Tampilkan postingan dengan label Be parent. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Be parent. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Januari 2016

Cerita Pasca Menikah #13 : I am the lucky one

Saat kecil, saya bukan tipikal anak yang bisa fokus dan duduk diam. Tak ada hari yang tak dilewati Mama saya kecuali rasa was was dan cemas atas tingkah saya.

Beliau tanpa lelah terus mencari cara supaya saya bisa diam. Setidaknya diam untuk beberapa saat. Pencarian terus dilakukan hingga ditemukanlah minat saya saat itu.

Saat kecil saya suka melukis, tapi tak pernah benar-benar bisa melukis. Saya lebih banyak membuat coretan abstrak di dinding ketimbang menggambar bentuk yang baik dan benar.

Oleh karenanya saya dimasukkan ke dalam sanggar melukis, supaya bisa melukis dengan benar.

Selama hampir 4 tahun menimba ilmu di sanggar melukis, saya belajar banyak hal. Tapi semua itu masih tak cukup membuat saya benar-benar bisa melukis.

Selama periode itu pula saya berulang kali mengikuti perlombaan melukis dan beberapa kali terpilih menjadi yang terbaik. Pencapaian inipun tidak membuat saya serta merta menjadi seorang pelukis yang benar. Prestasi dalam kejuaraan melukis tidak lebih karena selera juri yang "kebetulan" pas dan cocok dengan hasil karya kita. Saya menyebutnya keberuntungan.

Setelah berhenti dari sanggar lukis, aktivitas melukis pun jauh berkurang. Hanya momen momen tertentu saja saya akan melukis. Meski demikian, kecintaan saya akan seni lukis belumlah pudar. Beberapa kali saya datang dan menikmati pameran lukisan. Saat itulah saya seolah-olah merasakan kembali sebuah rasa yang telah lama hilang.

Berulang kali saya mengunjungi pameran lukisan, berulang kali pula saya ingin kembali melukis. Karena melukis bagi saya bukan hanya melulu bercerita tentang sebuah karya seni.

Tapi lebih dari itu, aktivitas melukis membuat saya bisa menghadirkan memori dan kenangan manis tentang kasih sayang seorang Mama  yang ingin anaknya bisa duduk diam dan menghasilkan karya.

Hingga akhirnya terbersitlah harapan untuk memiliki partner hidup yang memiliki minat dan ketertarikan yang sama, melukis. Seseorang yang saya harapkan memiliki kemampuan melukis dan berkarya jauh lebih baik dari saya. Karena saya ingin partner yang bisa membimbing anak saya (kemungkinan sama seperti saya, tidak bisa diam) untuk melukis dengan baik dan benar.

Alhamdulillah, Allah menganugerahkan seorang istri yang jauh melebihi ekspektasi saya. Bukan hanya bisa melukis, tapi juga lulus dari perguruan tinggi dengan jurusan yang berhubungan dengan seni.

**
Selang beberapa waktu, kami pun diberi amanah seorang bayi laki laki. Kini si bayi tanpa terasa telah 22 bulan menemani hari hari kami. Tingkah polahnya tak jauh beda dengan saya. Tak bisa diam dan selalu membuat was-was.

Hingga suatu ketika, kami sedang beres-beres rumah saat saya menemukan seperangkat alat lukis yang telah lama tersimpan dan lama tidak digunakan. Ini adalah alat lukis yang saya simpan sejak SMA. Sementara istri saya pun menyimpan alat yang sama sejak kuliah.

Saat itu juga muncul ide dari kami untuk mengenalkan alat lukis tersebut kepada sang anak. Bisa ditebak, dia sangat menyukainya. Seketika duduk diam di depan kanvas, diambilnya palet dan dituangkannya cat acrylic. Tangannya kemudian mulai beraksi meraih kuas.

Setelah dioleskan di pallet yang berisi cat, digoreskanlah kuas tersebut ke kanvas. Tak ada kesan ragu-ragu, hanya keberanianlah yang terlihat di tiap goresannya. Itulah pertama kalinya momen-momen kami mendampingi anak sekaligus melukis bersama di atas kanvas.

Saya mengenal kuas dan kanvas di usia 15 tahun. Istri saya pun mungkin tak jauh beda. Sementara anak saya mengenalnya di usianya yang belum genap 2 tahun.

Yah, kesamaan hobi dan pandangan akan melukis, membuat kami berdua begitu mudah mengenalkannya pada anak. Semoga dia tumbuh jauh lebih baik dari kami berdua.

How lucky I am to have a partner like you my dear.


Keep Learning, Keep Growing!!

Kamis, 07 Januari 2016

Keluar Zona Nyaman atau Memperluas Zona Nyaman?

"Keluar dari Zona Nyaman"  quote yg sudah tidak asing bagi kita. Di berbagai kesempatan, mulai dari pelatihan motivasi, artikel di media masaa, training entrepreuner, hingga buku-buku pengembangan diri, kalimat tersebut seperti mantra andalan yang menyihir banyak orang.

Sebetulnya, saya baru mulai mengenal rangkaian kata tersebut saat pertama kali merantau di tahun 2006. Terbiasa dengan hidup yang serba "ada" saat bersama keluarga, seketika berubah saat itu. Tak ada orang tua, tak ada sanak famili, hanya saya seorang. Simply no more comfort zone. Itulah masa transisi dalam hidup saya.


Kondisi tidak nyaman ini membuat saya mau tak mau harus terus "bergerak". Persis seperti filosofi orang belajar bersepeda. Kita harus pandai menjaga ritme antara terus mengayuh pedal, menahan laju, dan menjaga keseimbangan as well.

Bermodal habit yang sudah dibangun orang tua sejak kecil. Berbekal segudang nasihat, petuah, dan sedikit "kiriman" dari orang tua. Tidak lupa kemampuan berkomunikasi dan menjalin relasi dengan orang lain. Perpaduan semua itu, membuat saya berani memulai babak baru dalam hidup.

Petualangan itu saya mulai dengan menata ulang aktivitas keseharian. Hal ini tercermin, salah satunya, dengan mencari tempat tinggal (kost) yang dekat dengan tempat ibadah. Kost yang dekat dengan tempat ibadah merupakan tempat yang istimewa. Minimal kita selalu diingatkan untuk sholat wajib 5 waktu. Makin sering berjamaah, makin sering bertemu orang-orang yang istimewa. Terutama karena merawat solat berjamaah.

Selanjutnya membangun "jaringan". Keterampilan untuk membina relasi membuat "lingkaran" saya makin luas. Demi memuluskan pencapaian kesuksesan, saya fokus mengelilingi diri dengan orang-orang yang sejalan dengan tujuan saya. Lingkaran itu saya bangun mulai dari teman-teman satu kampung di rantau, kakak-kakak satu kos, dan tentu saja teman-teman satu kampus. Seiring berjalannya waktu, keikusertaan di beberapa organisasi kemahasiswaan juga menambah luas jaringan yang saya miliki.

Berada di tengah-tengah jaringan yang kondusif, membuat saya seperti berada di sumber energi yang tidak ada habisnya. Setiap interaksi yang terjadi di dalamnya tak lain adalah proses saling menginspirasi dan saling menguatkan. Hingga kecil kemungkinan saya terjebak dalam kubangan "kegalauan" yang berlarut-larut.

Slow but sure, jaringan ini membawa saya ke dalam sebuah zona nyaman yang baru. Sama halnya dengan sebagian besar teman saya yang merantau. Kita sama-sama keluar dari zona nyaman pada awalnya. Kemudian dengan proses adaptasi yang tidak mudah, ada yang berhasil menemukan zona nyaman yaang baru, ada pula yang gagal membangun zona nyamannya. Karena yang diperlukan bukan hanya keberanian untuk keluar dadi zona nyaman. Tapi kemampuan untuk membuat zona nyaman baru.

Pada akhirnya, bukan "keluar dari zona nyaman"-lah yang menjadi tujuan akhir. Namun kegigihan untuk terus berjuang "memperluas zona nyaman"-lah yang akan membawa kita berprestasi dalam level yang lebih tinggi lagi.


Bersambung

Keep Learning, Keep Growing!!

Selasa, 21 April 2015

Narasi Bebas 20/04 : Teruntuk Anakku Umar

Well, inilah gambar untuk narasi bebas malam ini (20/04/15).



Tren te teng..dan di dalam kereta Taksaka Malam, perjalanan dari Kroya menuju Jakarta, lahirlah karya ini (dengan beberapa perubahan).



TERUNTUK ANAKKU UMAR

Usia kandungan Ummimu sudah masuk bulan ke 7 sewaktu kau berulang kali menendang perut Ummimu.Tak sekali dua kali kau tendang perut Ummimu. Seiring bertambahnya usia, intensitasmu menedang Ummi makin tinggi.Abimu hanya bisa nyengir kegirangan, sementara Ummimu meringis kesakitan.

Sebenarnya bola bukanlah hal baru di keluarga besar kita. Kakek buyutmu pernah kehilangan sebagian besar giginya karena bermain bola. See, betapa hebohnya masa muda kakek buyutmu dulu.

Belum lagi Abimu ini nak. Meski tak jago (baca : tidak bisa) menggiring bola dengan baik dan benar, tapi kemampuan Abimu mencetak gol tak boleh dipandang sebelah mata. Soal positioning di depan gawang, Abimu bisa disamakan dengan Filippo Inzaghi.

Saat tim lawan bergerak maju menyerang, Abimu tetap bertahan di garis pertahanan lawan. Hingga waktunya kawan berhasil mencuri bola dan mulai menyerang balik, Abimu menjadi orang pertama yang ada di daerah pertahanan lawan. Selangkah lebih maju kan (Hehe).

Tapi itu cerita dulu, saat Abimu belum menikah. Saat bola memiliki daya tawar untuk berkompromi dengan urusan lain. Sekarang semuanya agak sulit bagi Abi. Bukan karena kemampuan Abimu yang menurun. Bukan karena fisik Abi yang tak seprima dulu. Bukan pula karena berat badan dan lingkar perut yang mulai melebar. Tapi karena kesempatan untuk bermain bola yang makin terbatas.

Di luar sana, banyak orang yang menutupi ketidakmampuannya bermain bola dengan jalan memindahkan impiannya ke anak. Mereka sekolahkan anak-anaknya ke dalam sekolah sepakbola bergengsi. Mereka begitu terobsesinya agar anaknya pandai bermain bola dan menjadi superstar di kemudian hari.

Tapi Abi tidak. Sama sekali tidak nak. Tak perlu kau mahir bermain bola. Tak perlu kau menguasai teknik mengumpan ala David Beckham. Tak perlu kau jago menggiring bola seperti Zinedine Zidane. Tak penting juga kau menendang seperti C. Ronaldo.

Bagi Abi, cukuplah kau suka pada bola. Cukuplah bola menjadi hobi beratmu nak. Supaya Abi punya alasan ke Ummimu untuk kembali bermain bola.

“Mi Ummi, Umar nangis minta ditemenin main bola nih. Kita berdua keluar dulu ya.”

Atau paling tidak,

“Mi, Ummi, malam ini  MU main. Abi nemenin Umar nonton ya.”

 

Keep Writing, Keep Growing!!

Jumat, 03 April 2015

Happy Milad Umar Azka AW

Teruntuk Pemimpin Masa Depan, Umar Azka

Tanggal 3 April 2015 ini, tepat Azka ulang tahun yang pertama. Satu tahun sudah Azka hadir mewarnai hidup Abi dan Ummi. Inilah salah satu periode pendewasaan diri yang bersejarah dalam perjalanan hidup Abi dan Ummi.

Pada awalnya, Azka dan Ummi tinggal bersama eyang uti di Surabaya, sementara Abi tetap di Tuban. Rencana awal, Azka dan Ummi boyongan ke Tuban setelah usia satu bulan. Namun, belum sampai sebulan, Azka dan Ummi sudah Abi bawa ke Tuban. Saat itu eyang kung harus operasi di Surabaya, sementara eyang uti pulang ke Bontang menjaga aunty.

Di sinilah tantangan Abi-Ummi untuk merawat dan membesarkan newborn baby tanpa bantuan eyang uti. Kita tidak punya sanak famili yang tinggal di Tuban, kalaupun ada itupun sangat jauh dari tempat tinggal Abi-Ummi. Alhamdulillah banyak tetangga yang membantu. Mereka sudah seperti orang tua sendiri bagi Abi-Ummi.

Minggu awal-awal di Tuban, Abi-Ummi sering terbangun di tengah malam karena Azka menangis. Bila bukan karena buang air atau haus, ya kepanasan. Urusan buang air, Abi-Ummi bergantian mengganti popok. Urusan haus, Alhamdulillah ASI Ummi mengalir lancar. Kapanpun Azka menangis, ASI dari Ummi selalu siap untuk Azka. Tidak heran jika Azka gampang terlelap setiap kali minum ASI. Kamar kontrakan kita waktu itu memang tidak terlalu nyaman. Bila jendela dibuka, banyak nyamuk yang masuk. Sedang kalau jendela ditutup, Azka yang kepanasan.

Hari hari berikutnya, tiada hari tanpa cerita tentang Azka.  Ada saja yang membuat Abi-Ummi takjub dengan Azka, terlebih bila melihat perkembangan Azka dari waktu ke waktu. Mulai dari awal tengkurap, menengadahkan kepala, duduk, mbajul (merangkak dengan perut-red), merangkak, merambat, mulai berjalan tertatih, hingga Azka bisa mengucap Aaabiii.

Belum lagi betapa terobsesinya Ummimu dalam urusan me-maintain berat badanmu. Satu ons saja berat Azka turun, saat itu juga Ummi bisa langsung turun mood-nya. Sebaliknya bila berat Azka terus naik, Ummi bisa teriak-teriak kegirangan. Masih banyak lagi kebahagiaan yang Abi-Ummii rasakan. Terlalu banyak bila harus dituliskan satu per satu.

Bila dibandingkan Abi-Ummi sewaktu kecil, kondisi Azka saat ini jauh lebih baik. Alhamdulillah Eyang dan Mbah bisa menyekolahkan Abi-Ummi hingga lulus sarjana. Hingga Abi-Ummi bisa mencari nafkah yang lebih baik. Bila dibandingkan dengan anak-anak seusia Azka saat ini pun, kita harus banyak bersyukur. Di luar sana masih banyak anak-anak yang tidak seberuntung Azka, memiliki keluarga besa dan lingkungan yang sangat mendukung kebutuhan Azka.

Di sisi lain, Azka lahir pada era dimana bangsa kita sedang membutuhkan banyak pemimpin berkualitas dan berakhlak mulia di segala bidang. Ummat ini membutuhkan pemimpin-pemimpin yang bisa tampil menjadi teladan, inspirator sekaligus pelindung bagi orang-orang lemah.

Oleh karenanya, Abi-Ummi berikan nama Umar Azka Al Faruq Wahid. Nama ini terinspirasi dari sosok Umar bin Khattab RA.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai Ibnul Khattab, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan bertemu dengannmu di suatu jalan melainkan ia akan mengambil jalan yang lain dari jalanmu.” (HR. Bukhari, no.3480)

Doa Abi-Ummi, semoga kelak pada masanya, Azka bisa tumbuh menjadi pemimpin yang mewarisi karakter Khalifah Umar RA. Pemimpin yang ditakuti oleh lawan (bahkan syetan sekalipun). Pemimpin yang mampu menegakkan dan membedakan antara haq dan bathil. Pemimpin yang bersih hingga menjadi inspirasi dan panutan bagi generasi selanjutnya. Pemimpin yang mampu membawa peradaban ini menuju ke arah yang lebih baik.

Bila datang masa dimana Abi-Ummi semakin tua dan tak berdaya, terus doakanlah kami berdua agar selalu istiqomah di jalan Allah.Sayangilah Ummimu tiga kali melebihi sayangnya Azka untuk Abi. Pengorbanan yang telah Ummi keluarkan jauh melebihi apa-apa yang telah Abi berikan untuk Azka. Karena tak ada yang bisa menandingi besarnya pengorbanan mengandung selama 9 bulan dan sakitnya saat melahirkan.

Dua hal yang tak akan pernah Abi rasakan seumur hidup. Terus tumbuh anakku. Terus berkembang anakku.

Salam sayang selalu untuk Azka.



Keep Learning, Keep Growing!!

Rabu, 03 September 2014

Cerita Pasca Menikah #10 : Kebahagiaan yang dinanti-nanti


Hari ini, tepat lima bulan yang lalu – 3 April 2014, saya dan istri diliputi kebahagiaan yang luar biasa. Kebahagiaan yang juga dirasakan oleh kedua orang tua kami di Cilacap dan Bontang. 

Sulit digambarkan betapa bahagianya saat itu. Kebahagiaan yang sebenarnya pernah dirasakan sebelumnya oleh kedua orang tua dan kakek-nenek kami. Semangat akan datangnya seorang anggota baru dalam keluarga besar. Kebahagiaan yang diiringi dengan tumbuhnya harapan yang membuncah tinggi dari sang calon penerus perjuangan.

Generasi penerus yang kelak didambakan bisa membawa peradaban ke arah yang jauh lebih baik. Generasi penerus yang tidak pernah melupakan dan selalu mendoakan para pendahulunya.   
Kebahagiaan ini telah membawa kami ke dalam fase kehidupan berikutnya. Kami bisa merasakan apa yang dahulu orang tua kami rasakan. Orang tua kami bisa merasakan apa yang dirasakan oleh kakek-nenek kami dulu kala. Pada akhirnya, semua merasakan hal yang pernah dirasakan oleh para pendahulu kami.

Semua kebahagiaan ini telah membawa perubahan dalam hidup kami sehari-hari. Terbangun di tengah malam karena tangisan bayi. Rasa cemas bila terlalu lama meninggalkan si kecil di rumah. Rasa lelah yang seketika hilang selepas pulang kerja saat melihat senyuman sang kecil.

Meski “kerepotan” kami sedikit bertambah saat bepergian ke luar kota. Namun di sisi lain, kami harus bersyukur. Kini kami bukan lagi berdua. Sekarang kami bertiga! Tak ada lagi sepi yang dirasakan istri, saat saya pergi bekerja di siang hari.

So much things which has changed our living life. Sejujurnya,that’s  so much things that wanna be shared. Sayangnya waktu berjalan sangat cepat, dan we both even don’t have any time to keep on desk and update the stories. Kami terlalu larut pada detil kebahagiaan yang tersurat dalam perubahan hidup kami.

Anyway, I found another reason to keep the stories updated. It’s not to keep the blog fresh, but to keep the story to be history for the future.

Semoga saya dan istri selalu diberi kesabaran untuk terus belajar dan saling mengingatkan. Hingga bisa sama-sama tumbuh menjadi orang tua yang bisa membesarkan buah hati kami menjadi pribadi sesuai dengan do’a yang tersirat dalam namanya, Umar Azka Al Faruq Wahid.

 
Foto ini diambil selepas sholat Ied saat Hari Raya Idul Fitri 1435 H.




Keep Learning, Keep Growing!!

Kamis, 13 Februari 2014

Cerita Pasca Menikah #9 : Kunjungan Perdana Ke Dokter Kandungan

--lanjutan dari cerita sebelumnya--

Malam harinya kami berdua pergi memeriksakan diri ke dokter kandungan. Sengaja kami mencari dokter perempuan. Bagi kami, selama masih ada dokter kandungan perempuan kami tidak akan datang ke dokter laki-laki. Semata-mata karena pertimbangan syariah dan kenyamanan dalam pemeriksaan.

Singkat cerita, kami meluncur ke sebuah klinik dokter kandungan. Kami duduk bersama pasien lainnya di ruang tunggu. Ada pasien yang diantar suaminya, ada pula yang diantar keluarga besarnya. Maklum praktik dokter kandungan perempuan di Tuban sangat jarang, wajar bila peminatnya sangat banyak dan datang dari berbagai pelosok pedesaan.

Menariknya, baru kali ini saya melihat begitu banyak perempuan dengan perut membesar berkumpul dalam sebuah tempat, at the same time and same moment. Ada yang mungkin baru 4 bulan, ada pula yang sudah sangat besar, mungkin usia 7-8 bulan.

Sebagai laki-laki yang tidak pernah ke klinik dokter kandungan, saya takjub menyaksikan pemandangan seperti ini. Terlintas di pikiran, betapa dahsyatnya efek yang diakibatkan oleh proses ovulasi yang dilakukan sepasang lawan jenis.

Bagi pria urusan mungkin selesai seketika itu juga di atas ranjang (bila dilakukan di atas ranjang), namun tidak bagi perempuan. Ini baru permulaan. Dialah yang akan mengandung selama kurang lebih 9 bulan dan kemudian baru melahirkan.

Singkat cerita, setelah beberapa pasien saling bergantian keluar dan masuk, tibalah kami pasangan muda, yang lebih pas terlihat sebagai anak kuliah ketimbang pasagan suami istri, masuk ke ruang periksa.

Seorang dokter perempuan dan suster menyambut kami berdua. Tidak ada ekspresi yang spesial, setidaknya sedikit senyuman. Maklum di kota kecil seperti Tuban pelayanan terhadap konsumen belum sebaik Surabaya.

Setelah ditanya apakah ada keluhan atau tidak, istri saya pun mulai dipersilahkan untuk berbaring di tempat yang telah disediakan. Bu dokter mulai menyiapkan alat USG, persis seperti seorang engineer melakukan ultrasonic test untuk melihat defect pada sebuah logam.
  
Setelah suster mengolesi perut istri dengan semacam gel, barulah Bu Dokter dengan dinginnya mulai menggerak-gerakan probe diatas perut istri saya. Tak lama kemudian tampaklah sebuah titik hitam kecil.

Sumber : tyzhainandia.blogspot.com

Ya! Itulah yang kami tunggu selama 6 bulan pernikahan. Dialah satu-satunya sel kelamin jantan yang berhasil menembus ovum dan bertransformasi menjadi zygot. Dialah  Sang Juara yang berhasil menyisihkan berjuta-juta sel lainnya dalam sebuah pertarungan hidup atau mati.

Inilah Sang Juara yang survive berenang menempuh jarak dan medan yang sangat berat. Bahkan, bila kelak dia hidup sehat dan dewasa, mungkin inilah pertarungan paling mengerikan yang pernah dia jalani.

Semoga dengan bekal pengalaman menyisihkan jutaan kompetitor, dia bisa tumbuh menjadi pemimpin ummat yang bermental juara. Pemimpin yang tumbuh bukan karena pencitraan, tapi karena memang terlahir dan berkembang untuk menjadi seorang pemimpin.

**

Malam itu kami berdua hanya saling memandang, cengar-cengir, dan (lagi-lagi) speechless.

Sementara itu, saya berbisik dalam hati, Great job buddy!





Keep Learning, Keep Growing!!

Selasa, 11 Februari 2014

Cerita Pasca Menikah #8 : Biii...POSITIF!!!

Sepertinya, saya memang termasuk salah seorang korban dari tayangan “sinetron”. Sinetron memberikan beberapa pemahaman yang menyesatkan kepada saya.

Saya mengira bahwa seorang perempuan yang hamil akan muntah-muntah di pagi hari setelah “jungkir-balik berakrobatik mengerahkan seluruh tenaga” bersama suami pada malam harinya, persis seperti apa yang pernah saya saksikan di sinetron “Pernikahan Dini”. Hehe. Hal ini yang membuat saya selalu harap-harap cemas di pagi hari. Apalagi Jumat pagi. Berharap istri saya mual-mual dan muntah-muntah

Pada kenyataannya, rentang waktu antara berhubungan badan dengan gejala muntah-muntah tidaklah secepat yang saya bayangkan. Setiap perempuan akan mengalami rentang waktu yang berbeda-beda.

Selain itu, gejala seorang perempuan hamil tidak selalu disertai dengan muntah-muntah. Seperti yang dialami oleh istri saya. Gejala-gejala kehamilan tanpa kami sadari sudah mulai tampak di akhir bulan Ramadhan tahun lalu.

Diawali pembengkakan gusi sebelum mudik, hingga pegal-pegal di seluruh badan saat Hari Raya Idul Fitri. Kami mengira setelah melakukan perjalanan mudik sejauh ratusan kilometer dari Tuban-Surabaya hingga Cilacap, sewajarnya badan akan kelelahan. Itu sebabnya kami sedikit menghiraukan gejala tersebut.

Sekembalinya kami di Surabaya, istri saya masih saja mengeluhkan gejala yang sama. Sekujur badan serasa lemas-pegal. Sampai di sini kami masih berpikir bahwa ini akibat setelah melakukan perjalanan jauh. Kami baru mulai gelisah ketika istri saya sadar bahwa sudah beberapa minggu dia telat datang bulan. Ini saatnya kami mencoba lagi peruntungan test pack.

Ya, sayangnya ini bukan pertama kalinya istri saya telat datang bulan. Itu sebabnya kami tidak terlalu berharap banyak. Istri saya memang sering telat datang bulan. Hampir setiap telat datang bulan saya selalu membeli test pack. Selama itu pula hasilnya selalu negative. Itu sebabnya, saya tidak terlalu berharap banyak pada hasil test pack. 

Karena di Surabaya saat itu masih ramai sanak saudara dan orang tua, kami menunda pengecekan test pack sampai kami kembali di Tuban.

Sampai suatu pagi, saat saya sudah mulai kerja. Sebuah panggilan masuk ke HP saya. Saya yang masih berkutat di depan laptop mencoba mengalihkan perhatian ke HP. Saya terima panggilan tersebut, sejurus kemudian terdengar suara perempuan berteriak lantang di sana.

“BII…POSITIFF!”





Setelah memastikan bahwa itu benar-benar suara istri sah saya, langsung saja saya merasakan surprise, haru, dan senang. Semua bercampur menjadi satu. Saya speechless. Rasanya bumi berhenti berotasi selama 10 detik, persis seperti pertama kali bertemu istri saya. Perfect


bersambung


Keep Learning, Keep Growing!!

Jumat, 07 Februari 2014

Cerita Pasca Menikah #7 : Pertanyaan basa-basi yang menohok

Seperti halnya kebanyakan pasangan muda,  kehadiran seorang anak adalah salah hal yang kami tunggu-tunggu. Bahkan “memiliki anak” adalah salah satu resolusi yang kami canangkan di tahun 2013.

Bagi kami, menikmati masa muda akan lebih seru dan menantang ketika ada buah hati. Karena kehadiran anak akan membuat kita berpikir berulang kali tiap kali akan bertindak. Oleh karena itu, secara otomatis kita akan tehindar dari aktivitas yang kurang bermanfaat.

Kami bukannya tidak menyadari konsekuensi memiliki anak kecil di usia muda. Di tahun-tahun awal, tidak akan mudah bagi kami untuk  travelling sesuka hati. Namun bila saatnya nanti sang anak sudah cukup besar dan aman, tentu travelling akan menjadi lebih mengesankan. Bepergian dan bertualang bertiga akan semakin seru.   

Kami tetap tidak berniat menunda momongan. Bagi kami, semakin cepat memiliki momongan, mengakselerasi kami untuk tumbuh lebih “dewasa” dan “matang” lebih cepat.

Getting faster in having children, getting faster in being stable, both in economic and social, means getting faster in readiness to support our family, our younger brothers & sisters. Not to mention that we’re not too old for having grandchildren.”

Faktanya tidak semudah itu kami dikaruniai seorang anak. Meski tak lama, namun kami tetap harus menunggu 6 bulan lamanya, terhitung dari Desember 2012 hingga Agustus 2013. 

Selama periode itu kami menikmati waktu-waktu berdua. Aktivitas kami banyak dihabiskan untuk bepergian bersama, menelusuri jalur-jalur perjalanan yang belum pernah kami lewati, menyewa beberapa film dan menonton bersama di rumah, “kulakan” kain berdua dan riweuh mengikuti bazzar dari satu mall ke mall lainnya.

Hingga saat “kesepian” mulai menghantui kami berdua, orang-orang diluar sana justru semakin gencar melancarkan pertanyaan yang awalnya biasa namun menohok bagi kami pada akhirnya. Hari demi hari, orang terus berganti, namun pertanyaannya tetap sama, “Mas, istrinya sudah isi belum?”atau “ Gimana, sudah mbathi belum istrinya?”

Pada awalnya, kami santai saja menanggapi pertanyaan seperti itu. Namun lama-kelamaan kami mulai gerah juga. Apakah mereka kira kami tidak “jungkir-balik berakrobatik mengerahkan seluruh tenaga” di sepertiga malam terakhir?

Sebuah pelajaran berharga buat kami, berhati-hatilah bila hendak menanyakan hal-hal yang pribadi, entah itu pekerjaan, pernikahan, kehamilan, atau bahkan kelulusan. Meski terkesan basa-basi, namun bisa jadi hal serius bila yang bersangkutan memang memiliki problem dalam hal mendapatkan pekerjaan, mencari jodoh, memiliki momongan, atau menyelesaikan kuliah.


bersambung..



Keep Learning, Keep Growing!!!