Tampilkan postingan dengan label Vietnam#1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vietnam#1. Tampilkan semua postingan
Jumat, 01 Februari 2013
Selasa, 14 Agustus 2012
Bayi Vietnam :)
Secara fisik tidak banyak yang berbeda antara orang Indonesia dengan Vietnam. Hanya saja mereka nampak lebih putih dan sipit. Justru orang Indonesia harusnya banyak bersyukur karena memiliki karakteristik yang lebih beragam, ada yang berkulit putih, sawo matang, hingga hitam. Sedang di Vietnam mayoritas berwajah oriental. Termasuk seorang batita yang saya temui kala membeli bubur ketan hitam.
Menggemaskan!
Keep Learning, Keep Growing!!
Menggemaskan!
Keep Learning, Keep Growing!!
Sabtu, 11 Agustus 2012
Bubur ala Vietnam
Sejujurnya saya tidak tahu banyak seluk beluk tentang makanan. Terlebih lagi saya termasuk anak yang susah sekali untuk makan. Namun semenjak sulit untuk mendapatkan makanan khas Indonesia, timbul ketertarikan saya untuk mengabadikan makanan yang jarang saya temui. Hehe.\
Selama puasa, bagi kita orang Indonesia terbiasa berbuka dengan takjil atau makanan pembuka yang manis seperti kolak. Namun berhubung kolak tidak begitu populer di Vietnam, akhirnya kami mencari makanan pengganti. Hingga bertemulah kami dengan bubur. Saya tidak seberapa yakin bagaimana rasa bubur ini. Hehe. Namun tambahan kacang, jelly, santan yang sangat kental, dan dipadu dengan agar-agar rumput laut membuat bubur ini tidak kalah lezat dengan bubur kacang hijau ala Indonesia.
Keep Learning, Keep Growing!!
Selama puasa, bagi kita orang Indonesia terbiasa berbuka dengan takjil atau makanan pembuka yang manis seperti kolak. Namun berhubung kolak tidak begitu populer di Vietnam, akhirnya kami mencari makanan pengganti. Hingga bertemulah kami dengan bubur. Saya tidak seberapa yakin bagaimana rasa bubur ini. Hehe. Namun tambahan kacang, jelly, santan yang sangat kental, dan dipadu dengan agar-agar rumput laut membuat bubur ini tidak kalah lezat dengan bubur kacang hijau ala Indonesia.
Keep Learning, Keep Growing!!
Jumat, 10 Agustus 2012
Mimpi saya 4 tahun silam
Empat belas tahun silam saya tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa saya bisa pergi ke Jakarta. Karena bagi keluarga saya, sangat sulit bisa pergi ke ibu kota. Selain karena tidak ada saudara dan handai taulan yang bisa dikunjungi, kami pun tidak punya banyak uang untuk sekedar berlibur ke Jakarta. Namun nyatanya berkat doa dari ibu saya, akhirnya saya berangkat juga ke Jakarta. Saya pergi bukan hanya untuk bersenang-senang, namun untuk berlomba bersama teman-teman saya lainnya.
Hingga beberapa tahun kemudian dan lulus SMA, itulah prestasi "ter-amazing" yang pernah saya ukir. Saya tidak membayangkan bisa berkenalan dengan teman-teman dari luar Kabupaten Cilacap. Semua keluarga saya lahir, besar, berkembang, hidup, dan berdomisili di Cilacap.
Tidak heran saya begitu girang bisa berteman dengan anak dari Semarang, Pati, Demak dan Magelang. Saat itu kami sama-sama membawa nama Jawa Tengah di Lomba Mata Pelajaran tingkat Nasional. Meski gagal meraih emas, namun saya masih bangga karena bisa berkontribusi dengan mengamankan juara V di mata pelajaran Seni Rupa hingga Jawa Tengah menjadi Juara Umum kala itu.
Kini, saya sudah tidak terlalu ingat siapa saja teman-teman saya saat itu. Namun ada kebanggaan tersendiri bisa memiliki teman-teman di luar kota saya. Pertemanan ini lahir bukan sekedar asal kenal, namun kenal karena dipertemukan melalui sebuah ajang kompetisi.
Tujuh tahun setelah peristiwa fenomenal itu, saya pun kembali dipersatukan bersama 180 teman lainnya dalam satu angkatan Jurusan Teknik Mesin. Saya banyak memiliki teman mulai dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur. Sesaat saya merasa seperti de javu, berkenalan dan bergaul dengan orang-orang baru dari daerah yang masih asing bagi saya.
Hingga kemudian di suatu hari saat training pengembangan diri di Pesma SDM IPTEK, seorang trainer (Pak Ahmad Guntar) menyampaikan sebuah konsep self development yang diilhami dari pidato mendiang Steve Jobs saat seremoni kelulusan di Harvard University. Pak Guntar membakar semangat kami lewat connecting the dots principle. Persis seperti apa yang disampaikan Steve Jobs.
Alam bawah sadar saya menggiring saya ke medio 97 saat saya berlomba di Jakarta. Kemudian lari lagi ke masa pengkaderan Maba Mesin 2006 (POROS 2006). Saya kemudian berpikir sedikit liar. Bila di usia 10 tahun saja saya bisa melebarkan pergaulan ke level provinsi, kemudian usia 18 tahun merambah level nasional. Maka selambat-lambatnya 10 tahun lagi saya harus sudah bisa menembus level regional atau internasional.
Sedikit terkesan muluk saat itu. Namun bila kita tidak berani bermimpi bagaimana kita bisa meraih sesuatu yang istimewa. Saya teringat quotes yang sangat popular dari Walt Disney, "if you can dream it, you can do it".
Belum juga 4 tahun sejak saya bermimpi seperti itu, Alloh telah membukakan jalan-Nya. Meski hanya merupakan bagian kecil dari tim Tuban Plant Benchmarking, namun saya harus banyak bersyukur bisa menembus hingga level ini. Banyak teman-teman baru dari negeri tetangga yang bisa saya kenal dan menjadi rekan kerja yang baru. Banyak hal dan budaya baru yang telah saya pelajari disini. Dan kesempatan untuk mengembangkan diri di level internasional pun semakin terbuka lebar.
Terus terang kesempatan saya ke Vietnam membuat saya semakin kecil di hadapan Nya. Saya takkan mampu berbuat dan meraih segalanya tanpa pertolongan Nya. Saya langsung teringat impian saya 4 tahun yang lalu akan mimpi ke luar negeri. Sekali lagi, saya membuktikan bahwa kita memang harus berani bermimpi. Bila memang sudah bermimpi maka berusaha dengan keras dan banyak-banyaklah meminta doa. Dan untuk meng-akselerasi doa, jangan lupa meminta doa restu dari ibu kita tercinta.
Sampai jumpa di Indonesia.
Keep Learning, Keep Growing!!
Hingga beberapa tahun kemudian dan lulus SMA, itulah prestasi "ter-amazing" yang pernah saya ukir. Saya tidak membayangkan bisa berkenalan dengan teman-teman dari luar Kabupaten Cilacap. Semua keluarga saya lahir, besar, berkembang, hidup, dan berdomisili di Cilacap.
Tidak heran saya begitu girang bisa berteman dengan anak dari Semarang, Pati, Demak dan Magelang. Saat itu kami sama-sama membawa nama Jawa Tengah di Lomba Mata Pelajaran tingkat Nasional. Meski gagal meraih emas, namun saya masih bangga karena bisa berkontribusi dengan mengamankan juara V di mata pelajaran Seni Rupa hingga Jawa Tengah menjadi Juara Umum kala itu.
Kini, saya sudah tidak terlalu ingat siapa saja teman-teman saya saat itu. Namun ada kebanggaan tersendiri bisa memiliki teman-teman di luar kota saya. Pertemanan ini lahir bukan sekedar asal kenal, namun kenal karena dipertemukan melalui sebuah ajang kompetisi.
Tujuh tahun setelah peristiwa fenomenal itu, saya pun kembali dipersatukan bersama 180 teman lainnya dalam satu angkatan Jurusan Teknik Mesin. Saya banyak memiliki teman mulai dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur. Sesaat saya merasa seperti de javu, berkenalan dan bergaul dengan orang-orang baru dari daerah yang masih asing bagi saya.
Hingga kemudian di suatu hari saat training pengembangan diri di Pesma SDM IPTEK, seorang trainer (Pak Ahmad Guntar) menyampaikan sebuah konsep self development yang diilhami dari pidato mendiang Steve Jobs saat seremoni kelulusan di Harvard University. Pak Guntar membakar semangat kami lewat connecting the dots principle. Persis seperti apa yang disampaikan Steve Jobs.
Alam bawah sadar saya menggiring saya ke medio 97 saat saya berlomba di Jakarta. Kemudian lari lagi ke masa pengkaderan Maba Mesin 2006 (POROS 2006). Saya kemudian berpikir sedikit liar. Bila di usia 10 tahun saja saya bisa melebarkan pergaulan ke level provinsi, kemudian usia 18 tahun merambah level nasional. Maka selambat-lambatnya 10 tahun lagi saya harus sudah bisa menembus level regional atau internasional.
Sedikit terkesan muluk saat itu. Namun bila kita tidak berani bermimpi bagaimana kita bisa meraih sesuatu yang istimewa. Saya teringat quotes yang sangat popular dari Walt Disney, "if you can dream it, you can do it".
Belum juga 4 tahun sejak saya bermimpi seperti itu, Alloh telah membukakan jalan-Nya. Meski hanya merupakan bagian kecil dari tim Tuban Plant Benchmarking, namun saya harus banyak bersyukur bisa menembus hingga level ini. Banyak teman-teman baru dari negeri tetangga yang bisa saya kenal dan menjadi rekan kerja yang baru. Banyak hal dan budaya baru yang telah saya pelajari disini. Dan kesempatan untuk mengembangkan diri di level internasional pun semakin terbuka lebar.
Terus terang kesempatan saya ke Vietnam membuat saya semakin kecil di hadapan Nya. Saya takkan mampu berbuat dan meraih segalanya tanpa pertolongan Nya. Saya langsung teringat impian saya 4 tahun yang lalu akan mimpi ke luar negeri. Sekali lagi, saya membuktikan bahwa kita memang harus berani bermimpi. Bila memang sudah bermimpi maka berusaha dengan keras dan banyak-banyaklah meminta doa. Dan untuk meng-akselerasi doa, jangan lupa meminta doa restu dari ibu kita tercinta.
Sampai jumpa di Indonesia.
| Kien Luong District, Vietnam 2012 |
Keep Learning, Keep Growing!!
Senin, 06 Agustus 2012
6 Hari Lagi Saya Pulang!!
Saat saya pertama kali ingin bepergian ke luar negeri, ada banyak bayangan indah di kepala saya. Bertemu orang-orang yang benar asing, budaya setempat yang berbeda, mencoba makanan khas daerah setempat (dengan catatan halal), menikmati keindahan alam yang menakjubkan dan lain sebagainya. Namun, setelah hampir 4 minggu tinggal di negeri orang, tidak semua yang saya alami seindah seperti apa yang bayangkan.
Saya tidak berada dalam konteks menyesali kepergian ini, justru sebaliknya. Rasa syukur saya tidak henti-hentinya mengalir dari bibir saya. Negara asing pertama yang saya tinggali memiliki cuaca, kultur, dan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan negara saya. Meski dalam beberapa hal, terutama fasilitas infrastruktur, tidak lebih baik dari negara saya. Namun tanpa saya sadari hal ini justru memudahkan saya untuk beradaptasi dengan lingkungan setempat.
Meski saya cukup kesulitan mendapatkan makanan halal, namun saya tetap harus banyak bersyukur. Bagaimana tidak, meski saya tinggal di daerah yang lebih terpencil daripada kota kelahiran saya (selama di Vietnam saya tinggal di Kien Luong, dekat perbatasan Kamboja- Vietnam), namun fasilitas akomodasi yang saya dapatkan lebih dari cukup untuk ukuran saya. Akses internet (meski kadang mati-hidup), fasilitas layanan laundry, hotel yang nyaman, dan transportasi yang siap mengantar kemanapun kami pergi. Terlebih lagi semua cost terkait perjalanan ini totally covered by perusahaan.
Selanjutnya, meski aktivitas yang saya jalani cenderung monoton karena selalu berulang dari hari ke hari. Bahkan untuk menu makanan yang kita santap pun selalu berulang (mengingat keterbatasan pilihan makanan halal) hingga berat badan saya menurun. Namun saya harus bersyukur karena saya punya banyak waktu untuk lebih berkonsentrasi beribadah selama bulan Ramadhan. Karena saya berangkat kerja jam 6.30 dan pulang jam 16.30. Sedang hiburan di daerah ini sangat terbatas, bahkan saya katakan tidak ada. Bahkan saya bisa menamatkan satu buah buku selama 1 minggu. Dan sekarang saya sedang menghabiskan satu buah buku lagi.
Kemudian, meski sebagian besar orang disini kesulitan berbahasa Inggris. Saya justru belajar makna sebenarnya tentang kemampuan berkomunikasi dan berbahasa. Karena bahasa Inggris disini belum cukup familiar, saya terbiasa menggunakan bahasa tubuh atau Tarzan di beberapa hari awal. Hingga kemudian di hari-hari berikutnya kami banyak bertemu rekan-rekan sesama karyawan Holcim yang fasih berbahasa Inggris. Saya pun bisa dengan mudah berkomunikasi dengan mereka.
Kemampuan berbahasa ternyata bukan hanya terletak pada seberapa excellence kita menguasai bahasa, namun justru bagaimana memanfaatkannya untuk menyampaikan ide dan gagasan kita. Hingga lawan bicara kita bisa menerima dan merespon dengan baik apa-apa yang telah kita sampaikan.
Sejujurnya tingkat kepercayaan diri saya naik berkali lipat meski kemampuan bahasa Inggris saya sangat jauh dari kesempurnaan. Karena kembali lagi pada uraian saya bahwa yang terpenting adalah ide yang kita sampaikan dapat dimengerti dan umpan balik yang kita harapkan. Selama di sini cukup nyaman berkomunikasi dengan warga negara Jerman, Inggris, dan tentu saja Vietnam.
Pada akhirnya, meski saya telah berhasil meraih sebagian dari impian saya, yaitu bepergian dan tinggal di luar negeri gratis serta menaikkan level diri dan pergaulan hingga ke tingkat regional. Namun rasa rindu akan suasana kampung halaman masih sangat sulit diredam bila harus tinggal selama 4 minggu di negeri orang (saya harus salut kepada teman dan kakak senior yang menempuh pendidikan di luar negeri selama bertahun-tahun).
Kerinduan ini tidak terkait karena segala keterbatasan yang saya dapati selama ini. Bahkan bila saya harus tinggal di Eropa sekalipun yang penuh dengan fasilitas hidup yang lebih baik, saya tidak yakin bahwa rasa rindu akan masakan rumah, momentum canda-tawa dengan adik dan keluarga, bisa begitu saja dibendung. Lebih-lebih bila kelak saya sudah berkeluarga. Karena kemana pun kita pergi rasa rindu akan kampung halaman akan selalu muncul.
Meski, menurut saya, bepergian ke luar negeri selalu menyenangkan. Namun melakukan perjalanan dinas selama 4 minggu tidak akan ada apa-apanya bila dibandingkan dengan liburan meski hanya 4 hari. Karena bekerja sangat berbeda dengan berlibur. Saya hanya memindahkan load pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain.
Oleh karenanya kemanapun kita pergi, make sure kita selalu punya cara untuk membuat suasana hati riang dan gembira hingga kita bisa menikmati detik demi detik waktu yang kita lalui dan menangkap banyak inspirasi serta pengalaman berharga.
Alhamdulillah, 6 hari lagi saya pulang ke tanah air. Saya cium tangan ibu dan adik-adik saya.
Makanan rumah sudah menanti :)
Keep Learning, Keep Growing!!
Saya tidak berada dalam konteks menyesali kepergian ini, justru sebaliknya. Rasa syukur saya tidak henti-hentinya mengalir dari bibir saya. Negara asing pertama yang saya tinggali memiliki cuaca, kultur, dan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan negara saya. Meski dalam beberapa hal, terutama fasilitas infrastruktur, tidak lebih baik dari negara saya. Namun tanpa saya sadari hal ini justru memudahkan saya untuk beradaptasi dengan lingkungan setempat.
Meski saya cukup kesulitan mendapatkan makanan halal, namun saya tetap harus banyak bersyukur. Bagaimana tidak, meski saya tinggal di daerah yang lebih terpencil daripada kota kelahiran saya (selama di Vietnam saya tinggal di Kien Luong, dekat perbatasan Kamboja- Vietnam), namun fasilitas akomodasi yang saya dapatkan lebih dari cukup untuk ukuran saya. Akses internet (meski kadang mati-hidup), fasilitas layanan laundry, hotel yang nyaman, dan transportasi yang siap mengantar kemanapun kami pergi. Terlebih lagi semua cost terkait perjalanan ini totally covered by perusahaan.
Selanjutnya, meski aktivitas yang saya jalani cenderung monoton karena selalu berulang dari hari ke hari. Bahkan untuk menu makanan yang kita santap pun selalu berulang (mengingat keterbatasan pilihan makanan halal) hingga berat badan saya menurun. Namun saya harus bersyukur karena saya punya banyak waktu untuk lebih berkonsentrasi beribadah selama bulan Ramadhan. Karena saya berangkat kerja jam 6.30 dan pulang jam 16.30. Sedang hiburan di daerah ini sangat terbatas, bahkan saya katakan tidak ada. Bahkan saya bisa menamatkan satu buah buku selama 1 minggu. Dan sekarang saya sedang menghabiskan satu buah buku lagi.
Kemudian, meski sebagian besar orang disini kesulitan berbahasa Inggris. Saya justru belajar makna sebenarnya tentang kemampuan berkomunikasi dan berbahasa. Karena bahasa Inggris disini belum cukup familiar, saya terbiasa menggunakan bahasa tubuh atau Tarzan di beberapa hari awal. Hingga kemudian di hari-hari berikutnya kami banyak bertemu rekan-rekan sesama karyawan Holcim yang fasih berbahasa Inggris. Saya pun bisa dengan mudah berkomunikasi dengan mereka.
Kemampuan berbahasa ternyata bukan hanya terletak pada seberapa excellence kita menguasai bahasa, namun justru bagaimana memanfaatkannya untuk menyampaikan ide dan gagasan kita. Hingga lawan bicara kita bisa menerima dan merespon dengan baik apa-apa yang telah kita sampaikan.
Sejujurnya tingkat kepercayaan diri saya naik berkali lipat meski kemampuan bahasa Inggris saya sangat jauh dari kesempurnaan. Karena kembali lagi pada uraian saya bahwa yang terpenting adalah ide yang kita sampaikan dapat dimengerti dan umpan balik yang kita harapkan. Selama di sini cukup nyaman berkomunikasi dengan warga negara Jerman, Inggris, dan tentu saja Vietnam.
Pada akhirnya, meski saya telah berhasil meraih sebagian dari impian saya, yaitu bepergian dan tinggal di luar negeri gratis serta menaikkan level diri dan pergaulan hingga ke tingkat regional. Namun rasa rindu akan suasana kampung halaman masih sangat sulit diredam bila harus tinggal selama 4 minggu di negeri orang (saya harus salut kepada teman dan kakak senior yang menempuh pendidikan di luar negeri selama bertahun-tahun).
Kerinduan ini tidak terkait karena segala keterbatasan yang saya dapati selama ini. Bahkan bila saya harus tinggal di Eropa sekalipun yang penuh dengan fasilitas hidup yang lebih baik, saya tidak yakin bahwa rasa rindu akan masakan rumah, momentum canda-tawa dengan adik dan keluarga, bisa begitu saja dibendung. Lebih-lebih bila kelak saya sudah berkeluarga. Karena kemana pun kita pergi rasa rindu akan kampung halaman akan selalu muncul.
Meski, menurut saya, bepergian ke luar negeri selalu menyenangkan. Namun melakukan perjalanan dinas selama 4 minggu tidak akan ada apa-apanya bila dibandingkan dengan liburan meski hanya 4 hari. Karena bekerja sangat berbeda dengan berlibur. Saya hanya memindahkan load pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain.
Oleh karenanya kemanapun kita pergi, make sure kita selalu punya cara untuk membuat suasana hati riang dan gembira hingga kita bisa menikmati detik demi detik waktu yang kita lalui dan menangkap banyak inspirasi serta pengalaman berharga.
Alhamdulillah, 6 hari lagi saya pulang ke tanah air. Saya cium tangan ibu dan adik-adik saya.
Makanan rumah sudah menanti :)
![]() |
| Tempe Mendoan khas Banyumas Sumber : mia-wulan.blogspot.com |
Keep Learning, Keep Growing!!
Selasa, 24 Juli 2012
Vietnam's Foods
Bukan hal yang mudah mencari makanan yang pas lidah saat berada di negeri orang. Jangankan yang pas di lidah, mencari yang halal pun sulit. Itu sebabnya selama kami di Vietnam, kami sangat menjaga makanan yang kami makan.
Kami tidak pernah memesan daging anjing, babi/pork, dan katak. Ketiganya merupakan makanan favourite sebagian besar masyarakat di sekitar sini. Kemudian khusus untuk hewan yang disembelih, kami pun selalu menghindarinya. Ini adalah bentuk antisipasi, mengingat tata cara penyembelihan yang besar kemungkinan tidak dilakukan secara Islam.
Pada akhirnya, kami pun banyak memesan aneka masakan seafood. Tentu saja kami selalu berpesan "no pork oil" atau tanpa minyak babi. Ternyata masih banyak khazanah masakan Vietnam yang bisa kami santap, seperti yang saya tampilkan di bawah ini. Meski demikian kami terus berdoa semoga Alloh selalu melindungi kami dari hal-hal yang tidak kami inginkan, termasuk makanan yang kami santap sehari-hari.
Keep Learning, Keep Growing!!
Kami tidak pernah memesan daging anjing, babi/pork, dan katak. Ketiganya merupakan makanan favourite sebagian besar masyarakat di sekitar sini. Kemudian khusus untuk hewan yang disembelih, kami pun selalu menghindarinya. Ini adalah bentuk antisipasi, mengingat tata cara penyembelihan yang besar kemungkinan tidak dilakukan secara Islam.
Pada akhirnya, kami pun banyak memesan aneka masakan seafood. Tentu saja kami selalu berpesan "no pork oil" atau tanpa minyak babi. Ternyata masih banyak khazanah masakan Vietnam yang bisa kami santap, seperti yang saya tampilkan di bawah ini. Meski demikian kami terus berdoa semoga Alloh selalu melindungi kami dari hal-hal yang tidak kami inginkan, termasuk makanan yang kami santap sehari-hari.
Keep Learning, Keep Growing!!
Minggu, 22 Juli 2012
Cilacap - Tuban - Surabaya - Jakarta - Singapore - Ho Chi Min City
Empat tahun lebih saya terbiasa melakukan perjalanan darat selama 10 jam. Namun belum pernah saya melakukan perjalanan sejauh dan selama yang saya lakukan akhir pekan lalu (12 Juli 2012). Berawal dari Hotel Mustika di pusat kota Tuban, tepat pukul 1 dini hari saya dan rombongan berangkat menuju bandara Juanda. Kami terbang dengan penerbangan paling pagi dari Surabaya menuju bandara internasional Soekarno-Hatta Jakarta.
Kami tiba sekitar pukul 8 pagi. Sembari menunggu check in untuk penerbangan selanjutnya pukul 10.30 siang, kami menyempatkan diri untuk sarapan, bersih-bersih, dan menukar sebagian uang rupiah ke dalam US Dollar. Pukul 11.30 waktu Indonesia, kami telah mengambil kursi masing-masing di dalam kabin Singapore Airlines.
Pukul 2 siang waktu Singapore, pesawat kami mendarat dengan mulus di landasan bandara internasional Changi. Beberapa dari kami harus menyetel ulang jam tangan karena waktu Singapore yang disengaja lebih cepat satu jam, meski masih dalam wilayah waktu yang sama dengan Indonesia. Banyak perasaan takjub melihat sebuah negara kecil dengan fasilitas umum se-bersih, se-modern, dan se-canggih ini. Andai fasilitas seperti ini pun tersedia di Indonesia.
Pukul 5.30 sore kami melanjutkan perjalanan menuju Ho Chi Minh City (HCM City). Lama perjalanan Singapore - HCM City setara dengan Jakarta - Singapore dan Surabaya - Jakarta. Kami pun tiba di HCM City pukul 6 waktu setempat. Tidak ada perbedaan waktu yang mencolok antara Jakarta dengan HCM City. Hany saja, pukul 6 sore disini masih sangat terang dibanding dengan Jakarta. Sebagai perbandingan, waktu sholat maghrib disini adalah pukul 6.30.
Setelah melewati rentetan pemeriksaan sebanyak total 10 loket dan menempuh penerbangan selama 3 kali 90 menit, kami masih harus menempuh perjalanan darat selama 10 jam ke arah selatan HCM City menuju provinsi Kiên Giang tepatnya distrik Kiên Lương. Tepat pukul 3 pagi kami sampai di tempat dimana kami akan tinggal selama 30 hari ke depan, An Hai Son Hotel.
Semoga banyak pelajaran yang berharga dari perjalanan ini. Bismillah.
**Saya masih punya banyak lagi koleksi foto yang sayang bila hanya saya simpan sendiri. So, tunggu artikel berikutnya, masih tetap di essaabubakar.blogspot.com..hehe
Keep Learning, Keep Growing!!
Kami tiba sekitar pukul 8 pagi. Sembari menunggu check in untuk penerbangan selanjutnya pukul 10.30 siang, kami menyempatkan diri untuk sarapan, bersih-bersih, dan menukar sebagian uang rupiah ke dalam US Dollar. Pukul 11.30 waktu Indonesia, kami telah mengambil kursi masing-masing di dalam kabin Singapore Airlines.
Pukul 2 siang waktu Singapore, pesawat kami mendarat dengan mulus di landasan bandara internasional Changi. Beberapa dari kami harus menyetel ulang jam tangan karena waktu Singapore yang disengaja lebih cepat satu jam, meski masih dalam wilayah waktu yang sama dengan Indonesia. Banyak perasaan takjub melihat sebuah negara kecil dengan fasilitas umum se-bersih, se-modern, dan se-canggih ini. Andai fasilitas seperti ini pun tersedia di Indonesia.
Pukul 5.30 sore kami melanjutkan perjalanan menuju Ho Chi Minh City (HCM City). Lama perjalanan Singapore - HCM City setara dengan Jakarta - Singapore dan Surabaya - Jakarta. Kami pun tiba di HCM City pukul 6 waktu setempat. Tidak ada perbedaan waktu yang mencolok antara Jakarta dengan HCM City. Hany saja, pukul 6 sore disini masih sangat terang dibanding dengan Jakarta. Sebagai perbandingan, waktu sholat maghrib disini adalah pukul 6.30.
Setelah melewati rentetan pemeriksaan sebanyak total 10 loket dan menempuh penerbangan selama 3 kali 90 menit, kami masih harus menempuh perjalanan darat selama 10 jam ke arah selatan HCM City menuju provinsi Kiên Giang tepatnya distrik Kiên Lương. Tepat pukul 3 pagi kami sampai di tempat dimana kami akan tinggal selama 30 hari ke depan, An Hai Son Hotel.
Semoga banyak pelajaran yang berharga dari perjalanan ini. Bismillah.
| Bismilllah, berangkat dari Surabaya menuju Jakarta. |
| Inilah suasana kabin Singapore Airilnes. Duduk di sebelah saya Pak Kun Syukroni. Lab Superitendent Tuban Plant |
| Alhamdulillah. Kami tiba di bandara internasional Changi, Singapore. |
| Betapa hecticnya suasana bandara Changi. |
| Dari terminal 2 menuju terminal 3. Cabut mang! |
| Sangat rapi! Inilah kesan saya terhadap Bandara Changi. Foto ini saya ambil saat berada di atas Sky Train. |
| Sejenak istirahat sembari menunggu penerbangan selanjutnya. (Dede dan saya) |
| Saatnya tinggal landas menuju HCM City. |
| Cuaca di atas HCM City yang berawan. |
| Ini adalah loket pemeriksaan yang ke -9 dari 10 lapis pemeriksaan yang kami lewati selama perjalanan. Tampak di atas petugas imigrasi Vietnam. |
| Tidak ada satupun dari kami yang dapat menyembunyikan keletihan. Meski tidak ada kursi tunggu, lantai pun jadi. |
| Tempat pertama yang kami kunjungi setelah mendarat, money changer!! Mata uang Vietnam adalah Vietnam Dong. 50.000 rupiah setara dengan 100.000 dong. woow.. |
| Setibanya di HCM City, kami masih harus menempuh perjalanan darat selama 10 jam menggunakan bis, edann! |
| Inilah tampak pelataran hotel tempat kami tinggal. Konsep yang sempurna, Beach Hotel yang dibangun di lereng perbukitan. |
**Saya masih punya banyak lagi koleksi foto yang sayang bila hanya saya simpan sendiri. So, tunggu artikel berikutnya, masih tetap di essaabubakar.blogspot.com..hehe
Keep Learning, Keep Growing!!
Selasa, 17 Juli 2012
Senin, 16 Juli 2012
Setelah melewati 3 kali penerbangan dari Surabaya-Jakarta,
Jakarta-Singapura, dan Singapura-Ho Chi Minh City, kami pun menuju Kun Luong,
sebuah kota kecil di selatan Ho Chi Minh City yang berjarak kira-kira 10 jam
perjalanan darat.
Kami memiliki satu hari untuk beristirahat setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan. Tempat penginapan kami cukup nyaman, meski hanya hotel berbintang 2. Karena tidak mudah memang menemukan penginapan yang sekelas Hotel Kartika Chandra di daerah sekitar sini.
Dan hari ini (Senin, 16 Juli 2012) adalah hari pertama bagi kami, 11 orang engineer dan 7 orang manager, untuk mulai beraktivitas menjalankan agenda yang telah disusun di tanah air. Kami akan menghabiskan 2 minggu pertama di Han Tien Plant (sebuah perusahaan semen milik pemerintah Vietnam) dan Hon Chong Plant (Holcim Groups). Kedua plant tersebut hanya dipisahkan jarak sejauh kira-kira 10 km saja.
Agenda utama kami adalah melakukan benchmarking dalam rangka persiapan commisioning untuk plant yang sedang dibangun di Tuban. Kami berkunjung ke kedua plant di atas karena equipment yang mereka gunakan identik dengan equipment yang akan dibangun di Tuban.
Seperti halnya membeli sebuah sepeda motor, sebenarnya saat hand over dari project team kepada operation team akan diserahkan pula semacam buku panduan atau manual book. Namun agaknya Plant Manager kami ingin lebih siap dari hanya sekedar belajar dari manual book. Terlebih alat yang akan kami gunakan, baik secara proses maupun cara kerja, jauh berbeda dari alat terdahulu.
Oleh karenanya, saya menyebutnya ini seperti misi spionase. Tujuan kami jelas, menggali, mengambil, mengunduh, dan kata kerja lainnya yang se-makna dengan meng-copy segala bentuk informasi teknis dan non-teknis terkait alat yang bekerja di kedua plant tersebut. Tentu semua dilakukan dengan cara-cara yang patut dan wajar.
Sejauh ini salah satu tantangan terbesar bagi kami saat ini adalah bahasa! Kami tentu tidak akan menggunakan bahasa Ibu kami. Bahkan bahasa kedua pun (bahasa Inggris) tidak bermanfaat banyak. Kami lebih banyak menggunakan kombinasi antara bahasa tubuh, gambar, tulisan dan segala aneka ragam cara komunikasi yang memungkinkan untuk dimengerti. Karena memang penguasaan bahasa Inggris (terutama Han Tien Plant) di kawasan ini sangatlah terbatas.
Namun begitu, meski banyak hal yang harus dipelajari, baik budaya, cara kerja, makanan, dan dengan segala keterbatasan, tidak akan berkurang sedikitpun antusiasme.
Akhirnya, selamat menjalankan aktivitas di hari ini. Saya masih akan menyelesaikan beberapa urusan sebelum berangkat kerja di pukul 2 siang nanti dan pulang setelah pukul 10 malam waktu setempat.
Keep Learning, Keep Growing!!
Kami memiliki satu hari untuk beristirahat setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan. Tempat penginapan kami cukup nyaman, meski hanya hotel berbintang 2. Karena tidak mudah memang menemukan penginapan yang sekelas Hotel Kartika Chandra di daerah sekitar sini.
Dan hari ini (Senin, 16 Juli 2012) adalah hari pertama bagi kami, 11 orang engineer dan 7 orang manager, untuk mulai beraktivitas menjalankan agenda yang telah disusun di tanah air. Kami akan menghabiskan 2 minggu pertama di Han Tien Plant (sebuah perusahaan semen milik pemerintah Vietnam) dan Hon Chong Plant (Holcim Groups). Kedua plant tersebut hanya dipisahkan jarak sejauh kira-kira 10 km saja.
Agenda utama kami adalah melakukan benchmarking dalam rangka persiapan commisioning untuk plant yang sedang dibangun di Tuban. Kami berkunjung ke kedua plant di atas karena equipment yang mereka gunakan identik dengan equipment yang akan dibangun di Tuban.
Seperti halnya membeli sebuah sepeda motor, sebenarnya saat hand over dari project team kepada operation team akan diserahkan pula semacam buku panduan atau manual book. Namun agaknya Plant Manager kami ingin lebih siap dari hanya sekedar belajar dari manual book. Terlebih alat yang akan kami gunakan, baik secara proses maupun cara kerja, jauh berbeda dari alat terdahulu.
Oleh karenanya, saya menyebutnya ini seperti misi spionase. Tujuan kami jelas, menggali, mengambil, mengunduh, dan kata kerja lainnya yang se-makna dengan meng-copy segala bentuk informasi teknis dan non-teknis terkait alat yang bekerja di kedua plant tersebut. Tentu semua dilakukan dengan cara-cara yang patut dan wajar.
Sejauh ini salah satu tantangan terbesar bagi kami saat ini adalah bahasa! Kami tentu tidak akan menggunakan bahasa Ibu kami. Bahkan bahasa kedua pun (bahasa Inggris) tidak bermanfaat banyak. Kami lebih banyak menggunakan kombinasi antara bahasa tubuh, gambar, tulisan dan segala aneka ragam cara komunikasi yang memungkinkan untuk dimengerti. Karena memang penguasaan bahasa Inggris (terutama Han Tien Plant) di kawasan ini sangatlah terbatas.
Namun begitu, meski banyak hal yang harus dipelajari, baik budaya, cara kerja, makanan, dan dengan segala keterbatasan, tidak akan berkurang sedikitpun antusiasme.
"Success is going from failure to failure without losing enthusiasm."
(Winston Churchill)
Akhirnya, selamat menjalankan aktivitas di hari ini. Saya masih akan menyelesaikan beberapa urusan sebelum berangkat kerja di pukul 2 siang nanti dan pulang setelah pukul 10 malam waktu setempat.
Keep Learning, Keep Growing!!
Langganan:
Postingan (Atom)
