Tampilkan postingan dengan label Conscience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Conscience. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 September 2017

Learning Attitude

Bismillah

Ini adalah postingan pertama saya setelah setahun (lebih sedikit) absen menulis. Ya, mempertahankan kebiasaan baik itu jauh lebih susah ketimbang memulainya. Semoga postingan ini bukan pertama dan terakhir untuk tahun ini.

Saya ingin memulainya lagi dari sebuah titik dimana saya berhenti sesaat untuk melihat lagi ke belakang sebelum melompat ke depan. Titik itu adalah hari dimana saya tepat 5 tahun berkarir sebagai engineer. Hari yang terasa singkat bila dihitung dengan bilangan tahun. Namun waktu yang lama untuk hanya sekedar menjalani rutinitas ala kadarnya.

Oleh karenanya, perlu sepertinya kita berhenti sejenak untuk melihat apa yang telah dicapai, apa-apa saja yang kurang berhasil, target apa yang perlu ditingkatkan. Semua dievaluasi sebagai bekal untuk melangkah ke depan dan mengejar target-target selanjutnya. 

Oke, selama 5 tahun berkarir satu pelajaran yang sangat berkesan adalah "learning attitude". Saya menyebutnya sebagai sesuatu yang harus kita jaga supaya kita bisa beradaptasi dengan lingkungan. Ini adalah sikap dimana kita harus mampu belajar dengan waktu singkat, belajar dengan siapa saja, dan mempertahankan semangat belajar itu sendiri.

Sebagai lulusan sarjana, tentu ekspektasi yang dibebankan tidaklah main-main. Banyak orang menganggap bahwa lulusan sarjana tahu banyak hal dan bisa membantu menyelesaikan banyak persoalan. Kenyataannya seringkali apa yang kita jumpai di lapangan atau dunia kerja jauh berbeda dengan apa yang kita pelajari di kampus. Perbedaan mindset dan approach dalam menyelesaikan sebuah problematikan sangat terasa.

Di bangku kuliah, kita terbiasa menyelesaikan permasalahan dalam bentuk soal cerita. Solusi yang dirumuskan pun hanya dalam bentuk jawaban atas pertanyaan soal tersebut. Kalaupun ada penugasan dalam bentuk real project, intensitasnya pun masih jauh lebih sedikit dibanding penugasan dalam bentuk paper work. Berbeda saat masuk di dunia kerja, kedua penugasan baik paper work ataupun field activities (terutama untuk maintenance engineer) memiliki porsi yang sama besar.

Situasi seperti inilah yang menuntut kita untuk gesit dalam belajar.  Bisa jadi ilmu yang kita pelajari selama kuliah tidak semuanya terpakai. Namun trick ataupun metode belajar kita selama kuliah akan terus terpakai. Oleh karenanya keterampilan belajar dengan cepat yang dibangun selama di bangku kuliah, akan sangat bermanfaat.

Bila kita selama kuliah kita senang belajar kelompok, maka tidak akan ada kesulitan berarti saat bekerja sama dengan rekan kerja. Bila kita terbiasa membaca textbook, maka tidak akan ada kesulitan berarti saat kita mencari informasi di OEM/manual book. Kalau kita terbiasa mbacem dan mencari teman yang tepat untuk dibacem, maka kita tidak akan panik saat menemui masalah yang belum pernah kita hadapi sebelunya. Karena kita tahu kemana harus bertanya dan mbacem of course.

Bahkan bila kita terbiasa mengerjakan tugas mendekati deadline, h-1 jam sebelum dikumpulkan, maka kita akan terbiasa bekerja di bawah tekanan. Haha (another good side).

*
Well, masih dalam konteks "belajar", kita akan lebih mudah menguasai sebuah persoalan bila kita mampu bekerja sama dengan orang lain. Kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan pihak lain, membaca potensi kawan, dan menggerakan orang untuk bekerja bersama, akan sangat diperlukan di dunia kerja. Karena semakin banyak potensi yang bisa dikolaborasikan, makin besar peluang kita untuk menemukan solusi dalam waktu yang singkat.


Sebagai newcomer di sebuah tempat kerja. Kita akan dihadapkan oleh bervariasi nya rekan kerja. Baik dari usia, latar belakang pendidikan, dan tentu saja jabatan. Kepada rekan kerja yang lebih senior. Karena mereka terlahir lebih dulu untuk merasakan apa-apa yg sebagian besar belum pernah kita rasakan. Dari mereka lah kita akan belajar tentang experience, success stories dan kegagalan yang pernah dialami, sehingga kita bisa mengambil pelajaran.

Respect kepada yg masih muda. Meski belum tentu kita lebih pintar, mereka memiliki energi dan semangat yang belum tentu bisa kita samai. Dari merekalah kita bisa tertular energi yg lebih besar utk berkembang. Dari mereka pula kita bisa mendapatkan ide yang lebih fresh.

Kepada merekalah, rekan kerja yang lebih senior dan junior, kita padukan antara kebijaksanaan dan ambisi.

**
Learning attitude sebenarnya adalah akumulasi kebiasaan kita dalam belajar yang dimulai sejak kecil hingga kita lulus kuliah. Ini bukan soal bagaimana metode terbaik untuk belajar, karena masing-masing orang memiliki caranya masing-masing. Ini adalah tentang sikap kita sebagai pribadi yang terus memacu diri untuk belajar hingga jatah usia hidup habis.

Belajar bukan hanya perkara memperkaya diri sendiri dengan ilmu, namun bagaimana mengembangkan orang di sekitar kita untuk sama-sama tumbuh. Kita tidak akan pernah menjadi tertinggal hanya karena membantu orang lain untuk tumbuh.

Justru ilmu kita akan bertambah seiring dengan makin banyaknya orang yang mampu kita bantu untuk sama sama belajar. Karena bagaimanapun untuk tumbuh lebih tinggi, kita perlu partner (baik co-partner atau sparring partner) untuk membuat kita terus terpacu untuk bergerak dan belajar lebih jauh di tengah luasnya lautan ilmu.

Dan inilah yang harus terus kita pertahankan agar waktu yang kita habiskan tidak berlalu begitu saja, sebagaimana rutinitas yang membosankan. Namun ada value yang bisa kita raih, yaitu growth


Keep Learning, Keep Growing!!

Kamis, 26 Maret 2015

Kisah Seorang Pemuda Kaya dan Pakaiannya

Konon di sebuah negeri terdapatlah seorang pemuda yang sangat ulet. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun membawanya tumbuh menjadi  seorang pengusaha yang kaya raya. Kekayaannya meliputi tanah perkebunan, lahan pertanian hingga beberapa peternakan. Tak cukup disitu, kekayaan yang melimpah telah membuat masyarakat sekitar sangat hormat kepadanya.

Hingga pada suatu hari tersiar kabar Sang Raja di negeri tersebut bermaksud menggelar sebuah pesta untuk orang-orang terdekatnya. Pesta itu akan digelar di istana kerajaan selama dua hari dua malam dan pemuda tersebut menjadi salah satu orang yang diundang Sang Raja.

Hingga waktunya tiba, sang pemuda kaya pun datang memenuhi undangan tersebut.

Pada hari pertama dia datang ke pesta dengan menngunakan pakaian terbaik yang dia punya. Mulai dari sepatu, celana hingga baju, semuanya terbuat dari bahan dan model terbaik di eranya. Sesampainya di pintu masuk istana dia pun disambut bak tamu agung oleh para pengawal.
Malam itu dia juga suskes menyihir para tamu undangan. Selama pesta berlangsung tak sedikit orang-orang yang mengerumuninya.

Sedang di hari kedua dia mengubah penampilannya. Dia mengganti pakaian terbaiknya dengan pakaian yang sederhana layaknya rakyat kecil kebanyakan. Tak nampak lagi hal istimewa seperti malam sebelumnya.

Alhasil dia pun diusir oleh pengawal istana saat hendak memasuki istana. Jangankan masuk ke dalam istana, mendekati pintu masuk pun dia dilarang. Tak ada lagi sorot mata yang memandangi dirinya.

Pada saat itulah dia berpikir, bila  memang yang dinilai adalah pakaianku, mengapa aku harus senang dan bangga. Sebaliknya, bila yang dihina bukan diriku melainkan pakaianku, mengapa aku pun harus bersedih dan berkecil hati?

**
Jika kita begitu dihormati dan disanjung  oleh kebanyakan orang, tidak perlu kita terlalu bangga atau senang.  Sebaliknya bila kita dihina dan dicaci janganlah kita terlalu bersedih. Belum tentu yang dilihat dan dinilai oleh orang lain selalu benar. Karena tidak semua yang kita miliki harus terlihat oleh orang lain.

Cukuplah pujian dan cacian dijadikan renungan untuk terus selalu memperbaiki diri. Bukankah Sang Khalik pun  menilai kita bukan dari harta atau jabatan yang kita miliki, melainkan semata-mata dari keimanan dan ketakwaan.

Semoga kita selalu terjaga dari berbagai penyakit hati, saling mengingatkan dan selalu semangat untuk terus berlomba-lomba mengumpulkan kebaikan. 

Semata-mata untuk mendapat ridlo-Nya.



Keep Learning Keep Growing!!




Kamis, 13 Februari 2014

Cerita Pasca Menikah #9 : Kunjungan Perdana Ke Dokter Kandungan

--lanjutan dari cerita sebelumnya--

Malam harinya kami berdua pergi memeriksakan diri ke dokter kandungan. Sengaja kami mencari dokter perempuan. Bagi kami, selama masih ada dokter kandungan perempuan kami tidak akan datang ke dokter laki-laki. Semata-mata karena pertimbangan syariah dan kenyamanan dalam pemeriksaan.

Singkat cerita, kami meluncur ke sebuah klinik dokter kandungan. Kami duduk bersama pasien lainnya di ruang tunggu. Ada pasien yang diantar suaminya, ada pula yang diantar keluarga besarnya. Maklum praktik dokter kandungan perempuan di Tuban sangat jarang, wajar bila peminatnya sangat banyak dan datang dari berbagai pelosok pedesaan.

Menariknya, baru kali ini saya melihat begitu banyak perempuan dengan perut membesar berkumpul dalam sebuah tempat, at the same time and same moment. Ada yang mungkin baru 4 bulan, ada pula yang sudah sangat besar, mungkin usia 7-8 bulan.

Sebagai laki-laki yang tidak pernah ke klinik dokter kandungan, saya takjub menyaksikan pemandangan seperti ini. Terlintas di pikiran, betapa dahsyatnya efek yang diakibatkan oleh proses ovulasi yang dilakukan sepasang lawan jenis.

Bagi pria urusan mungkin selesai seketika itu juga di atas ranjang (bila dilakukan di atas ranjang), namun tidak bagi perempuan. Ini baru permulaan. Dialah yang akan mengandung selama kurang lebih 9 bulan dan kemudian baru melahirkan.

Singkat cerita, setelah beberapa pasien saling bergantian keluar dan masuk, tibalah kami pasangan muda, yang lebih pas terlihat sebagai anak kuliah ketimbang pasagan suami istri, masuk ke ruang periksa.

Seorang dokter perempuan dan suster menyambut kami berdua. Tidak ada ekspresi yang spesial, setidaknya sedikit senyuman. Maklum di kota kecil seperti Tuban pelayanan terhadap konsumen belum sebaik Surabaya.

Setelah ditanya apakah ada keluhan atau tidak, istri saya pun mulai dipersilahkan untuk berbaring di tempat yang telah disediakan. Bu dokter mulai menyiapkan alat USG, persis seperti seorang engineer melakukan ultrasonic test untuk melihat defect pada sebuah logam.
  
Setelah suster mengolesi perut istri dengan semacam gel, barulah Bu Dokter dengan dinginnya mulai menggerak-gerakan probe diatas perut istri saya. Tak lama kemudian tampaklah sebuah titik hitam kecil.

Sumber : tyzhainandia.blogspot.com

Ya! Itulah yang kami tunggu selama 6 bulan pernikahan. Dialah satu-satunya sel kelamin jantan yang berhasil menembus ovum dan bertransformasi menjadi zygot. Dialah  Sang Juara yang berhasil menyisihkan berjuta-juta sel lainnya dalam sebuah pertarungan hidup atau mati.

Inilah Sang Juara yang survive berenang menempuh jarak dan medan yang sangat berat. Bahkan, bila kelak dia hidup sehat dan dewasa, mungkin inilah pertarungan paling mengerikan yang pernah dia jalani.

Semoga dengan bekal pengalaman menyisihkan jutaan kompetitor, dia bisa tumbuh menjadi pemimpin ummat yang bermental juara. Pemimpin yang tumbuh bukan karena pencitraan, tapi karena memang terlahir dan berkembang untuk menjadi seorang pemimpin.

**

Malam itu kami berdua hanya saling memandang, cengar-cengir, dan (lagi-lagi) speechless.

Sementara itu, saya berbisik dalam hati, Great job buddy!





Keep Learning, Keep Growing!!

Selasa, 11 Februari 2014

Cerita Pasca Menikah #8 : Biii...POSITIF!!!

Sepertinya, saya memang termasuk salah seorang korban dari tayangan “sinetron”. Sinetron memberikan beberapa pemahaman yang menyesatkan kepada saya.

Saya mengira bahwa seorang perempuan yang hamil akan muntah-muntah di pagi hari setelah “jungkir-balik berakrobatik mengerahkan seluruh tenaga” bersama suami pada malam harinya, persis seperti apa yang pernah saya saksikan di sinetron “Pernikahan Dini”. Hehe. Hal ini yang membuat saya selalu harap-harap cemas di pagi hari. Apalagi Jumat pagi. Berharap istri saya mual-mual dan muntah-muntah

Pada kenyataannya, rentang waktu antara berhubungan badan dengan gejala muntah-muntah tidaklah secepat yang saya bayangkan. Setiap perempuan akan mengalami rentang waktu yang berbeda-beda.

Selain itu, gejala seorang perempuan hamil tidak selalu disertai dengan muntah-muntah. Seperti yang dialami oleh istri saya. Gejala-gejala kehamilan tanpa kami sadari sudah mulai tampak di akhir bulan Ramadhan tahun lalu.

Diawali pembengkakan gusi sebelum mudik, hingga pegal-pegal di seluruh badan saat Hari Raya Idul Fitri. Kami mengira setelah melakukan perjalanan mudik sejauh ratusan kilometer dari Tuban-Surabaya hingga Cilacap, sewajarnya badan akan kelelahan. Itu sebabnya kami sedikit menghiraukan gejala tersebut.

Sekembalinya kami di Surabaya, istri saya masih saja mengeluhkan gejala yang sama. Sekujur badan serasa lemas-pegal. Sampai di sini kami masih berpikir bahwa ini akibat setelah melakukan perjalanan jauh. Kami baru mulai gelisah ketika istri saya sadar bahwa sudah beberapa minggu dia telat datang bulan. Ini saatnya kami mencoba lagi peruntungan test pack.

Ya, sayangnya ini bukan pertama kalinya istri saya telat datang bulan. Itu sebabnya kami tidak terlalu berharap banyak. Istri saya memang sering telat datang bulan. Hampir setiap telat datang bulan saya selalu membeli test pack. Selama itu pula hasilnya selalu negative. Itu sebabnya, saya tidak terlalu berharap banyak pada hasil test pack. 

Karena di Surabaya saat itu masih ramai sanak saudara dan orang tua, kami menunda pengecekan test pack sampai kami kembali di Tuban.

Sampai suatu pagi, saat saya sudah mulai kerja. Sebuah panggilan masuk ke HP saya. Saya yang masih berkutat di depan laptop mencoba mengalihkan perhatian ke HP. Saya terima panggilan tersebut, sejurus kemudian terdengar suara perempuan berteriak lantang di sana.

“BII…POSITIFF!”





Setelah memastikan bahwa itu benar-benar suara istri sah saya, langsung saja saya merasakan surprise, haru, dan senang. Semua bercampur menjadi satu. Saya speechless. Rasanya bumi berhenti berotasi selama 10 detik, persis seperti pertama kali bertemu istri saya. Perfect


bersambung


Keep Learning, Keep Growing!!

Jumat, 07 Februari 2014

Cerita Pasca Menikah #7 : Pertanyaan basa-basi yang menohok

Seperti halnya kebanyakan pasangan muda,  kehadiran seorang anak adalah salah hal yang kami tunggu-tunggu. Bahkan “memiliki anak” adalah salah satu resolusi yang kami canangkan di tahun 2013.

Bagi kami, menikmati masa muda akan lebih seru dan menantang ketika ada buah hati. Karena kehadiran anak akan membuat kita berpikir berulang kali tiap kali akan bertindak. Oleh karena itu, secara otomatis kita akan tehindar dari aktivitas yang kurang bermanfaat.

Kami bukannya tidak menyadari konsekuensi memiliki anak kecil di usia muda. Di tahun-tahun awal, tidak akan mudah bagi kami untuk  travelling sesuka hati. Namun bila saatnya nanti sang anak sudah cukup besar dan aman, tentu travelling akan menjadi lebih mengesankan. Bepergian dan bertualang bertiga akan semakin seru.   

Kami tetap tidak berniat menunda momongan. Bagi kami, semakin cepat memiliki momongan, mengakselerasi kami untuk tumbuh lebih “dewasa” dan “matang” lebih cepat.

Getting faster in having children, getting faster in being stable, both in economic and social, means getting faster in readiness to support our family, our younger brothers & sisters. Not to mention that we’re not too old for having grandchildren.”

Faktanya tidak semudah itu kami dikaruniai seorang anak. Meski tak lama, namun kami tetap harus menunggu 6 bulan lamanya, terhitung dari Desember 2012 hingga Agustus 2013. 

Selama periode itu kami menikmati waktu-waktu berdua. Aktivitas kami banyak dihabiskan untuk bepergian bersama, menelusuri jalur-jalur perjalanan yang belum pernah kami lewati, menyewa beberapa film dan menonton bersama di rumah, “kulakan” kain berdua dan riweuh mengikuti bazzar dari satu mall ke mall lainnya.

Hingga saat “kesepian” mulai menghantui kami berdua, orang-orang diluar sana justru semakin gencar melancarkan pertanyaan yang awalnya biasa namun menohok bagi kami pada akhirnya. Hari demi hari, orang terus berganti, namun pertanyaannya tetap sama, “Mas, istrinya sudah isi belum?”atau “ Gimana, sudah mbathi belum istrinya?”

Pada awalnya, kami santai saja menanggapi pertanyaan seperti itu. Namun lama-kelamaan kami mulai gerah juga. Apakah mereka kira kami tidak “jungkir-balik berakrobatik mengerahkan seluruh tenaga” di sepertiga malam terakhir?

Sebuah pelajaran berharga buat kami, berhati-hatilah bila hendak menanyakan hal-hal yang pribadi, entah itu pekerjaan, pernikahan, kehamilan, atau bahkan kelulusan. Meski terkesan basa-basi, namun bisa jadi hal serius bila yang bersangkutan memang memiliki problem dalam hal mendapatkan pekerjaan, mencari jodoh, memiliki momongan, atau menyelesaikan kuliah.


bersambung..



Keep Learning, Keep Growing!!!

Selasa, 04 Februari 2014

Anomali Waktu (Semakin hari, waktu terasa makin singkat)

Beberapa tahun belakangan ini, terutama semenjak memasuki dunia kerja, waktu terasa lebih cepat. Rasanya baru kemarin mengawali aktivitas di hari Senin, tanpa terasa hari Juma't sudah tiba. Satu minggu serasa seperti satu hari. Satu bulan terasa seperti satu minggu, dan akhirnya satu tahun akan terasa seperti satu bulan.

*
Bila kita mengingat kembali materi fisika yang diajarkan di SMP tentang besaran pokok. Kita akan menemukan bahwa salah satu yang termasuk besaran pokok adalah "waktu". Besaran "waktu" tidak diturunkan dari besaran-besaran lainnya, melainkan berdiri sendiri. Hal ini dikarenakan satuan "waktu", 1 sekon,  memiliki standard yang tetap dalam menentukan besar 1 sekon.

Mulanya, 1 sekon ditetapkan sama dengan 1/86400 rata-rata gerak semu matahari dalam mengelilingi Bumi. Namun, dalam perkembangannnya, metode ini dinilai kurang tepat akibat adanya pergeseran. Hingga akhirnya, pada tahun 1956, ditetapkan bahwa 1 sekon adalah waktu yang dibutuhkan atom cesium-133 untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali.

**
Kemudian bila kita melihat contoh sederhana dari hukum relativitas yang dipopulerkan oleh Albert Einstein. Bahwa sebenarnya kecepatan sebuah partikel bisa berbeda tergantung dari mana kita meninjaunya. Seorang penumpang kereta akan mengatakan bahwa orang-orang di luar kereta bergerak sangat cepat, padahal mereka sebenarnya diam. Sebaliknya orang-orang di luar kereta akan mengatakan bahwa penumpang kereta bergerak sangat cepat, padahal penumpang tersebut diam tak bergerak di dalam kereta.


Sumber : http://hdwallpapers4free.com/

***

Bahwa sejatinya waktu yang kita lalui tidaklah berubah. 1 sekon tetaplah 1 sekon sesuai dengan waktu yang dibutuhkan atom cesium-133 untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali. 1 menit tetaplah 60 sekon. 1 jam tetaplah 60 menit dan 1 hari tetaplah 24 jam. Semua tetap sesuai dengan ketentuannya, tidak berkurang dan bertambah sedikit pun.

Namun, mengapa waktu tetap saja terasa lebih cepat?

Pada umumnya, kita akan merasakan waktu berjalan lebih cepat bila kita melakukan hal-hal yang bersifat duniawi secara berlebihan. Bermain game on line, larut dalam rutinitas pekerjaan yang menumpuk atau berlibur ke sebuah tempat wisata.

Satu jam akan terasa sangat cepat, bila kita bermain game on line. Satu hari akan terasa sangat cepat bila hanya untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor. Dan tentu saja satu minggu akan sangat kurang bila hanya untuk sekedar berkeliling dan berlibur di sebuah tempat.

Sebaliknya, untuk hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan akhirat, waktu terasa sangat lambat. Meski normalnya hanya 5 menit yang dibutuhkan untuk membaca 1 halaman Al Quran, namun kita merasa sangat lama untuk membacanya. Begitu pula untuk sholat tarawih berjamaah, sholat jum'at, dan ibadah puasa. Waktu terasa sangat panjang bila dihabiskan untuk beribadah.

Inikah tanda-tanda kiamat yang diriwayatkan oleh Anas RA?

Rasulullah bersabda


"Hari Kiamat tak akan datang kecuali waktu semakin singkat. Penyingkatan ini terjadi sedemikian cara seperti satu tahun yang berlalu seperti sebulan, dan sebulan yang berlalu seperti seminggu, dan seminggu berlalu seperti satu hari dan satu hari yang berlalu seperti satu jam dan satu jam yang berlalu seperti secepat kilat.'' 
(Tirmidhi, Zuhd: 24, 2333).


 Urusan dunia memiliki kecenderungan untuk membuat kita "ketagihan", terus dan terus. Sebaliknya bila berurusan dengan akhirat, kita merasa sangat berat. Oleh karenanya kita tidak boleh lengah, marilah kita manfaatkan waktu yang tersisa dengan cerdas, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ 

(HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)



Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk menghabiskan waktu dengan aktivitas yang sia-sia.
Mari kelilingi diri dengan lingkungan yang selalu mendukung kita untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan. Mari kita sibukkan diri kita dengan aktivitas yang selalu bernilai ibadah. :)



Keep Learning, Keep Growing!!


Referensi.
1. www.ittelkom.ac.id



Selasa, 17 September 2013

Hadiah Ramadhan


Hi pembaca, it's too old no meet (sudah lama tidak ketemu - Vickysisasi) hehe..

Lebih dari 1 bulan saya tidak meng-up date  blog ini. Bila kemudian saya kembali bergairah untuk sejenak duduk di depan laptop dan menulis, salah satunya karena teringat salah satu postingan istri saya, "writing keeps me sane" . Terjemahan bebasnya kira-kira berbunyi seperti ini, "menulis menjaga saya tetap waras".

Entah terinspirasi dari mana istri saya saat menulis kalimat tersebut.Tapi saya merasakan betul betapa hidup ini akan terasa sangat monoton bila kita tidak memiliki karya.

Berkarya memang tidak terbatas pada hal-hal yang berbau seni saja. Bagi istri saya, bisa rutin berbagi cerita dan ide melalui tulisan sudah bisa disebut berkarya. Meski terlihat sederhana, namun dalam aplikasi sehari-harinya, tentu tidak sesederhana itu.

Bagi saya, bukan masalah mencari ide atau kehabisan ide, namun justru menjaga semangat menulis-lah yang terbilang sulit. Apalagi saya hampir tiap hari menghabiskan waktu 12 jam sejak mulai berangkat bekerja hingga pulang lagi di rumah. Hingga tidak mudah bagi saya untuk duduk sejenak menuliskan ide dan berbagi cerita. Karena fisik dan pikiran sudah terkuras untuk pekerjaan.

Di saat sulit inilah peran seorang partner sangat terasa. Saling mensupport dan "memanas-manasi" adalah hal yang rutin dilancarkan oleh istri saya. Meski saya lebih sering "tambeng-bandel/muka badak" hingga sangat susah untuk diberi masukan. Namun istri saya seperti anak kecil yang tak pernah kehabisan akal untuk mencari celah. Selalu berulang kali mencoba dan mengingatkan saya.

For that reason, akhirnya lahirnya saya mencoba duduk tenang di akhir pekan ini. Membuka laptop. Menancapkan modem. Mengayunkan jari-jemari di atas keyboard dan membiarkannya bernari-nari seirama dengan impuls yang dikirim oleh sel-sel otak.

*
Then, sebagai momen awal saya akan bercerita tentang beberapa hal yang berkesan selama satu bulan terakhir.

1.Holcim Tuban Sport Fiesta.

Ini adalah sebuah event perlombaan olah-raga antar departemen di lingkup perusahaan tempat saya bekerja. Ada begitu banyak cabang olah-raga yang diperlombakan, mulai dari tenis meja, bulu tangkis, tenis lapangan, hingga futsal.

Dari sekian cabang, hanya futsal yang saya ikuti. Hehe. Meski tidak terlalu pandai dan lihai, saya cukup antusias.

Berpose sebelum bertanding.

Setelah memenangkan pertandingan di babak final.


Kami sukses tidak terkalahkan di 2 pertandingan awal. Total 5 gol berhasil kami sarangkan ke gawan lawan. Meski kami juga harus kebobolan 5 gol juga. Hehehe.

Barulah di semifinal kami berhasil mengalahkan tim lawan. Melalui pertandingan yang sarat emosi, kami berhasil menyarangkan 3 gol. Sedang tim lawan hanya berhasil membalas 2 gol.

Hingga di pertandingan final, lagi-lagi kami berhasil memupuskan asa tim lawan untuk merengkuh Trophy Tuban Fiesta untuk pertama kalinya. Kami berhasil membuat tim lawan tak berkutik dengan skor 3-2.

GM Holcim Tuban Plant, Sidik Darusulistyo, saat memberikan trophy kepada saya dan Pak Sony Agus Laswanto

Berfoto bersama GM Holcim Tuban Plant dan para juara.

Kemenangan untuk semua :)

Saya banyak belajar dari kompetisi seperti ini. Bahwa keunggulan skill dan fisik tidak akan berarti apa-apa bila tidak disertai dengan kekuatan mental juara yang mumpuni. Bermental juara bukan berarti menganggap kita-lah yang terhebat dan menganggap lawan berada di bawah kita. Namun lebih ke arah memupuk sikap percaya diri yang terkontrol, tetap tenang dan fokus untuk terus berjuang keras hingga menit terakhir, tidak mudah terpancing emosi dan tidak memandang sebelah mata setiap lawan yang dihadapi.

Pada akhirnya, prestasi ini akan menjadi awal catatan manis bagi saya. Insya Allah prestasi selanjutnya akan menyusul.
 

2. Ramadhan Serba Pertama!!

Setelah lebh dari 20 tahun melewati Ramadhan dengan status "bujang", akhirnya tiba saatnya saya merasakan Ramadhan sebagai pasangan suami-istri. Ramadhan kali ini terasa lebih berat (di beberapa sisi), tapi lebih banyak cerianya. Kami sahur dan berbuka bersama, serta aneka ibadah Ramadhan lainnya yang kami lalui bersama.

Meski terasa aneh di awalnya, karena perbedaan kebiasaan selama berpuasa. Kami merasa semakin hari semakin menyatu. Menurut istri saya, saya akan lebih mudah "dikendalikan" bila perut sudah dibuat kenyang. Hehe. Oleh karenanya, hampir setiap pulang kerja, selalu ada camilan pengganjal perut :). Jauh berbeda saat saya masih hidup mengenaskan sebagai seorang bujang.

Hal seru lainnya adalah merencanakan mudik. Ada 2 keluarga besar yang terpisah jarak lebih dari 1000 km (Cilacap-Bontang). Kami berpikir bagaimana caranya bisa melewati Lebaran bersama kedua keluarga tanpa mengorbankan salah satu keluarga dan melewatkan kemuliaan 10 hari terakhir.

Mudik pertama bersama istri dengan kereta api (Argo Wilis).

Syukur Alhamdulillah, keluarga istri saya dari Bontang memutuskan berlebaran di Surabaya, sehingga memudahkan bagi kami berdua untuk menghabiskan waktu di Cilacap sebelum dan sesaat setelah lebaran serta kemudian bersama-sama berlebaran di Surabaya.

3. Hadiah Ramadhan

Datangnya bulan Syawal bukan berarti datangnya kebebasan setelah sebulan penuh menahan diri. Namun sebaliknya, bagaimana caranya jejak-jejak selama Ramadhan tetap berlanjut dan membekas di bulan-bulan berikutnya.

Oleh karenannya, kami mencoba sebisa mungkin saling mengingatkan untuk menjaga amalan-amalan tersebut. Seperti kami menjaga apa yang telah dititipkan oleh Allah di dalam perut istri saya. :)
(Selebihnya saya akan berbagi cerita di postingan berikutnya).




Keep Learning, Keep Growing!!


Kamis, 30 Mei 2013

Pesan Untuk Masa Depan

Seorang Jamil Azzaini pernah berujar,"bila ingin memiliki sebuah kebiasaan yang positif, maka lakukanlah aktivitas tersebut secara rutin selama  90 hari". Jika hal ini bisa dipertahankan, selanjutkan akan sangat mudah bagi kita untuk mempertahankannya.

**
Saya punya teman yang sangat luar biasa. Produktivitasnya dalam menulis tidak perlu diragukan lagi. Dia rela keluar dari pekerjaan sebelumnya dan mundur sebagai engineer, demi untuk lebih serius menjadi penulis. Alhasil, setelah resign, dia bisa lebih serius menulis. Setelahnya, beberapa buku pun berhasil dia terbitkan. Dialah teman semasa kuliah, teman 1 dosen wali, teman 1 kelompok POROS, teman Mahasiswa Inspiratif ITS 2010, dia Ahmad Rifa'i Rifan (Rifa'i).

***
Dalam sebuah buku biografi tentang Affandi, sang maestro seni lukis Indonesia, diceritakan sebuah kesaksian menarik tentang beliau setelah melukis. Setelah mengerahkan seluruh kemampuan pikiran dan fisiknya dalam bentuk karya di atas kanvas, beliau akan terlihat sangat lelah. Dituliskan bahwa Affandi seperti baru saja melakukan pekerjaan yang sangat berat.

****
Bukan kali ini saja saya absen cukup lama dalam menulis. Merujuk nasihat Jamil Azzaini, saya harus sejenak berhenti dari pusaran aktivitas yang padat, kembali duduk dengan serius, dan mulai berlatih menulis secara rutin. Sama halnya dengan melukis, menulis bukan aktivitas yang bisa dipandang sebelah mata. Aktivitas ini membutuhkan pikiran dan fisik yang prima.

Betul apa yang pernah dikatakan teman saya Muhammad Ersyad (Presiden BEM ITS 2009), bukan kita menunggu waktu luang (untuk berkarya), namun kita lah yang meluangkan waktu. Inilah yang telah dilakukan oleh sahabat saya Rifa'i.
Meski demikian, bukan berarti saya akan mengikuti jejak Rifa'i mentah-mentah he..he..he.
Saya masih nyaman menjadi seorang engineer (untuk sementara waktu). Menulis, bagi saya, adalah akvititas yang mengkondisikan saya agar tetap berpikir kreatif dan inovatif. Saya akan sekuat tenaga mempertahankan kebiasaan untuk menulis.

Di sisi lain, saya ingin meninggalkan jejak untuk anak-anak saya di masa depan. Saya tidak ingin menutup-nutupi kondisi yang pernah saya alami. Bahwa  jatuh-bangun, low motivation, atau bahkan futur sekalipun adalah realitas nyata yang bisa dialami oleh siapapun. 

Meski demikian, selama masih ada semangat dan tekad, semua itu bukanlah hal yang tidak bisa diatasi. Karena seperti kata mantan presiden Afrika Selata, Nelson Mandela, "The greatest glory in living lies not in never falling, but in raising everytime we fall".  Dan semuanya akan bermuara pada sebuah harapan agar anak-anak saya bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang memimpin generasinya menuju arah yang lebih baik.




Keep Learning, Keep Growing!!

Selasa, 09 April 2013

Cerita Pasca Menikah #2 (Sampai kapan kami bisa bertahan?)



Hari-hari awal setelah menikah kami lewati dengan hidup terpisah. Saya di Tuban dan istri di Surabaya. Satu minggu berikutnya kami mulai tinggal bersama di sebuah kamar kos sederhana berukuran 3x4 meter persegi. Sebelum kami berhasil mengontrak sebuah rumah kecil di pinggiran kota Tuban, kami sempat tinggal di kamar kos tersebut kira kira hampir 3 minggu lamanya.

Hari-hari selanjutnya, bersama dengan istri, kami mulai membuktikan betapa menikah mampu membuat pintu rizki yang masih tertutup menjadi mudah terbuka . Entah bagaimana, kami mulai menempati rumah kontrakan dengan fasilitas yang mencukupi dan memadai. Meski tidak lengkap, ada perabotan dapur yang cukup untuk memasak. Pun demikian dengan pemberian/hadiah dari sanak saudara. Meski tak mewah tapi sangat membantu kami. Serta beberapa barang inventaris semasa kuliah yang masih berfungsi dengan baik dan bisa kami manfaatkan hingga kini.

Walaupun tidak banyak, kami memiliki tabungan yang cukup sebelum menikah. Dan barang "mewah" pertama yang kami beli bersama dari uang tersebut adalah "tempat tidur". Seperti kata Yoris Sebastian, setelah lelah beraktivitas selama seharian, tubuh berhak untuk beristirahat dengan nyaman. Kami ingin memastikan bahwa di malam hari kami cukup nyaman dan nyenyak dalam beristirahat, hingga kami cukup fit dan percaya diri untuk kembali beraktivitas keesokan harinya.

Bulan selanjutnya, barulah kami bisa membeli mesin cuci. Bukan tanpa sebab bila kami memilih mesin cuci sebagai incaran selanjutnya setelah tempat tidur. Sebelum menikah, kami bertekad untuk terus berkarya meski sudah menikah. Saya ingin memastikan bahwa kami (terutama istri saya) memiliki waktu dan kesempatan yang cukup untuk mengaktualisasikan diri dan bakatnya. Oleh karenanya, saya ingin istri saya tidak terlalu terbebani dengan aktivitas rumah tangga yang kasar atau tidak membutuhkan olah pikir yang rumit. For that reason, sebisa mungkin kami meminimalisir waktu yang dialokasikan untuk aktivitas tersebut.

To be honest, kami banyak terbantu setelah memiliki mesin cuci. Kami bisa menulis atau mengerjakan pekerjaan lainnya sembari mencuci pakaian. Sayangnya belum ada mesin setrika otomatis, sehingga sebanyak apapun cucian, tetap saja kami harus mengalokasikan waktu khusus untuk menyetrika. Biasanya ini tugas saya di akhir pekan.

Meski demikian, ada satu barang yang lazim ada di tiap rumah, namun belum juga kami beli. Tak lain tak bukan adalah televisi. Saya pernah tinggal di asrama selama 2 tahun tanpa televisi. Bukan berarti selama itu tidak menonton televisi, tapi mengurangi intensitas menonton televisi. Saya biasanya pergi ke warung kopi atau kontrakan teman bila ingin menonton acara MotoGP ataupun Barclays Premier League.

Sebagaimana saat akan membeli tempat tidur dan  mesin cuci, kami selalu berpikir panjang sebelum membelanjakan uang. Selain karena keluarga baru, kami juga ingin memastikan bahwa setiap barang yang dimiliki memberikan dampak yang positif terhadap kualitas kehidupan kami. 

Apa gunanya televisi bila mengurangi quality time diantara kami? Setiap harinya, saya berangkat meninggalkan rumah kontrakan sekitar pukul 6 pagi. Sekitar 12 jam kemudian, atau seusai menuaikan sholat Maghrib saya baru tiba di rumah. Aktivitas ini terus berulang dari hari ke hari. Tidak heran bila kami harus cermat dalam mengoptimalkan waktu yang tersisa.

Selama ini kami banyak menghabiskan sisa waktu di malam hari untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. Saling bercerita tentang hal-hal yang telah dilalui dalam satu hari. Saling menginspirasi satu sama lain. Saling bercanda dan bersenda-gurau. Saling membesar-besarkan dan membanggakan kota kelahiran masing-masing, meski kami tahu sebenarnya tidak banyak yang bisa dibanggakan dari kedua kota tersebut. Terkadang kami juga saling bertukar informasi tentang buku yang sedang kami baca. Kami pun merencanakan keuangan keluarga bersama. Hingga merencanakan liburan pekanan.

Melihat kondisi seperti itu, apakah lantas kami ketinggalan berita dan informasi terkini dari dunia luar? Keberadaan smartphone dan personal computer membuat kami masih bisa mengakses internet. Ini artinya pemenuhan kebutuhan kami akan informasi dan berita masih bisa di-substitusi oleh keberadaan dua gadget tersebut.

Namun demikian, kami juga bukan pasangan yang kaku terhadap perkembangan zaman. Kami selalu mengevaluasi setiap keputusan yang kami ambil bersama. Bagi saya pribadi, keberadaan televisi tidak berpengaruh banyak. Toh saya pernah hidup 2 tahun tanpa televisi. Namun berbeda dengan istri saya. Selama seharian beraktivitas di rumah, ada kalanya dilanda  rasa bosan. Meski, saya yakin tidak akan menonton televisi sepanjang hari, kehadiran televisi kadang kala bisa membantunya untuk mengusir kesepian.

Seandainya kelak kami pun “menyerah” juga dan akhirnya membelanjakan uang untuk membeli televisi. Kami harus memiliki rule yang jelas meski hanya untuk menontonnya. Jangan sampai kehadiran televisi membuat kami terlena, kehilangan quality time , dan tidak fokus dalam berkarya.

Apalagi bila kelak anak kami lahir, jangan sampai mereka kecanduan terhadap televisi. Lebih-lebih bila sampai meninggalkan waktu sholat dan belajar hanya untuk menikmati acara yang kurang mendidik.

Meski demikian, sebelum terlalu jauh membahas bagaimana kami akan me-manage dalam memanfaatkan televisi, terlebih dulu kami harus menjawab pertanyaan yang satu ini.

"Sampai kapan kami bisa bertahan (tanpa televisi)?"
 
Sumber : website-bizweb.blogspot.com



Keep Learning, Keep Growing!!

Minggu, 27 Mei 2012

Alasan Di Balik Memancing

sumber : images.picturesdepot.com

Konon aktivitas memancing merupakan obat mujarab untuk menghapus kepenatan setelah berjibaku dengan rutinitas sehari-hari ataupun persoalan hidup yang sangat complicated. Saya pun pernah membuktikannya. Beberapa minggu yang lalu, sebelum Final Presentation Dedicated OJT, saya beserta ayah dan ketiga adik saya pergi memancing ke sebuah tempat pemancingan. Dan benar saja, sekejap semangat dan mood saya membumbung tinggi.

Nah, alkisah di sebuah desa yang sangat tertinggal ada 2 pria berbeda generasi berobat di sebuah klinik kesehatan. Mereka datang dengan permasalahan yang berbeda. Ada yang mengeluh kehilangan nafsu makan, hingga mengadu susah buang air.

Karena persediaan obat yang terbatas, akhirnya sang mantri hanya memberikan obat penambah nafsu makan untuk 2 hari saja. Dan bila sakit masih berlanjut, sang mantri justru menganjurkan mereka untuk pergi memancing.

Benar saja setelah obat habis, keduanya masih mengeluhkan sakitnya. Akhirnya mereka pun pergi ke sungai untuk memancing. Secara kebetulan keduanya memancing di tempat yang sama.

Pria pertama adalah seorang kakek berusia sekitar 60 tahun. Sedang pria kedua ialah pemuda berumur 23 tahun. 2 jam telah berlalu sejak mereka pertama kali melemparkan kailnya. Belum ada satupun ikan yang memakan umpan mereka.

Di tengah kehehingan tersebut, sang pemuda memberanikan diri untuk membuka percakapan.
"Kek, sebenarnya apa yang kakek keluhkan kepada sang mantri?"

Kakek pun menjawab, "Kakek akhir-akhir ini kehilangan nafsu makan, terlebih sejak nenek sering mengeluh dan marah karena Kakek lebih perhatian kepada burung-burung peliharaan Kakek".

Sesaat kemudian Sang Kakek pun menyakan balik kepada pemuda tersebut, "Hey anak muda, apa pula yang kau keluhkan ke sang mantri, sampai kau diminta memancing segala?"

"Mmm..saya hanya bilang kepada Pak Mantri bila belakangan ini saya susah sekali buang air. Terutama sejak calon istri saya sering mengambek dan mencucu karena berulang kali saya telat mengangkat telepon dan membalas sms darinya."



Keep Learning, Keep Growing

Jumat, 30 Maret 2012

Khitbah? Sure it's my dream!

Sudah bukan rahasia lagi bila di kalangan teman-teman dan keluarga besar,  saya terkenal sebagai anak yang suka berkhayal atau terlalu berpikir jauh ke depan. Meski pada awalnya sebagian khayalan itu hanya berupa senda gurau belaka, namun belakangan kebiasaan ini justru  menuntun alam bawah sadar saya untuk berlari menuju tempat yang hendak saya raih.

Sebuah contoh kecil. Saat saya kira-kira masih duduk di bangku kelas 5 SD, saya sudah berpikir ke mana kelak saya akan kuliah. Berbekal keterbatasan informasi dan inspirasi. Saya memilih ISI (Institut Seni Indonesia Jogjakarta) sebagai tujuan saya. Impian saya bekerja seperti halnya kompas dari Alloh yang mengarahkan saya untuk ke sana kemari. Perlahan saya pun mendapatkan banyak masukkan berharga. Hingga pada akhirnya saya pun mantap memilih Surabaya dan ITS sebagai labuhan selanjutnya.

Inilah nilai yang saya yakini, bahwa apa yang kita impikan hari ini, itulah kita di masa depan. Dan apa apa yang kita raih hari ini adalah hasil dari impian dan kerja keras di masa lalu.

Nilai ini pun saya terapkan dalam banyak hal. Termasuk saat akan memulai komitmen dengan seseorang, sebelum melangkah lebih jauh, saya sudah memperhitungkan dimanakah letak ujung dari langkah yang akan saya ambil. Di kemudian hari, berbekal doa dan upaya, saya pun ditunjukkan banyak kemudahan.   

Pada akhirnya siapakah yang mengira bila seorang gadis yang bertahun-tahun menutup pintu hatinya, seketika luluh membukakan pintu hatinya untuk saya dan sepaka untuk berkomiten bersama saya menyempurnakan agama. Siapa yang mengira bila jarak yang terpaut sangat jauh antara Bontang dan Cilacap bisa menjadi terasa sangat dekat.

Dan Alhamdulillah tepat pada tanggal 24 Maret 2012, saya beserta keluarga saya resmi meng-khitbah Tyzha Inandia. Keluarga kami sepakat untuk meneruskan proses ini menuju ikatan yang sah dan halal.

..Seperti halnya hidup yang diibaratkan dengan senapan mesin. Maka mimpi adalah amunisinya. Mimpilah yang telah membuat hidup ini terasa lebih hidup..
..Berjuang meraih kumpulan bintang bersama-sama tentu akan terasa lebih khidmat dan menyenangkan ketimbang harus mengejar matahari seorang diri..

 Subhanallah.



Keep Learning, Keep Growing!!
*Reff : http://www.tyzhainandia.blogspot.com/

Rabu, 28 Maret 2012

Catatan Awal Dedicated OJT di Cilacap

Hari ini adalah hari kerja ke 8 di Cilacap Plant sejak saya datang awal minggu kemarin. Terhitung mulai tanggal 19 Maret hingga 2 Juni 2012, saya akan melaksanakan tahapan terakhir dalam program GDP, yaitu Dedicated OJT (DOJT). Selama itu pula saya akan ditempatkan dalam sebuah departemen dimana saya akan terlibat dalam aktivitas keseharian sekaligus menyusun sebuah Final Project.


Cilacap bukanlah tempat yang asing bagi saya. Kini, setelah 5 tahun lebih pergi merantau, saya kembali menetap bersama keluarga saya di ke kota ini. Tempat dimana saya melewati masa kecil hingga beranjak remaja. Meski demikian, Holcim Cilacap Plant tetaplah sesuatu yang baru bagi saya. Lingkungan tempat kerja yang hijau karena hutan buatan dan kawanan rusa di dalamnya.

Secara teknis, tidak banyak perbedaan yang signifikan antara Cilacap Plant dan Narogong Plant. Sekalipun terdapat perbedaan, namun masih bisa untuk dipelajari dan dipahami dengan mudah karena baik Cilacap Plant maupun Narogong Plant dibangun oleh pabrikan yang sama.

Ada satu hal yang membuat saya terkagum-kagum, yaitu ikatan kekeluargaan antar karyawan yang sangat erat. Tidak heran mayoritas karyawan pasti fasih berbahasa Jawa dialek Cilacap, meskipun sebagian dari mereka berasal dari luar Cilacap atau bahkan luar Jawa. Itu sebabnya saya tidak banyak menemui kesulitan berarti dalam bergaul dan beradapatasi dengan lingkungan sekitar.

Namun berbagai kemudahan tersebut tidak serta merta membuat saya langsung merasa nyaman disini. Ada beberapa hal yang memang harus saya sesuaikan. Hal ini disebabkan karena ada beberapa kultur kerja yang sangat berbeda dengan tempat kerja sebelumnya dimana kepercayaan terhadap peserta GDP/EVE* sangat tinggi. Bahkan, meski masih berstatus student/trainee, beberapa peserta GDP/EVE pun sempat dipercaya untuk mensupervisi beberapa project selama overhaul. Singkatnya saya masih harus banyak menyesuaikan diri dengan ritme kerja di tempat ini.

Dari sekian banyak hal baru yang saya temui, tantangan terbesar justru terletak di dalam diri saya sendiri, yaitu tantangan terkait “zona nyaman”. Bila tidak hati-hati, saya bisa terjebak di dalam aneka kemudahan yang saya dapatkan baik di rumah maupun lingkungan kerja. Kenyamanan seringkali menggoda kita hingga tidak mau berjuang lebih keras atau yang paling mengerikan bagi saya adalah matinya kreativitas dan turunnya produktivitas diri. Inilah tantangan terbesar yang telah berhasil membuat saya sedikit “stress” selama beberapa hari (hingga kini) awal di Cilacap. (Seretnya produktivitas menulis-pun menjadai indikator betapa bahayanya zona nyaman disini hehe)

Namun bukan berarti saya menolak berbagai fasilitas dan kemudahan yang telah diberikan oleh Alloh. Karena bagaimanapun juga, semua opportunities tersebut harus saya manage betul supaya peluang tersebut memberikan manfaat untuk saya. Atau setidaknya opportunites tersebut tidak berubah menjadi threats/ancaman.

Sekali lagi, tidak semua yang kita anggap baik di awal, selalu baik juga pada akhirnya. Sebagian besar orang mengira saya akan langsung nyaman/tune in dengan DOJT di Cilacap. Namun kenyataannya, saya justru masih berkutat dalam proses adaptasi diri. Saya masih mencari pola hidup produktif yang tidak membuat saya terlena dengan segala kemudahan yang mengelilingi saya.

Pada akhirnya saya berpikir bahwa ke manapun kita “hijrah”, hendaknya dilandasi niat untuk beribadah dan mencari ridlo-Nya. Hijrah bukan sebatas pindah dari satu tempat ke tempat lain, namun juga pindah dari sebuah kondisi/kebiasaan/pola hidup yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik. Karena dalam pengertian yang lebih luas lagi, DOJT yang saya lakukan ini kelak akan diminta pertanggung jawabannya di hari akhir, baik itu terkait apa-apa yang telah saya kerjakan, waktu yang saya habiskan, dan sebagainya.

..Oleh karena itu, dengan segala macam fasilitas dan kemudahan yang sangat menggoda, saya tetap berkomitmen terhadap diri saya sendiri untuk selalu bekerja keras, tetap berkarya, dan terus berkreativitas..





Keep Learning, Keep Growing!!

*GDP : Graduate Develepoment Programp (Sebuah program pembinaan untuk lulusan S1)
  EVE : Enterprise Vocational Education (Sebuah program pembinaan untuk lulusan SMA/STM se-derajat) 

Rabu, 22 Februari 2012

Quote of the Week (Pria Sejati)

Sumber : tl.bestpicturesof.com
 Pria (paling) sejati 
adalah 
Pria yang berani (memutuskan untuk) 
menikah di usia muda. 

(Ernest Prakasa-2012)


Segenap rasa hormat dan bangga serta syukur untuk ketiga teman saya, 
Aditya Rohmani (Menteri Kebijakan Publik BEM ITS 2009),
Didi Masda Riyadi (Mendagri BEM ITS 2009),
dan segera menyusul
Arief Hidayat (Manajer ciCak - Kopma dr.Angka ITS 2008)
Doa dan harapan agar terwujud keluarga muslim yang sakinah, mawaddah, warohmah,
serta kemudahan bagi siapa saja (termasuk saya) untuk mengikuti jejaknya.:)



Keep Learning, Keep Growing!!

Selasa, 21 Februari 2012

My Weekly Gallery (The Art of Overhaul)

19 February 2012 became the last day for my involvement in yearly overhaul. I have been involved started from 3rd of February. Initially I only intend to learn about the EP, but in the end I get a lot of things.Among the mechanical engineers, we felt that we were getting closer to each other.  

I also enlarge my relationship by getting new relations. More or less I started to know the black and white the world of contracting. I began to understand a little detail of activities ranging from inspection, execution to commissioning.  

One that interests me is welding!! Yes, couple days ago, when the work has started over, I took time to gain knowledge directly from the welder to learn how to weld. And those details have been outlined in a gallery which I call as the art of overhaul.  

This picture told us how to lift the collecting plate up.
Mobile crane, trailer truck, and other heavy equipment were needed in such work.
If you want to know how confined this workplace, yes this picture is the answer.  Those are the installation of collecting plate and discharge electrode which approximately each other just 200 mm in space.
Not only confined, it's also dark.
I've to inspect each part in detail.
Since this year, we put some kind of plate to make us easy in doing some inspection inside the EP
We used to take a rest after lunch break by sleeping, This work really take much energy. Sleep in peace!
Even Ferry and me don't have any time for having breakfast in "warung". We often buy it in front of our housing then bring  and eat it at office. Gudeg is always our favorite menu.
By this overhaul, we feel that we are getting closer to each other. We were tired, happy, and other emotions which were felt together. Even we had a dinner as Mech.Engineering student did, "makan ala mesin" hehhe.  Solidarity Forever!!
After took a some kind of short course of welding from the welder, I got a chance to weld the outer roof. Not to bad, but I'm gonna learn more seriously in welding practice. Who knows someday I'm able to be Welding Inspector or even Welding Engineer. Hehe 

Yeayy,,this picture was taken after the work hours. Both of them were worker who involved in this project.
The last but not least, I always had a chance to take a pose for a second.Hehe



Keep Learning, Keep Growing!!

Minggu, 12 Februari 2012

My Weekly Gallery (Dusty, Tired, Complicated, Fun)

Hey guys, How's your week end? As I told you before, I was involved by one of mechanical engineer to learn and help him in supervising one of project at Overhaul (OH)  NAR 2*. As consequence there is no holiday during OH.

The project which had been given to me was Collecting Plate and Discharge Electrode Replacement at Electrostatic Precipitator (EP.). This equipment is part of dedusting system and common used in cement manufacturing, power plant, or paper and pulp plant. The main function is for absorbing the dust by using electrostatic principle so the gas which is released through chimney/stack is already cleaner. So no wonder that is very dusty inside EP. That's why I've to clean my clothes up by pressured air after having work inside EP and in the end of the day wash my watch, glasses, and respirator.   

Actually it was my first-biggest experience in dealing with engineering work. At the first, I wasn't sure in my self. There was no enough confidence due to less time dealing with engineering work during I was in college than extracurricular activities. But then I tried to convince myself over and over again. I just inspired by Bonek's way of life. Take first and think about it later.Hehhe.

I totally agree that confidence is part of success as well, so that I went to site by full of artificial confidence. Heheh. I did some kind of zero mind process which everything was started from zero. I met various people with different characteristic and experience. Along the way I finally enjoy this job. I learned many things and got new experience, new relation. There were more other interesting things which I got.

But I realize that this work not only gives me something new but also took much time as consequences. I went to plant before 8 a.m and arrived at home after 8 p.m. That's why there was a complain from my partner. For sure it was complicated for us. I have to be able to please her as hard as I can. 

By this post, I would like to apologize profusely. I've just started find something which had me looking for months. I've committed to my self that by the time I get married, family is first, no compromise. But before we go to that level, I wanted to let you know what kind of the work that I've been dealing for a week. These are some of picture that will be faced by me in the following years even though I wouldn't spent whole of my precious time for such work.


This is Electrostatic Precipitator taken from outside.The worker was lifting the existing Collecting Plate down. There were 80 plates which would be replaced by the new one.


I was standing on the Discharge Electrode frame. It's about 10 meters in height. That's why I must wear Full Body Harness.


This picture was taken from top roof of EP. The workers were installing the discharge electrode. It's fully combination of confined space, work in height, and dusty. Really challenging.
It's also taken from the top of EP. I took this picture at the bridge which connected the EP to chimney/stack. That's mobile crane which was lifting the casing plate up.
 
And finally, that's me. I was waiting in line for cleaning my clothes by using pressured air. I'd to wear a set of personal protective equipment, like safety helmet, safety google (it's just already fell down into hopper of EP), japanese hat, full body harness, etc, which's total about 5 kilograms in weight.Hehe


In the end of the day, I've to compile all of the findings and work progress into a daily report. It was both of field and office activity.I'll post other activity related this work later. Keep on spirit and have a nice day. :)




Keep Learning, Keep Growing!!
*NAR 2 means Narogong 2. The name of plant in Narogong Plant. There are only  2 kiln line in Narogong, NAR 1 and NAR 2