Bersama-sama kita saling bahu-membahu membangun peradaban yang lebih baik. Bila banyak hal yang kurang dari saya, jangan ragu untuk menegur dan saya mohon maaf atas semua itu. Ambil dan tirulah hal-hal yang sekiranya bermanfaat dan berguna.

Serta saudara, teman, guru, dosen, rekan kerja, dan semua orang yang berada di sekeliling saya. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekeliruan. Terima kasih atas kerja sama, saran, inspirasi, dan motivasinya selama ini. Tidak ada seorang yang berhasil dan sukses, melainkan karena kerja keras dan dukungan orang-orang di sekitarnya. 

Hari ini saya genapkan usia saya 25 tahun. Inilah waktu yang sudah saya habiskan di dunia. Bila usia normal kebanyakan manusia adalah 65 tahun, maka saya hampir mencapai setengahnya. Meski demikian, saya tetap tidak tahu berapa lagi waktu dan kesempatan saya yang tersisa untuk mencari bekal untuk kehidupan selanjutnya. 

Tidak hanya saya, anda dan kita semua, tidak akan pernah tahu berapa lama lagi hidup di dunia ini. Oleh karena itu, untuk sisa usia yang lebih berkualitas dan bermanfaat, mari sama-sama berdoa agar selalu diberi kesempatan untuk terus belajar, berkembang, beramal dan berbagi, serta dijauhkan dari segala penyakit hati yang merusak semua lini kehidupan. 

Demikian, terima kasih. :)



Keep Learning, Keep Growing!!

Selasa, 16 April 2013

Cerita Pasca Menikah #3 (Di balik Pria Hebat)



Menjelang detik-detik pernikahan, tak sedikit orang yang dihantui keraguan dan ketakutan. Seorang sahabat saya hampir saja melarikan diri saat H-3 sebelum akad. Bahkan saya pun pernah mendengar berita tentang kaburnya seorang pemuda justru saat hari-H akad nikah. Begitu halnya dengan saya. Beberapa hari sebelum pengucapan ikrar janji suci, rasa cemas, ragu, takut, dan senang menghinggapi saya sekaligus. Saya hampir tidak percaya jika status lajang ini akan segera berakhir.

Salah satu ketakutan “tak berdasar” yang sempat saya rasakan adalah takut kehilangan ruang privasi. Setelah 24 tahun hidup sendiri dan bersama keluarga kandung, kini ada seorang muslimah yang akan menemani hidup saya. Bagaimana saya tidak khawatir, selama ini saya bisa bepergian ke mana pun saya suka. Ruang privasi itulah yang memberikan saya keleluasan untuk berekspresi, mencoba hal baru, berpetualang, menjalin pertemanan dengan siapa saja, dan aneka keleluasaan lainnya.

Semakin hari, ketakutan itu semakin berkembang biak dan menjadi-jadi. Bermula hanya takut pada satu hal, maka selanjutnya semakin banyak yang ditakutkan. Bila selama ini hanya memikirkan dan mengurus diri sendiri, maka sekarang mulai berpikir bagaimana caranya mengurus sebuah keluarga.  Tetap saja,  dari sekian banyak, yang paling membuat ragu adalah kenyataan bahwa tidak lama lagi saya akan hidup bersama dengan orang lain (istri).

Mungkin inilah yang saya sebut sebagai Pre-Wedding Syndrome. Sebuah awkward moment, dimana perasaan aneh yang muncul tiap kali kita akan memasuki sebuah fase hidup yang berbeda.

**
Berpegang pada semboyan “sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang”, saya pun melangkah mantap menuju lokasi akad nikah. Seusai para saksi dan ustadz mengucapkan sah, saya seperti merasakan ada beban 19 ton yang tiba-tiba hilang dari pundak saya.

Akhirnya, saya mulai mengarungi hari demi hari bersama istri saya. Seperti kebanyakan pasangan muda, di awal pernikahan saya justru merasa sangat menyesal. Penyesalan yang terasa sangat dalam. Saya menyesal mengapa tidak menikah dari dulu saja. Rasa penyesalan yang tentunya dibungkus rapi dengan kebahagiaan yang tidak bisa digantikan oleh kemewahan duniawi.

Awalnya, ketakutan yang sempat hinggap menjelang pernikahan, sama sekali tidak terpikirkan oleh saya. Karena saat itu saya benar-benar terbius oleh euphoria lepasnya status lajang. Namun, beberapa bulan berikutnya saya mulai berpikir ke mana perginya ketakutan saat pre-wedding syndrome.

Sebelum menikah, saya sempat takut kehilangan ruang untuk berekspresi, berpetualang dan mencoba hal baru. Nyatanya, setelah menikah saya memiliki partner yang luar biasa. Berekspresi dan berpetualang bersama istri ternyata jauh lebih menyenangkan.

Mulai dari berdua bersama menjelajah daerah yang belum pernah dikunjungi (lihat disini). Berburu sajian kuliner yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Bersama-sama membersihkan rumah. Berjalan-jalan berdua di toko-toko atau tenant furniture di mall. Hingga bahu-membahu menyiapkan materi yang akan dibawakan dalam sebuah pelatihan jurnalistik.

Pada kenyataannya, kehadiran istri sebagai partner mempermudah kita dalam banyak hal. Kesamaan pandangan dan misi hidup, mempermudah kita dalam berjuang meraih mimpi. Selain sebagai pengingat saat kita mulai lengah, dia juga bisa hadir sebagai motivator saat kita kelelahan. Bahkan tidak jarang, saya serasa memiliki trainer pribadi yang serba bisa. Bisa saling memotivasi semangat, bisa saling mengkoreksi, hingga bisa menjadi teman curhat 

Keberadaannya di rumah, membuat saya serasa sedang berada di EF (English First- sebuah tempat les bahasa Inggris). Saya seperti memiliki kamus berjalan. Karena selalu ada tempat untuk bertanya, mengoreksi spelling, mengingatkan untuk terus belajar bahasa, dan tempat konsultasi saat saya kesulitan dalam membuat report dalam bahasa Inggris. Dan khusus yang terakhir ini, saya benar-benar beruntung memiliki seorang istri yang lihai berbahasa asing. Berharap anak saya kelak memiliki 3 bahasa ibu sekaligus, Jawa, Indonesia, dan Inggris. :)

Selain itu,  kehadiran istri juga membuat saya memiliki pola makan yang teratur. Bukan rahasia lagi bila kita memasak sendiri, selain lebih lezat, kita juga bisa mengontrol mulai dari bahan mentah hingga cara memasak yang baik. Hingga semuanya bisa dipastikan sehat dan higienis. Begitu pula dengan kebutuhan rumah tangga lainnya, semuanya di-managed begitu rapi. Tidak berlebihan bila saya seperti seorang artis yang memiliki manajer pribadi.

Maka dari itu, ketakutan sebelum menikah bukanlah hal kecil yang perlu dibesarkan. Setelah menikah, saya juga semakin efektif dalam membelanjakan uang. Justru karena sudah berkeluarga, pengeluaran menjadi semakin fokus dan based on priority.  

Semua yang saya rasakan itu telah sukses mematahkan segala ketakutan dan keraguan yang dulu sempat muncul. Setiap menjelang sore, saya selalu tak sabar untuk segera pulang dan bertemu istri. Bahkan, sehari saja saya tidak memeluk dan mencium keningnya, saya seperti benar-benar kehilangan separuh jiwa. He..he..he

Pada akhirnya, hanya kekuatan tekad dan mental yang membuat kita tetap yakin dan percaya bahwa semua keraguan ini hanyalah cara Alloh agar kita terus berpikir hingga kita makin mantap dengan jalan yang kita pilih.

 
Foto ini saya ambil saat berada di dalam bus. Setiap pagi dia mengantar saya dari rumah menuju pick up point.


Saat kami berdua terbang dari Surabaya ke Bontang. :)



Bila sudah demikian, keberadaannya di sisi saya seperti Ainun di samping Habibie, Khadijah di samping Nabi Muhammad, Ratna di samping Prof. Daniel M Rosyid, Ifat Farizah di samping M.Hatta, dan Siti Amanah di samping Endi Suwandi. Selalu ada wanita kuat di balik kesuksesan pria hebat!



Keep Learning, Keep Growing!!

Minggu, 07 Oktober 2012

Istri Salehah :)


.."Tidak ada anugerah yang didapatkan seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik baginya daripada memperoleh istri yang salehah.  


Yaitu, istri yang jika diperintahkan sesuatu kepadanya, ia menaatinya.
Jika suami memandangnya, ia menyenangkan.
Jika suami memberinya nafkah, ia menerima dengan baik. 
Dan jika suami pergi, ia menjaga diri dan harta suaminya."..

(Hadits Riwayat Bukhari Muslim)
dinukil dari buku "Kado Pernikahan-189" karya Syaikh Mahmud Mahdi al-Istanbuli


Keep Learning, Keep Growing!!

Jumat, 10 Agustus 2012

Mimpi saya 4 tahun silam

Empat belas tahun silam saya tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa saya bisa pergi ke Jakarta. Karena bagi keluarga saya, sangat sulit bisa pergi ke ibu kota. Selain karena tidak ada saudara dan handai taulan yang bisa dikunjungi, kami pun tidak punya banyak uang untuk sekedar berlibur ke Jakarta. Namun nyatanya berkat doa dari ibu saya, akhirnya saya berangkat juga ke Jakarta. Saya pergi bukan hanya untuk bersenang-senang, namun untuk berlomba bersama teman-teman saya lainnya.

Hingga beberapa tahun kemudian dan lulus SMA, itulah prestasi "ter-amazing" yang pernah saya ukir. Saya tidak membayangkan bisa berkenalan dengan teman-teman dari luar Kabupaten Cilacap. Semua keluarga saya lahir, besar, berkembang, hidup, dan berdomisili di Cilacap.

Tidak heran saya begitu girang bisa berteman dengan anak dari Semarang, Pati, Demak dan Magelang. Saat itu kami sama-sama membawa nama Jawa Tengah di Lomba Mata Pelajaran tingkat Nasional. Meski gagal meraih emas, namun saya masih bangga karena bisa berkontribusi dengan mengamankan juara V di mata pelajaran Seni Rupa hingga Jawa Tengah menjadi Juara Umum kala itu.

Kini, saya sudah tidak terlalu ingat siapa saja teman-teman saya saat itu. Namun ada kebanggaan tersendiri bisa memiliki teman-teman di luar kota saya. Pertemanan ini lahir bukan sekedar asal kenal, namun kenal karena dipertemukan melalui sebuah ajang kompetisi.

Tujuh tahun setelah peristiwa fenomenal itu, saya pun kembali dipersatukan bersama 180 teman lainnya dalam satu angkatan Jurusan Teknik Mesin. Saya banyak memiliki teman mulai dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur. Sesaat saya merasa seperti de javu, berkenalan dan bergaul dengan orang-orang baru dari daerah yang masih asing bagi saya.

Hingga kemudian di suatu hari saat training pengembangan diri di Pesma SDM IPTEK, seorang trainer (Pak Ahmad Guntar) menyampaikan sebuah konsep self development  yang diilhami dari pidato mendiang Steve Jobs saat seremoni kelulusan di Harvard University. Pak Guntar membakar semangat kami lewat connecting the dots principle. Persis seperti apa yang disampaikan Steve Jobs.

Alam bawah sadar saya menggiring saya ke medio 97 saat saya berlomba di Jakarta. Kemudian lari lagi ke masa pengkaderan Maba Mesin 2006 (POROS 2006). Saya kemudian berpikir sedikit liar. Bila di usia 10 tahun saja saya bisa melebarkan pergaulan ke level provinsi, kemudian usia 18 tahun merambah level nasional. Maka selambat-lambatnya 10 tahun lagi saya harus sudah bisa menembus level regional atau internasional.

Sedikit terkesan muluk saat itu. Namun bila kita tidak berani bermimpi bagaimana kita bisa meraih sesuatu yang istimewa. Saya teringat quotes yang sangat popular dari Walt Disney, "if you can dream it, you can do it".

Belum juga 4 tahun sejak saya bermimpi seperti itu, Alloh telah membukakan jalan-Nya. Meski hanya merupakan bagian kecil dari tim Tuban Plant Benchmarking, namun saya harus banyak bersyukur bisa menembus hingga level ini. Banyak teman-teman baru dari negeri tetangga yang bisa saya kenal dan menjadi rekan kerja yang baru. Banyak hal dan budaya baru yang telah saya pelajari disini. Dan kesempatan untuk mengembangkan diri di level internasional pun semakin terbuka lebar.

Terus terang kesempatan saya ke Vietnam membuat saya semakin kecil di hadapan Nya. Saya takkan mampu berbuat dan meraih segalanya tanpa pertolongan Nya. Saya langsung teringat impian saya 4 tahun yang lalu akan mimpi ke luar negeri. Sekali lagi, saya membuktikan bahwa kita memang harus berani bermimpi. Bila memang sudah bermimpi maka berusaha dengan keras dan banyak-banyaklah meminta doa. Dan untuk meng-akselerasi doa, jangan lupa meminta doa restu dari ibu kita tercinta.

Sampai jumpa di Indonesia.

Kien Luong District, Vietnam 2012




Keep Learning, Keep Growing!!

Jumat, 27 Juli 2012

Menu Impian Untuk Berbuka Puasa

Saat sedang menjelajah isi koleksi foto di dalam memory kamera digital, saya menemukan kumpulan foto yang sangat menggiurkan. Sangat menggiurkan bila kita sedang berpuasa atau sedang merasa dahaga di tengah panasnya terik  matahari.

Foto ini saya ambil saat sedang berada di kota Surabaya. Saya dan partner saya sengaja menyempatkan diri mampir di Zangrandi, semacam kedai es krim. Inilah kedai es krim tertua di kota Surabaya. Letaknya berdekatan dengan Balai Pemuda Surabaya.

Siapapun yang berpuasa, termasuk saya, tak akan menolak bila disuguhi menu es krim sebagai menu berbuka puasa. Oleh karenanya saya berharap puasa tahun depan saya bisa menikmati menu seperti ini bersama keluarga kecil saya. Meski demikian, saya akan jauh lebih puas dana bahagia bila kelak saya dan istri saya bisa menyediakan menu seperti ini bukan hanya untuk kami sendiri, namun untuk orang-orang yang lebih membutuhkan, entah fakir miskin maupun anak-anak yatim-piatu. Aminn









*ucapan terima kasih untuk partner saya atas hasil jepretan fotonya yang begitu jernih :)

Keep Learning, Keep Growing!!

Jumat, 13 Juli 2012

Luar Negeri Pertama

Ini adalah artikel pertama yang saya tulis sejak vakum untuk sementara waktu. Begitu banyak hal yang telah terjadi di sini, dan akan terlalu banyak bila harus saya tuliskan dalam sebuah artikel.

Oleh karenanya kali ini saya mencoba menulis sesuatu yang biasa saya lakukan sebelumnya, dimana tiap hari Jumat saya selalu menulis impian. Entah itu yang masih menjadi impian, telah terjadi atau bahkan gagal sekalipun.

Siang itu saya masih duduk di kelas 3 SMA, saat beberapa teman duduk bergerombol bersama saya. Di tengah obrolan ringan tersebut ada seorang teman yang bekeinginan kuat untuk melanjutkan studi di luar negeri. Dia begitu berhasrat ingin bepergian ke luar negeri.

Tentu bukan hal yang aneh bila kemudian saya juga terinspirasi. Namun tidak berarti saya memiliki hasrat yang sekuat dia. Hingga akhirnya, 4 tahun kemudian, saya begitu bernafsu melanglang buana melihat dunia di luar sana.

Dosen pembimbing Tugas Akhir saya-lah yang selalu memberi saya  cerita inspiratif. Beliau lah yang meyakinkan saya bahwa bukan hal yang mustahil bagi saya untuk ke luar negeri. Oh ya, perlu saya garis bawahi, bepergian ke luar negeri yang saya maksud bukan sekedar jalan-jalan atau tamasya. Namun karena suatu tugas, entah tugas belajar atau tugas pekerjaan.

Dan ada lagi seorang mahasiswi desain komunikasi visual yang membakar semangat saya untuk put the dream at the highest place on the sky. Impiannya akan menara eiffel merangsang saya untuk memiliki impian yang lebih dari sekedar ingin beternak kuda.

Pada akhirnya saya pun berkeinginan kuat untuk meraih international exposure. Alhamdulillah, dalam beberapa jam ke depan saya akan melakukan perjalanan pertama saya ke luar negeri. Saya beserta rekan-rekan kerja akan berada di sister company milik perusahaan saya selama kurang lebih satu bulan lamanya.

Ini akan menjadi milestone bagi saya pribadi. Meski negara yang saya kunjungi bukanlah negara yang jauh lebih maju dari Indonesia, setidaknya Alloh memberi saya kesempatan emas untuk merasakan manis pahitnya hidup di negeri orang. Semoga perjalanan ini membawa berkah bagi saya dan orang-orang yang saya sayangi.

Việt Nam tôi tá»›i*Vietnam Saya Datang 

Sumber : Fantom-xp.com




Keep Learning, Keep Growing!!



Jumat, 01 Juni 2012

Saya (Ingin) Seperti Ayah

Sumber : www.pfr.co.uk

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya disini, per 23 Mei 2012 tepat setahun sudah saya menjalani program GDP. Menjelang akhir program ini, ada dua hal yang menjadi kecemasan saya. Pertama, cemas akan proses kelulusan. Sedang kecemasan akan perihal penempatan adalah yang kedua.

Sesungguhnya saat pertama kali diterima sebagai GDP Participant, saya sudah memiliki proyeksi penempatan sebagai mechanical engineering support. Meski berulang kali saya menuliskan bahwa saya ingin menjadi engineer, namun dalam perjalanannya saya sedikit kurang nyaman (lebih tepatnya kurang percaya diri) akan posisi ini. Hehe.

Namun pada akhirnya saya harus banyak mengucap Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur, terutama saat diumumkan secara resmi bahwa saya akan ditempatkan untuk posisi Maintenance Planning Engineer. Meski tetap sebagai engineer, namun concern dan penekanannya sedikit berbeda dengan posisi pada proyeksi awal saya, mechanical engineering support.

Dan yang membuat saya lebih bersyukur adalaah.."ternyata posisi ini hampir sama dengan posisi Ayah saya di tempat beliau bekerja saat ini. Bukan rahasia lagi bila sedari dulu saya sangat terinspirasi dari beliau. Hingga tulisan ini dibuat kami masih berbincang santai. Bercerita apa-apa saja yang kami lakukan seharian ini. Sesekali Ayah menghisap dalam-dalam rokoknya, sedang saya terus menulis.

Meski berada pada perusahaan yang berbeda nature of business dan budayanya, namun setidaknya ada banyak ilmu yang bisa saya gali. Kini saya seperti memiliki seorang mentor yang siap saya tanyakan setiap saat setiap waktu. Entah saat makan pagi bersama, memancing, berkebun, atau bahkan menonton Indonesian Idol bersama, Hehe.

Pada akhirnya saya menemukan satu alasan lagi untuk semakin terinspirasi dan sayang kepada orang tua saya. :)



Keep Learning, Keep Growing

Rabu, 23 Mei 2012

Satu Tahun "Membangun Bersama"


Sumber : goose.us/ Diambil dari salah satu koleksi foto dalam buku 100 tahun Holcim "Industrious".
Tidak ada sedikitpun bayangan bagi saya untuk berkiprah di industri semen. Saya pun tidak menduga jika harus memulai karir profesional di industri ini. Saya dibesarkan di lingkungan industri minyak, kerja praktik di industri strategis (pembuatan panser), selama kuliah pun saya tumbuh berkembang di lingkungan koperasi dan aktivitas kemahasiswaan lainnya. See, terbayang bagaimana bingungnya saya menghubungkan tiap milestone yang ada dalam kehidupan saya hingga kini.

Namun kemudian saya teringat salah satu impian sebelum lulus. Seandainya saya memang harus bekerja, saya ingin bekerja di sebuah perusahaan yang bisa membantu saya menaikkan kemampuan bahasa asing, mempermudah saya memiliki international networking, kemudian yang terpenting perusahaan tersebut bergerak di bisnis yang sustainable dan memiliki impact yang besar bagi masyarakat luas.

Tujuan saya saat itu jelas, industri minyak, entah perusahaan asing maupun BUMN. Namun ibu saya menambahkan satu lagi kriteria di dalam doanya, semoga saya bisa bekerja di Cilacap! Tentu saja maksud beliau PT.Pertamina RU IV. Namun Alloh memiliki rencana-Nya. Sampai tulisan ini dibuat, sudah setahun saya beraktivitas di PT. Holcim Indonesia.

Satu tahun yang lalu, 23 Mei 2011, saya beruntung bisa bergabung ke dalam Graduate Development Program salah satu perusahaan semen terkemuka di dunia*.

Selama itu pula saya dan teman-teman banyak mempelajari seluk beluk tentang industri yang memang kurang populer di bangku kuliah. 3 bulan pertama saya menjalani classroom training. Dibantu oleh para pembimbing, baik yang sudah  senior ataupun masih muda, setingkat team leader-engineer- hingga manager, kami dibimbing untuk menjadi seorang young cement engineer dalam waktu singkat.

6 bulan selanjutnya kami menjalani rotational OJT. Secara bergiliran kami menjalani OJT/magang, mulai dari Production Dept, Technical Dept, Maintenance Dept, Quarry Dept, Geocycle, Corporate Technical Services, hingga Occupational, Health, and Safety. Setelah itu, kami disebar ke berbagai fungsi yang sesuai dengan background pendidikan kami masing-masing. Saya sendiri kemudian menghabiskan sisa waktu 3 bulan terakhir untuk menjalani dedicated OJT di Maintenance Dept. Tepatnya Finish Mill Maintenance.

Selama periode tersebut, presentasi menjadi hal yang lumrah bagi kami. Hingga kami memiliki sebutan yang pas untuk menggambarkan profesi kami saat itu, yaitu Power Point Engineer. Hal ini merujuk pada aktivitas kami yang banyak bersentuhan dengan salah satu program presentasi paling populer, Microsoft Power Point.

Kini saya bersiap untuk menerima tanggung jawab yang lebih tinggi lagi. Mengutip pesan dari Uncle Ben di film Spiderman, "With Great Power, Comes Great Responsibility". Setelah setahun menjadi Power Point Engineer, saya diberi amanah sebagai Maintenance Planning Engineer.

"Katakanlah kapasitas produksi Finish Mill adalah 420 ton per jam. Sedang untuk membuat jalan raya, sekolah untuk masyarakat di pedalaman, pondok pesantren, perumahan, masjid, puskesmas untuk masyarakat tidak mampu, dan bangunan fisik lainnya dibutuhkan 130 ribu ton per hari. Jika saya tidak melakukan maintenance dengan cerdas, hingga menyebabkan operasi Finish Mill berhenti untuk 24 jam (loss production 420 ton per jam x 24 jam). Artinya, secara otomatis saya turut berkontribusi atas terlambatnya segala bentuk pembangunan yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat."

Semoga alinea di atas mampu mengingatkan saya untuk terus bersyukur, bersemangat dan meluruskan niat beribadah dalam menjalani profesi sebagai engineer.



Keep Learning, Keep Growing!!
*lebih pasnya, setahun yang lalu sebuah perusahaan multinasional beruntung memperoleh tanda tangan saya Hehe.

Jumat, 11 Mei 2012

Bermimpi, Berdoa, dan Berusaha

Banyak orang yang telah berkali-kali mencoba  melakukan sesuatu untuk mewujudkan keinginannya, namun berkali-kali juga mereka menemukan kegagalan. Dan saya pun sering mengalami hal seperti ini.

Pagi ini, bukan kebetulan bila saya melihat tayangan televisi yang dibawakan Ust. Yusuf Mansyur. Beliau banyak menyampaikan hal seperti yang saya utarakan di atas. Sudah banyak orang yang "bergerak" mengejar impiannya, namun tidak semuanya "meminta" kepada Sang Maha Kuasa. Akhirnya lebih banyak halangan dan rintangan yang dihadapi ketimbang kemudahan yang diraih.

Meski demikian, orang yang "bergerak" tanpa "meminta" masih lebih baik ketimbang orang yang "tidak pernah bergerak" dan "tidak pernah meminta". Artinya orang tersebut benar-benar tidak melakukan apa-apa. Jangankan "bergerak", "meminta" pun tidak pernah.

Bagaimana mungkin "meminta", jikalau tidak ada yang "diminta". Memang saya akui, seringkali muncul keraguan dan ketakutan dalam diri sendiri saat akan memulai bermimpi. Keberanian untuk bermimpi berbanding lurus dengan keyakinan akan pertolongan Alloh. Semakin kita yakin akan pertolongan Nya, semakin berani kita bermimpi.

Kemudian, bila kita telah memiliki mimpi (sesederhana apapun itu), maka sebarkanlah. Begitu kira-kira pesan seorang teman saya, Achmad Ferdiansyah. Semakin banyak yang tahu, semakin banyak yang mendoakan, dan semakin banyak yang akan mengingatkan kita manakala kita kehabisan spirit.

Di akhir acara, Ust. Yusuf mengingatkan kita untuk terus "meminta" kepada Nya. Baik tiap akhir sholat fardlu, dhuha, maupun solat lail. Tidak lupa memperbanyak amalan yang akan mempermudah datangnya pertolongan Nya.

Terakhir, teruntuk saya dan teman-teman yang masih berkutat dengan Tugas Akhir, berjuang mendirikan bisnisnya, bergerilya di medan recruitment test, bersusah payah membangun karir dan menyelesaikan Final Project. Mari saling mengingatkan untuk jangan pernah lelah berhenti untuk 3 hal, bermimpi, berdoa ("meminta"), dan berusaha ("bergerak")!!



Satu hal yang saya "minta" hari ini, mudahkan dan sukseskanlah Final Project saya Ya Rabb. 
"Failure Analysis of Pre Grinder's Bolt at Cement Mill Area, Holcim CIL Plant" 
No Maintenance, No Cement
No Cement, No More Building, No More School, No More Pesantren! 


Keep Learning, Keep Growing!!

Jumat, 06 April 2012

Bupati (Cilacap) Wannabe!

Walikota Solo Joko Widodo (Jokowi)

Saya mengawali masa kuliah dengan sebuah proses orientasi dan kegiatan organisasi yang sangat menantang. Sejak itu saya selalu ditanya tentang mimpi. Dibanding teman-teman lainnya, saya merasa sangat kecil. Saya sebenarnya sangat sederhana, menjadi engineer. Meski di kemudian hari saya merasa tidak terlalu yakin  untuk profesi ini.

Saya pun berpikir apa jawaban yang kira-kira terdengar unik dan wah. Akhirnya, entah bisikan darimana, saya menemukan jawaban yang "sedikit" idealis. Setiap kali saya mengikuti proses rekrutmen organisasi atau pelatihan, saya hampir pasti akan mengatakan "Bupati Cilacap" sebagai impian saya. Dan berhasil!! Saya hampir pasti selalu sukses melewati proses screening saat mengeluarkan jurus tersebut. Termasuk saat rekrutmen anggota Kopma dr.Angka ITS dan SDM IPTEK.

Seiring berjalannya waktu saya seperti tersihir oleh ucapan saya sendiri. Saya perlahan tertarik membaca dan mengamati kiprah para Kepala Daerah bertalenta, mulai dari Bupati Lamongan, Walikota Surabaya, hingga Walikota Solo. Inilah yang menginspirasi saya. Sesaat dada ini seperti terbakar aura semangat untuk membangun tanah leluhur. Hal ini juga tak terlepas dari terpilihnya kembali kakek saya sebagai Kepala Desa.

Meski hanya seorang Kepala Desa, bagi saya ini lebih dari cukup untuk menginspirasi saya. Di usia yang menginjak 70 tahun, semangat dan energinya tetap membara tak surut dimakan waktu, dan yang terpenting beliau masih dipercaya untuk memimpin. Di saat teman-teman lain mengusung tokoh-tokoh pemimpin internasional sebagai inspirasinya, cukuplah kakek untuk saya. Bahkan saya pun memasang poster foto beliau di kamar asrama saya. Pembawaannya yang kharismatik dan tenang membuat saya semakin kagum.

Kini situasinya sedikit sulit dan rumit untuk saya. Meski memiliki segudang ide dan pemikiran untuk tanah kelahiran saya, sejujurnya saya sendiri belum secara jelas memetakan peta perjalanan ke arah sana. Saat ini saya berprofesi sebagi seorang engineer, bisa dibayangkan betapa jauhnya hubungan antara engineer dan Kepala Daerah.

Saya benar-benar menyerahkannya kepada Alloh. Karena saya menyadari sepenuhnya bahwa membangun daerah tidak berarti harus menjadi Kepala Daerah, menjadi pemimpin bukanlah perkara jabatan. Berbicara tentang pemimpin atau Kepala Daerah akan berujung pada amanah, bukan ambisi. Pada akhirnya, masyarakat atau ummat akan memilih orang yang paling tepat untuk memimpin mereka.






Keep Learning, Keep Growing!!

Jumat, 30 Maret 2012

Khitbah? Sure it's my dream!

Sudah bukan rahasia lagi bila di kalangan teman-teman dan keluarga besar,  saya terkenal sebagai anak yang suka berkhayal atau terlalu berpikir jauh ke depan. Meski pada awalnya sebagian khayalan itu hanya berupa senda gurau belaka, namun belakangan kebiasaan ini justru  menuntun alam bawah sadar saya untuk berlari menuju tempat yang hendak saya raih.

Sebuah contoh kecil. Saat saya kira-kira masih duduk di bangku kelas 5 SD, saya sudah berpikir ke mana kelak saya akan kuliah. Berbekal keterbatasan informasi dan inspirasi. Saya memilih ISI (Institut Seni Indonesia Jogjakarta) sebagai tujuan saya. Impian saya bekerja seperti halnya kompas dari Alloh yang mengarahkan saya untuk ke sana kemari. Perlahan saya pun mendapatkan banyak masukkan berharga. Hingga pada akhirnya saya pun mantap memilih Surabaya dan ITS sebagai labuhan selanjutnya.

Inilah nilai yang saya yakini, bahwa apa yang kita impikan hari ini, itulah kita di masa depan. Dan apa apa yang kita raih hari ini adalah hasil dari impian dan kerja keras di masa lalu.

Nilai ini pun saya terapkan dalam banyak hal. Termasuk saat akan memulai komitmen dengan seseorang, sebelum melangkah lebih jauh, saya sudah memperhitungkan dimanakah letak ujung dari langkah yang akan saya ambil. Di kemudian hari, berbekal doa dan upaya, saya pun ditunjukkan banyak kemudahan.   

Pada akhirnya siapakah yang mengira bila seorang gadis yang bertahun-tahun menutup pintu hatinya, seketika luluh membukakan pintu hatinya untuk saya dan sepaka untuk berkomiten bersama saya menyempurnakan agama. Siapa yang mengira bila jarak yang terpaut sangat jauh antara Bontang dan Cilacap bisa menjadi terasa sangat dekat.

Dan Alhamdulillah tepat pada tanggal 24 Maret 2012, saya beserta keluarga saya resmi meng-khitbah Tyzha Inandia. Keluarga kami sepakat untuk meneruskan proses ini menuju ikatan yang sah dan halal.

..Seperti halnya hidup yang diibaratkan dengan senapan mesin. Maka mimpi adalah amunisinya. Mimpilah yang telah membuat hidup ini terasa lebih hidup..
..Berjuang meraih kumpulan bintang bersama-sama tentu akan terasa lebih khidmat dan menyenangkan ketimbang harus mengejar matahari seorang diri..

 Subhanallah.



Keep Learning, Keep Growing!!
*Reff : http://www.tyzhainandia.blogspot.com/

Jumat, 09 Maret 2012

Yes, it's my Dreams!

Dua minggu ini adalah  Rotational OJT terakhir saya sebelum memasuki Dedicated OJT.  Lagi-lagi saya belajar banyak hal, mulai dari work permit, hazard report, OHS pyramid, Fatality Prevention Element, Job Safety Analysis, hingga patrol bersama fire brigade. Tanpa diduga, selama 2 minggu ini saya mendapatkan kesempatan emas untuk mewujudkan 2 impian yang pernah saya tulis sebelumnya, yaitu tentang ketertarikan saya terhadap dunia militer dan mengendarai alat berat entah bis atau truck.

Saya berkesempatan untuk memegang senjata api atas seijin petugas yang berwenang. Senjata yang saya pegang ini berjenis SS-1  V5 dan tentu saja dalam kondisi kosong tanpa peluru. Sebelumnya saya pernah melihat senjata serupa, bahkan  saya pun pernah kerja praktik di perusahaan pembuat senjata tersebut.



 

Berikutnya, saya sempat merasakan betapa menakjubkannya mengendarai sebuah truk pemadam kebakaran. Jangan dibayangkan saya berkeliling pabrik dengan mengendarai kendaraan ini. Saya tidak memiliki izin untuk itu. Saya hanya mengendarai truk ini masuk ke dalam tempat parkir, tentu saja dengan pengawasan yang ketat dari karyawan yang berwenang. Bagi saya, ini lebih dari cukup untuk mewujudkan impian saya sedari kecil.



 



Saya jadi teringat dua hal, pertama adalah hadist mengenai anjuran dari Rasul bagi seorang laki-laki untuk menguasai 3 keterampilan hidup, yaitu berkuda, memanah, dan berenang. Saya bersyukur bahwa ternyata anjuran tersebut in line dengan impian saya.

Kuda merupakan salah satu kendaraan tercanggih pada masa Rasululloh. Bila dikaitkan dengan kondisi terkini, kita sebagai laki-laki muslim harus bisa mengendarai paling tidak mobil, bila perlu alat berat atau bahkan pesawat terbang. Bukan tidak mungkin menerbangkan pesawat akan menjadi mimpi saya berikutnya.

Memanah pun merupakan cara menyerang musuh yang paling canggih. Sedang  saat ini, memanah bisa digantikan dengan menembak. Terkait tembak menembak, saya sepertinya harus banyak belajar banyak dengan Ayah, selain hobi berburu dan menembak beliau pun terdaftar sebagai anggota Perbakin.

Kedua, saya kembali membuktikan bahwa tidak ada salahnya untuk terus bermimpi dan menuliskan impian. Semakin banyak orang yang membaca dan mendoakan impian kita,  maka peluang terkabulnya impian tersebut pun semakin besar. Dan semakin banyak impian yang terwujud,  kita akan semakin ketagihan dan percaya diri untuk bermimpi yang lebih tinggi lagi. Karena bermimpi sekali lagi bukanlah dosa besar yang memalukan.hehe.


Keep Learning, Keep Growing!!

Senin, 05 Maret 2012

Lulusan S1 : Berkarir atau menjadi Ibu Rumah Tangga


Bukhari-Muslim  meriwayatkan dari Abu Hurairah R.A, ia berkata :
"Seseorang pernah datang kepada  Rasulullah, lalu bertanya :
'Wahai Rasulullah. siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?'
Beliau menjawab : 'Ibumu.'
Orang tersebut bertanya : 'Lalu siapa lagi?' Beliau menjawab : 'Ibumu.'
Orang tersebut bertanya : 'Lalu siapa lagi?' Beliau menjawab : 'Ibumu. 
'Orang tersebut bertanya : 'Lalu siapa lagi?' beliau menjawab : 'Bapakmu."

Sejak kecil hingga kini dewasa, kita diajarkan untuk selalu menghormati orang tua, terlebih Ibu. Ibu merupakan sosok yang sangat spesial, seperti digambarkan dalam sebuah hadits yang menyebutkan bahwa surga di bawah telapak kaki Ibu. Kini setelah tumbuh dewasa, kita tidak hanya cukup belajar bagaimana menghormati dan menyayangi Ibu, lebih dari itu kita mulai dihadapkan pada sebuah tuntutan untuk menghadirkan sosok Ibu seperti apakah yang kelak akan menjadi figur yang dihormati oleh anak-anak kita.

Saya tertarik mengangkat topik ini setelah membaca sebuah status di akun FB milik teman saya. Dia menulis "Apakah buruk bekerja sebagai full ibu rumah tangga untuk seorang wanita yang bergelar ST?". Di era seperti sekarang ini, sulit rasanya menemukan perempuan dengan tittle pendidikan tinggi yang hanya beraktivitas di rumah. Mulai dari alasan ekonomi hingga kesetaraan gender, banyak wanita yang akhirnya bersama kaum pria berkecimpung di dunia kerja.

Sebagai sosok yang harus dihormati, sudah barang tentu seorang Ibu harus tampil sebagai figur yang bisa menjadi contoh dan tauladan bagi anak-anaknya. Seperti yang dikatakan oleh seorang narasumber di Kick Andy, Ust.Hasanan Junaini. Ibu adalah guru terbaik bagi seorang anak. Dilihat dari segi apapun, seorang guru di sekolah takkan pernah bisa menggantikan sosok Ibu. Baik dari segi waktu dan kualitas kasih sayang. Oleh karenanya, seorang perempuan harus dibekali pendidikan yang cukup tinggi. Karena para perempuan mengemban tugas yang sangat mulia, yaitu mendidik anak-anaknya (baca: menyiapkan para calon pemimpin bangsa).

Ada yang perlu diluruskan mengenai cara pandang yang keliru tentang arti penting pendidikan. Kita menuntut ilmu, sekolah tinggi, bukan hanya untuk mendapatkan ijazah, bukan hanya untuk mencari pekerjaan. Orang menuntut ilmu tidak lain tidak bukan untuk meningkatkan kualitas hidupnya dan memperluas pilihan dalam hidupnya. Selain itu, dengan wawasan dan pola pikir yang dimilikinya, seorang Ibu dengan tingkat pendidikan yang tinggi secara logika akan mampu mendidik anaknya relatif lebih baik dibanding ibu lainnya.

Kini banyak perempuan dengan tittle pendidikan yang tinggi dihadapkan pada pilihan yang sulit, yaitu mengejar karir atau mengurus anak, meski tidak sedikit pula yang bisa menggabungkan keduanya.  Bagi saya, satu hal yang harus dipegang oleh seorang Ibu yaitu dia harus mampu tampil menjadi sosok yang menginspirasi anak-anaknya kelak. Oleh karenanya, apapun profesinya selama halal dan tidak mengurangi kualitas perhatian dan kasih sayang kepada keluarga dan anak-anaknya, saya pasti akan mendukungnya.

Saya sendiri tidak sepenuhnya sepakat bila seorang wanita dengan latar pendidikan tinggi hanya menghabiskan waktu untuk aktivitas rumah tangga. Saya yakin dengan wawasan, cara pandang, dan ilmu pengetahuan yang mumpuni, seorang perempuan bisa melakukan aktivitas extra mile di rumah, entah itu menulis, beraktivitas sosial atau bahkan mengelola sebuah bisnis. Karena sebagaimana manusia normal, seorang perempuan membutuhkan ruang untuk mengaktualisasikan dirinya. Namun hal ini juga bukan berarti saya mendukung seratus persen seorang perempuan untuk menghabiskan pagi hingga larut malam untuk bekerja. Aktivitas seperti ini tentu saja akan menyita waktu untuk keluarga dan anak.

Saya percaya masih banyak yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan untuk menyeimbangkan antara karir dan keluarga. Bukan tugas yang ringan memang, namun bukan pula hal yang sulit selama ada kerja sama dan pengertian yang baik di antara suami dan istri.

.. I would like to ensure that either my wife or I really deserve to be inspirative figures for our sons/daughters. (Whether they’ll be inspired to be Mech.Engineer or Visual Designer, Job Seeker or Job Creator, Public Speaker or Writer, Corrosion Engineer or Illustrator, and even Managing Director or Managing Editor).

Keep Learning, Keep Growing!!

Jumat, 24 Februari 2012

Ayam, inikah salah satu passion saya?

Menjelang akhir tahun 2011 saya berhasil menyelesaikan sebuah buku karya Rene Suhardjono yang berjudul Your Job isn't Your Career. Disebutkan olehnya passion bukan hanya sekedar hobby atau pekerjaan yang disukai. Lebih dari itu passion adalah aktivitas yang bila kita lakukan, mampu membuat kita merasa sangat nyaman (enjoy) hingga lupa waktu.

Berbicara passion, saya sempat berpikir apakah passion itu menular? Apakah passion bersifat genetis yang bisa diturunkan secara biologis?Ayah saya adalah orang yang begitu passionate kepada tanaman dan hewan ternak. Aneka tanaman hias dan hewan ternak pernah beliau kembang biakan.

Hampir setiap pulang kerja atau ada waktu senggang, sudah pasti beliau selalu ada di pekarangan rumah. Beliau sangat rajin membersihkan kandang, mencabut rumput liar. Hingga pekarangan kami pun selalu bersih dan jauh dari bau yang tidak sedap.

Sedari kecil saya sudah terbiasa untuk membantu beliau, entah itu hanya menyirami tanaman, menanam bibit baru,  memberi makan ayam, membersihkan kandang, hingga bersepeda pergi ke sawah membawa satu karung kosong dan mencari rumput untuk kelinci atau marmut. Tidak hanya merawat, saya pun terbiasa memotong dan mengolah dagingnya.

Aktivitas itu secara tidak langsung mengasah kecerdasan saya terhadap hewan dan tanaman. Meski saya akui, saya lebih tertarik ke hewan ternak. Selepas SMA atau saat memulai kuliah, aktivitas tersebut praktis jarang saya lakukan. Saya tidak pernah lagi berkutat dengan aktivitas yang berkaitan dengan hewan ternak.

Hingga suatu hari, saat sedang istirahat di quarry shale (tambang tanah liat), saya melihat sekumpulan ayam. Seketika saya terbawa ke masa 5-10 tahun yang lalu saat saya sedang gila-gilanya merawat ayam.Sesaat kemudian, saya pun beranjak dari tempat duduk dan mulai mendekati sekumpulan ayam tersebut.Saya berjalan pelan sembari mengeluarkan suara-suara aneh. Hehehe.

Perlahan saya pun semakin dekat dengan mereka, tanpa rasa takut dan curiga, mereka pun mendekati saya. Yee,,dengan ayunan tangan yang pelan, saya pun berhasil menangkap seekor ayam jantan/jago. Senang rasanya bisa merasakan kembali sensasi yang telah lama hilang. Hehe. Bersamaan dengan itu otak saya seperti menghasilkan hormon endorfin yang cukup banyak. Sepertinya kecerdasan saya dengan hewan (ayam) masih belum hilang.


Ayam, inikah salah satu passion saya?Hehe

Kelak saat saya mulai mendirikan rumah pribadi, akan saya sisihkan sebagian lahan untuk memelihara ayam. Saya akan mengoleksi berbagai macam ayam, mulai dari ayam bekisar, ayam bangkok, ayam arab, hingga ayam cemani atau ayam hutan. Saya akan buat rumah saya ramai dengan kokokan ayam di pagi hari. :)


Keep Learning, Keep Growing!!!

Jumat, 17 Februari 2012

Lupa Hari, Tanda Saya Menikmati Hidup (Part 2) :)

Saat memulai menulis artikel ini, saya masih berada di Central Control Room (CCR) NAR Plant, itu sekitar pukul 8 malam. Kini jam saya menunjukkan 8 menit lagi menuju pukul 11 malam, saat saya kembali membuka notebook untuk menyelesaikan artikel ini.

Beginilah siklus hidup saya selama 14 hari terakhir. Kurang lebih12 jam dalam sehari saya habiskan di plant. Cukup melelahkan awalnya, namun terbiasa pada akhirnya. Meski demikian saya harus berkata jujur bahwa saya banyak kehilangan waktu berharga.

Kalau bukan karena keinginan saya yang begitu kuat untuk belajar tentang Electrostatic Precipitator secara serius, sudah pasti saya quit di hari ke 4 atau ke 5. To be honest, akhir-akhir ini saya kesulitan menyisihkan waktu untuk menulis blog, membaca buku, bahkan tilawah dan tahfidz. Jadwal menulis yang semula pagi pun baru bisa terlaksana pada malam harinya.

Saya tidak bisa membayangkan andai saya bekerja di off shore atau industri pertambangan, yang memiliki 12 jam kerja dan memiliki sistem kerja on off. Bisa jadi blog ini tak pernah ada dan terawat. Daftar buku yang saya baca pun akan mandeg tak bertambah.

Selain alasan hasrat untuk belajar tentang EP, ada satu lagi yang membuat saya bisa survive dan tetap menikmati hari-hari selama overhaul. Apalagi kalau bukan orang-orang di sekitar saya. Bila minggu lalu saya sudah bercerita tentang orang-orang di luar Holcim, maka kini giliran saya menceritakan orang-orang di lingkungan Holcim yang banyak menemani, membimbing, dan membagi ilmunya kepada saya.

1. Pak Bambang
    Inilah aktor/lakon/dalang di balik semua keterlibatan saya dan teman-teman lainnya di overhaul. Beliau-lah yang saya maksud sebagai engineer yang meminta saya dan beberapa teman untuk meng-handle masing-masing sebuah project. Lulusan Teknik Mesin UNDIP ini adalah Kiln Mechanical Engineer.

Overhaul kali ini , ada sekitar 8 projects yang harus di supervisi olehnya. Itu sebabnya, beliau meminta partisipasi peserta GDP untuk membantunya. Kami diberi list pekerjaan, step dan langkah-langkah pekerjaan, dan tiap hari kami harus menyampaikan daily report. Sejauh ini saya bekerja sama dengannya, saya merasa cukup nyaman. Beliau begitu kebapakan, sederhana luwes dalam berkomunikasi, pandai mendelegasikan tugas, dan rendah hati.

Namun, dari sekian banyak penilaian saya tentang beliau, saya paling terkesima dengan kemampuannya untuk selalu tenang dan menjaga emosi.  Segenting apapun situasinya, beliau selalu tampak tenang dan tidak marah.




2. Pak Taufik
    Tidak lain tidak bukan, beliau lah orang "ngapak" pertama di Maintenance Dept yang berhasil saya temukan. Kesamaan latar belakang budaya membuat kami semakin akrab. Itu sebabnya saya cepat nyaman bekerja sama dengannya. Pak Taufik adalah seorang Team Leader untuk  Kiln Mechanical Maintenance team.

Karakter beliau mengingatkan saya dengan sosok field coach semasa Kerja Praktik di PT. Pertamina RU IV Cilacap, Pak Sunaryono (Naryo). Bila Pak Naryo menyuruh saya untuk naik turun tanki minyak, maka Pak Taufik tanpa ragu menyuruh saya untuk naik-turun dan keluar-masuk EP. Beliau berdua termasuk field coach yang memiliki semangat untuk men-develope bawahannya dengan pekerjaan kecil, sederhana, namun tetap make sense.

Sama halnya dengan Pak Bambang, beliau cukup sabar, humoris, dan santun. Beliau, menurut saya, berhasil memimpin tim Kiln Mechanical Maintenance dengan baik.




3. Pak Sulastaryo (Taryo)
    Bila sosok Pak Taufik mengingatkan saya dengan sosok Pak Naryo, maka Pak Taryo berkali-kali membuat saya ingat pada salah satu paman saya di desa. Mukanya sangar. Perawakannya tidak terlalu tinggi namun berotot. Namun tutur katanya lembut, pandai mendelegasikan tugas, dan yang terpenting suka berbagi ilmu.

Satu hal yang membuat saya langsung cocok dengannya adalah kenyataan bahwa kami berasal dari kota yang sama, Cilacap Bercahaya. Hehe. Itu sebabnya komunikasi kami berlangsung sangat mulus. Saya bukannya pilih-pilih dalam bergaul, bukan pula rasis. Hanya saja saya perlu tahu latar belakang seseorang sebelum memilih bentuk komunikasi yang tepat, sehingga tercipta hubungan interpersonal yang hangat.

Selama overhaul ini, beliau banyak membagi ilmu tentang equipment yang ada, part, dan bentuk maintenance pada dilakukan. Sebagai seorang team member, beliau termasuk orang yang kreatif, komunikatif, dan tentu saja terampil dalam melaksanakan aktivitas lapangan.  
 


    Di samping para karyawan, kehadiran teman pun banyak membantu saya dalam banyak hal. Teman bisa jadi tempat untuk curhat, bertanya, dan tentu saja belajar bersama.

4. Dani
    Dani dan saya adalah sama-sama bimbingan Pak Taryo. Bedanya, Dani menangani EP Cooler, sedang saya menangani EP Raw Mill. Sebagai seorang siswa EVE, dia memiliki semangat dan usaha yang sangat keras. Kami pun banyak berdiskusi dan sharing ilmu. Dibanding saya, keterampilan dia dalam memperbaiki suatu equipment berada di atas saya. Begitu pula dengan pengetahuannya di bidang maintenance. Dalam beberap hari ke depan kami akan melakukan inspeksi bersama di kedua EP tersebut. Semangat belajarnya banyak mengilhami saya untuk terus belajar apapun tanpa henti.





5. Bagus Dewaji (Ajik)
    Alumni D3MITS angkatan 2004 ini merupakan yang tertua diantara anak-anak mesin. Dia meneruskan S1 pada tahun 2008 melalui program Lintas Jalur. Meski banyak orang yang menilai dia innocent saat pertama kali bertemu dengannya, namun kegilaannya dan selera humornya jauh melebihi perkiraan kita semua. Setiap kami berkumpul di CCR, obrolannya selalu mengundang gelak tawa, terlebih bila sudah masuk ke topik bahasan yang berstatus Parental Advisory. Selama overhaul ini, dia memegang Link Pan Conveyor Replacement Project.



6. Dede Kaladri (Dede)
    Inilah teman duet saya di EP. Sebagai seorang electrician dia juga memiliki banyak list pekerjaan di EP. Kami banyak berdiskusi, belajar, melakukan inspeksi di dalam EP, naik turun Collecting Plate Frame dan DE Frame. Tidak hanya itu, dia sangat ringan tangan. Dia tak segan-segan melakukan pekerjaan kasar di roof EP dan membantu para pekerja. Meski berpendidikan tinggi, dia tidak pernah memandang apapun bentuk pekerjaannya. Selama dia masih bisa membantu, sudah pasti Dede akan terlibat dan membantu pekerjaan tersebut. Hal ini  ditunjang dengan kemampuan berkomunikasi yang hebat dengan orang yang di bawahnya.


 7. Ferry Nur Hidayat (Ferry)
    Tanpa ragu saya mengatakan bahwa dialah orang paling sering bersama dengan saya. Bukan apa-apa, selain karena tinggal serumah, bahkan sekamar, kami berangkat dan pulang kerja pun selalu bersama. Lulusan Teknik Mesin UGM ini adalah orang yang memiliki semangat yang sangat tinggi untuk belajar dan berkembang. Kami banyak menghabiskan waktu untuk saling tukar cerita, berdiskusi, dan belajar bersama. Diskusi yang kami lakukan tidak mengenal ruang dan waktu. Bahkan ketika mandi pun kami masih sempat berdiskusi tentang kurva tegangan-ragangan sebuah baja. Dan sebelum tidur, kami sering bercerita tentang apa yang kami dapatkan dalam satu hari. Terutama tentang proyek masing-masing. Kali ini Ferry menangani perbaikan Kiln Tyre yang mengalami keretakan. 



Oh ya, kami punya kebiasaan untuk membiasakan mengobrol dalam bahasa Inggris, bukan karena apa, ini berawal dari keinginan kami untuk meningkatkan nilai TOEIC kami yang masih terjerembab di papan bawah. Heheh

8. Lazzarina (Rina)
    Bila ada yang menanyakan siapa oran maintenance paling cantik, sudah pasti Rina jawabnya. Bagaimana tidak,  dialah satu-satunya perempuan di antara anak mesin lainnya. Dia berasal dari Malang dan lulusan Teknik Mesin Brawijaya. Dia lulus dengan predikat cumlaude dan menyelesaikan kuliah hanya dalam waktu 3.5 tahun. Sebagai perempuan, kemampuan logikanya jauh diatas rata-rata perempuan kebanyakan. Itu sebabnya lebih banyak yang bilang dia tomboy ketimbang feminim. Hehehe. tak hanya itu, kemampuannya berkomunikasi dalam bahasa Inggris juga cukup membuat saya bersemangat untuk belajar hal yang sama. Overhaul kali ini dia memegang proyek terkait perbaikan dan pergantian part pada Hydraulic Roller Breaker bersama seorang expert dari luar negeri.



Tanpa mengesampingkan rekan-rekan yang lain, saya menulis hanya sampai Rina. Sebenarnya masih ada Avid dan Ganda. Namun karena waktu yang semakin larut dan rasa lelah yang tak dapat dibohongi, saya cukupkan sampai Rina. Insya Alloh kelak bila ada momen yang tepat, saya pun akan bercerita tentang Avid, Ganda, dan rekan lainnya. Selamat beristirahat.


Keep Learning, Keep Growing!!