Sabtu, 31 Desember 2011

Selamat Ulang Tahun

Sumber : layoutsparks.com

Perjalanan hidup seorang anak manusia selalu diawali dengan proses kelahiran yang sangat dinantikan oleh kedua orang tuanya. Kemudian seiring berjalannya waktu berkembanglah baik secara fisik maupun sisi kedewasaannya. Mulai dari bayi ke masa kanak-kanak dan berlanjut ke masa remaja. Kemudian berkembang lagi dari masa dewasa/matang hingga masa tua. Tiap masa akan menunjukkan perkembangan yang berbeda-beda. Tanpa disadari, tiap step perkembangan tersebut berlangsung dengan cepat.

Setiap tahunnya, seseorang akan melalui satu hari dimana usianya akan berkurang 1 tahun, atau sering dikenal dengan ulang tahun. Inilah saat yang tepat untuk mengevaluasi diri. Waktu yang baik untuk melihat kembali target apa saja yang telah dan belum berhasil diraih. Momen yang pas untuk mengurai kembali segenap kekurangan dan kelebihan diri yang ada selama satu tahun terakhir.

Langkah selanjutnya adalah menyusun ulang rencana strategis untuk satu tahun berikutnya. Semua impian dan cita-cita ingin dicapai dimasukkan ke dalam sebuah resolusi pribadi. Resolusi tersebut hanya akan menjadi daftar impian belaka bila tidak dilengkapi dengan guidelines untuk mewujudkan tiap impian tersebut. Guidelines ini pun takkan berarti apa-apa bila tidak dilaksanakan dengan tindakan nyata. Semua ini membutuhkan kerja keras dan komitmen yang kuat.

Oleh sebab itu, sangat tepat bila kita berdoa kepada Nya untuk meminta kemudahan dalam upaya meraih impian atau cita-cita dalam setiap momen ulang tahun. Sekali lagi berulang tahun bukan hanya sebuah momen yang patut dirayakan secara berlebihan. Ini adalah momen untuk merenung dan mengevaluasi diri, menyusun resolusi, dan berdoa untuk kemudahan dalam segala urusan.

Melalui blog ini, secara khusus saya mengucapkan selamat ulang tahun untuk partner saya yang selalu memberikan support dan inspirasi dalam banyak hal, serta hadir menjadi figur yang tak tergantikan  di dalam perjalanan hidup saya, dan secara umum kepada semua orang yang merayakan ulang tahun pada hari ini. Semoga waktu dan usia yang tersisa makin bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang-orang yang selalu menyayanginya.



Keep Learning, Keep Growing!!

Jumat, 30 Desember 2011

Perpustakaan Mini

Sumber : harvestbooks.com

Semasa masih berstatus mahasiswa baru, saya diminta menuliskan beberapa hobi pada selembar formulir open recruitment sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus. Saya tuliskan "melukis dan sepak bola". Saya lihat-lihat lagi, adakah yang kurang? Iseng saya tambahkan disampingnya "membaca", meski yang saya tahu hanya koran-lah bacaan favourite saya kala itu. Di kemudian hari saya kembali merenung, apakah sya benar-benar suka membaca.Ya, inilah aktivitas yang tak pernah saya sadari.

Saya kembali teringat saat TK dimana kali pertama saya bisa membaca. Hampir semua tulisan yang saya jumpai, baik itu di jalan, di tempat umum, hingga koran bekas pun saya baca. "Membaca" seakan menjadi multipurpose tool untuk memuaskan rasa ingin tahu saya.

Jam istirahat kala SD banyak saya habiskan untuk 2 hal, bermain bola atau berkunjung ke perpustakaan. Buku yang saya cari adalah buku-buku ensiklopedia. Selain sampulnya yang menarik, gambar dan informasi di dalamnya pun sangat menggoda saya untuk membacanya. Kebiasaan ini tanpa saya sadari berlanjut terus hingga ke bangku kuliah. Selain makin akrab dengan susunan rak-rak buku, saya pun menjadi dekat dengan pustakawan. Saya masih hafal dengan pustakawan dari SD hingga SMA.

Bu Mawarni, pustakawan perpustakaan SD YKPP 02, nampaknya hafal kelakuan saya yang telat masuk kelas hanya gara-gara terlalu lama di perpustakaan.Bu Djumini, pustakawan SLTP N 1 Cilacap, tidak seberapa dekat dan kenal dengan saya, namun beliau hafal segerombolan siswa yang selalu berburu harian Suara Merdeka tiap jam istiahat. Saya termasuk di dalam gerombolan itu. Mbak Nus, begitu saya menyebut pustakawan SMA 1 Cilacap. Bukan hanya dekat sebagai pustakawan, saya punya hubungan yang sangat dekat dengan beliau. Saya sering curhat tentang berbagai masalah kepada beliau. Beliau lah yang selalu mempromosikan koleksi buku baru, tiap kali saya datang ke perpustakaan. Pak Toto, pustakawan  ruang baca Teknik Mesin, paling hafal kalau saya jarang mengembalikan buku teks tepat waktu. Saya lebih sering memperpanjang masa pinjam ketimbang membaca di perpustakaan. Begitu pun di perpustakaan ITS.

Dari sekian banyak perpustakaan, selain perpustakaan ITS saya sangat terkesan dengan kondisi perpustakaan SD dan SMA. Selain koleksi bukunya yang lengkap, tata ruang dan lounge yang ada di kedua perpustakaan itu membuat saya betah berlama-lama untuk membaca buku di dalamnya. Tidak heran perpustakaan termasuk tempat yang saya sambangi bila ada kesempatan berkunjung ke sekolah.

Semasa kuliah, aktivitas membaca lebih banyak saya lakukan di kamar kos. Saya lebih tertarik pergi ke bursa buku atau pasar buku bekas di Jalan Semarang Surabaya ketimbang pergi ke mall. Semakin hari saya makin gemar membeli dan mengoleksi buku. Buku yang paling seirng saya baca adalah buku yang berisi tentang pengembangan diri, komunikasi, manajemen, atau biografi tokoh. Kamar saya pun hampir penuh karena kumpulan buku-buku yang tersimpan rapi di rak buku, meski kadang berantakan di atas lantai.
  
Segala aktivitas membaca itu membuat saya* terinspirasi untuk membuat perpustakaan keluarga / perpusatkaan pribadi, kelak bila telah menetap dan berkeluarga. Saya bercita-cita untuk membudayakan membaca. Karena bagi saya membaca adalah kunci awal untuk membuka cakrawala dunia. Inilah salah satu harta berharga dan paling sustain yang akan saya tularkan kepada orang-orang yang saya sayangi.



Keep Learning, Keep Growing!


* : Bukan hanya saya yang terinspirasi, lebih tepatnya saya dan partner saya. Inilah cita-cita kami berdua.:)

Kamis, 29 Desember 2011

Gatot : Mekanik Inspiratif Lulusan SMP

Sisa waktu di penghujung tahun 2011 saya habiskan untuk belajar  mengenai seluk beluk pertambangan. Selain belajar bagaimana menambang material dan pengolahannya, tentu saja saya pun mengobservasi manajemen perawatan alat berat. Kali ini saya punya satu cerita menarik yang cukup berkesan, tentang perkenalan dengan seorang mekanik muda yang cukup menginspirasi saya untuk terus belajar.

Perawakannya tidak begitu tinggi namun tubuhnya cukup berisi. Bulu mata yang lentik memperindah sorot matanya yang sangat tajam. Tatapannya cukup menggambarkan semangat untuk terus belajar dan rasa ingin tahu yang terpendam di dalam hatinya. Usianya baru menginjak angka 24 tahun. Gerakannya masih sangat cekatan, memutar baut, membongkar-memasang part, dan mengoperasikan berbagai macam alat berat. Yeah please welcome, he’s Gatot.

Perkenalan saya dengannya hanya diawali dengan sebuah sapaan singkat dan ringan. “Mas ada yang bisa saya bantu?”. Sejurus kemudian kami pun saling memperkenalkan diri. Kemudian saya pun terlibat aktif membantunya untuk menyelesaikan tiap item pekerjaan yang tertera pada job desc perawatan rutin alat berat.

Selama beberapa hari saya banyak diterangkan tentang basic knowledge tentang alat berat, baik itu dump truck, wheel loader, hingga buldozer. Dia selalu menerangkan segala sesuatunya dengan detail dan menuntaskan tiap rasa ingin tahu saya. Pengetahuannya yang luas dibagikannya secara cuma- cuma. Saya pun semakin antusias membantunya melakukan tiap aktifitas perawatan alat berat yang sedang dia selesaikan. Tangan dan baju saya semakin hari semakin akrab dengan oli dan segala macam kotoran khas alat berat.
 
Semakin hari kami semakin akrab. Di sela-sela melakukan pekerjaan perawatan rutin, kami banyak bercerita banyak hal. Suatu ketika dia bercerita latar belakang keluarganya. Satu hal yang  sangat menyentuh adalah kenyataan pahit bahwa kedua orang tuanya berpisah di usianya yang sedang beranjak remaja. Semenjak itu dia pun tinggal bersama neneknya. Selepas lulus SMP, dia pergi meninggalkan Jogja untuk merantau ke Jakarta seorang diri.  

Di tengah hiruk pikuk ibu kota, segala macam pekerjaan pernah dicobanya untuk bertahan hidup. Mulai dari kuli bangunan, kernet truck, dan pekerjaan lainnya, asalkan halal. Tanpa mengeluh! Hingga akhirnya 5 tahun yang lalu, dia diterima menjadi karyawan KJS / tenaga kontrak untuk Quarry Dept sebagai mekanik alat berat. Di tengah-tengah kesibukkannya sebagai mekanik, timbul rasa malu pada dirinya. Sementara dia sedang bermandikan keringat dan berlumuran oli, banyak teman sebayanya sedang belajar di bangku sekolah. Kemudian timbullah tekad untuk menempuh pendidikan SMA. Sejak saat itu, dia menghabiskan 2 hari dalam seminggu untuk menempuh kejar paket C. Tepat satu tahun yang lalu dia pun berhasil menyelesaikan pendidikan SMA.

Saya tahu betul iklim di dunia kerja jauh berbeda dengan dunia pendidikan. Menumbuhkan rasa untuk terus belajar tiap waktu bukanlah hal yang mudah. Berangkat kerja di pagi hari, pulang di sore hari, menunggu gaji di akhir bulan, dan berekreasi di hari libur. Itulah siklus hidup paling membosankan yang pernah saya jumpai. Lain halnya dengan Gatot, di saat karyawan lain mengikuti rutinitas yang menjemukkan, dia justru memanfaatkan waktu libur tiap minggunya untuk belajar di program kejar paket C. Tidak berhenti di sini saja, bahkan Gatot kini sedang menyelesaikan program eksekutif S1 Teknik Mesin!

Di tengah segala macam keterbatasan, mulai dari sisi ekonomi, fasilitas, kesempatan hingga latar belakang keluarga, Gatot tetap semangat untuk menuntut ilmu. Bagi saya, Gatot telah mengingatkan saya akan banyak hal. Fasilitas, kesempatan yang saya peroleh, dan keluarga harmonis yang saya miliki adalah harta yang tak ternilai harganya. Sepantasnya semangat saya tidak boleh kalah darinya. Tetap bersyukur, tetap haus akan ilmu, dan tetap belajar. Bukan tingkat pendidikan dan intelgensia, tapi tekad dan semangat untuk terus berbagi ilmu dan belajar-lah yang menjadi pembeda antara orang biasa dengan orang hebat.

Thanks Gatot for inspiring me! Insya Alloh, I'm able to take My Master Degree!  Semoga Alloh mempermudah jalan kita menuju tangga kesuksesan Tot.


Keep Learning, Keep Growing!

Rabu, 28 Desember 2011

The Quotes in the Beginning of My Step here

Photo was taken in the early  morning at the top of Mount Lawu. Surely describing my spirit, Semangat Pagi!!

You are here not to be ENGINEER but LEADER
So let yourself get your own success through these four steps :
1. Act as role model.
2. Energize the people.
3. Deliver the result.
4. Think about business.

Lilik Unggul Raharjo
(Manufacturing Director of HIL)




Keep your Young Spirit, specially in Innovative Thinking and Ideas.

Thomas Elvermaan
(Plant Manager of NAR Plant)



Keep Learning, Keep Growing!

*I conclude that based on the all of the quotes, I simplified by 4 words : Keep Learning, Keep Growing, or in other word/those are in line with Steve Jobs's quote : Stay Foolish, Stay Hungry! Precisely because of those quotes I've not ever thought to spend all over my career for having work/as usual employee. I still have another (many) dreams to be realized and I was born for those. I'm the incredible one. But to be honest, take a chance to join with HIL in next several years is the right choice to develop my self. Bismillah may Alloh bless us.:)

Selasa, 27 Desember 2011

Build Networking : Quantity and Quality

sumber : mbda.gov

 Alhamdulillah, akhirnya saya bisa kembali ke Narogong dengan selamat setelah menghabiskan long week end di kota kelahiran Cilacap. Saya pulang dan pergi ke Cilacap menggunakan bus umum. Selama 2 hari di Cilacap, saya banyak menghabiskan waktu dengan keluarga baik di rumah maupun rekreasi akhir pekan ke luar kota. Saya pun menyempatkan sedikit waktu untuk sekedar reuni dengan teman-teman "satu geng" semasa sekolah. Kami makan malam bersama, memainkan games,dan berbagi cerita hingga larut malam.  

Hingga akhirnya waktu untuk kembali pulang ke Narogong pun tiba. Pukul 6 kurang beberapa menit saya bergegas berangkat ke terminal bus. Tiket yang telah saya beli 2 hari sebelumnya menunjukkan bahwa bus yang akan saya tumpangi berangkat pukul 6.30. Karena suatu hal, bus yang akan membawa saya ke Jakarta datang terlambat. Akhirnya saya dipindah ke bus yang berangkat pukul 6.

Selama perjalanan, saya duduk bersebelahan dengan seorang pria berumur sekitar 31 tahun. Logat bicaranya sangat khas, menunjukkan bahwa dia berasal dari Cilacap asli. Kami memiliki banyak persamaan, that's why we got closer easily. Awal pembicaraan kita seputar destination masing-masing, tanpa diduga ternyata kami menuju daerah yang sama, Cileungsi-Bogor! Bahkan tempat tinggal kami pun tak jauh. kami semakin cepat akrab, hingga akhirnya kami pun saling bertukar nomer handphone.

Perjalanan kemarin memberikan beberapa pelajaran. Kita harus pandai mengangkat topik pembicaraan pada orang yang baru dikenal. Orang akan semakin tertarik bila pembicaraannya menyangkut hobby atau hal-hal lain yang memang disukai. Kita pun sebisa mungkin menghindari topik yang dapat menimbulkan perbedaan pendapat. Bahasa dan sikap tubuh pun memiliki pengaruh yang signifikan. Usahakan untuk menyesuaikan bahasa, frekuensi bicara, dan intonasi suara dengan lawan bicara yang kita hadapi.

Saat pembicaraan semakin menarik dan salah seorang sudah menawarkan untuk bertukar nomor handphone, artinya perkenalan yang singkat ini bisa diteruskan menjadi sebuah persahabatan atau hubungan interpersonal yang lebih dekat. Kami berasal dari daerah yang sama, memiliki hobby yang sama (bermain PES), dan merantau di daerah yang sama. Tidak menutup kemungkinan bila di kemudian hari kami akan semakin banyak berinteraksi. Hari itu saya pun berhasil menambah satu orang ke dalam lingkaran networking yang sedang saya bangun.

Setelah perkenalan itu, kini yang harus saya lakukan adalah merawat tali silaturahmi. Karena membangun sebuah networking bukan hanya bagaimana kita mampu berkenalan dengan sekian banyak orang dalam waktu yang singkat (quantity), namun bagaimana kita mampu merawat dan memupuk silaturahmi yang telah terbangun menjadi sebuah hubungan yang banyak memberikan manfaat bagi setiap pihak (quality).



Keep Learning, Keep Growing!

Jumat, 23 Desember 2011

Bermain Alat Musik : Antara Harapan atau Impian


Sumber : Wikipedia.org

Suatu pagi di akhir pekan, partner saya mengunjungi sebuah acara di Graha ITS. Disambut dengan permainan harpa dan biola yang sangat classy dan tentu saja membuat siapa saja yang mendengarnya mendadak melting. Seketika dia pun mengirimkan pesan singkat ke saya, bertanya penuh harap apakah saya bisa memainkan sebuah alat musik?

Saat itu saya pun menjawab tanpa pikir panjang, ya sure saya bisa! Saya membayangkan betapa girangnya partner saya disana. Mungkin pikirannya sudah berimajinasi ke sebuah romantic dinner yang diiringi permainan jemari saya diantara susunan tuts piano. Sekedar ingin memastikan, dia pun bertanya lagi alat musik apa yang saya bisa?

Kali ini saya menjawab polos tanpa dosa, saya biasa main pian..pianika! Saya yakin gambaran dan harapan mengalami sebuah romantic dinner seketika runtuh, hilang, dan menguap dari imajinasinya. Hehehe.

**
Ya sejak sekolah dasar hingga SMA, bukan susunan angka dan huruf di materi aljabar, bukan pula rumitnya rumus-rumus di fisika dan kimia, bukan kumpulan formula tenses dan jumlah vocabulary di bahasa Inggris yang membuat saya panas dingin di kelas. Tapi susunan not balok dan ornamen-ornamennya yang membuat saya harus menahan rasa grogi, berpadu hasrat ingin buang air selama di kelas.

Seni musik! Jujur, performa saya untuk mata pelajaran yang satu ini kurang memuaskan. Saya ingat betul bila ada nada yang salah saat praktik alat musik bersama di kelas, nearly always that's my fault! Saya harus belajar mati-matian di rumah hanya untuk menghafalkan sebuah lagu dan memainkannya dengan pianika.

Meski begitu, bukan berarti saya tidak pernah mencoba untuk menjadi anak band. Saya adalah "mantan" vocalist semasa SMP, meski bukan yang terbaik. Saya merupakan seorang penikmat seni. Mulai dari permainan musik orkestra yang berkelas, accapella, terlebih recycle song yang dibawakan dengan aliran jazzy. Sedang untuk grup Band, saya termasuk yang menyukai lagu-lagu ciptaan Erros dan Dewa Budjana, Sheila on 7 dan GIGI.

Ada kalanya kita tidak perlu harus menjadi expert pada bidang yang kita sukai. Cukup menjadi penikmat atau pendengar yang baik. Atau sebaliknya, bila memang kita tidak bisa menguasai sebuah bidang keilmuwan jangan sampai kita membenci atau anti terhadapnya. Setiap ilmu memiliki sisi-sisi menarik yang bisa kita manfaatkan. Karena baik-buruknya sebuah ilmu tidak terletak pada konten yang terkandung di dalamnya, tapi terletak pada pemanfaatan ilmu tersebut di tengah peradaban umat manusia.  
"That's why there's no end point in learning something until we can't breath anymore".





Keep Learning, Keep Growing!

Kamis, 22 Desember 2011

Selamat Hari Ibu


Saya punya sepasang orang tua kandung. namun saya pun memiliki puluhan hingga ratusan sosok yang saya anggap sebagai orang tua.
Saya ucapkan selamat hari Ibu, khusus untuk Ibu kandung saya ,Siti Amanah (Ibu-sekaligus kepala Sekolah di homeschooling kami) dan orang-orang yang telah saya anggap sebagai Ibu sendiri..:) 
Bu Emiwati (wali kelas 1 A SD YKPP 02 ), Bu Haryanti (wali kelas 1 E SMP 1 Cilacap),
Bu Rolasiyah (Guru Seni Lukis SMP 1 Cilacap), Bu  Siswarini Widadi Narimaningsih (Guru matematika), 
Bu Endang Atin (Wali kelas 2 E SMA 1 Cilacap),  Bu Arien (Guru Fisikia)
Bu Aminah Inah (Pembina Teater Kretta), Bu Lies Murtijas Sulistijowati (pembina Kopma dr.Angka ITS), and the last but not least Bu Helena C. Kis Agustin (Dosen PBT-Metal 1- Heat Treatment-Korosi dan pembimbing TA), serta semua figur dan sosok yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
terima kasih terima kasih..




Keep Learning, Keep Growing

Rabu, 21 Desember 2011

Instant Tak Selamanya Baik


Foto diatas saya ambil saat dalam perjalanan pulang dari plant menuju rumah kontrakan. Saya tertarik bukan pada isi konten yang tertera dalam iklan tersebut, karena Insya Alloh saya sudah cukup puas dan bersyukur dengan apa-apa yang telah dikaruniakan Alloh kepada saya. Saya sengaja berhenti dan mengambil foto iklan tersebut karena saya teringat akan gejala sosial di masyarakat yang makin banyak mendambakan segala sesuatu secara instant.

Banyak orang yang ingin cepat mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan secara cepat dan instant. Mereka terjebak dalam keinginan atau mimpi pribadi yang terlampau tinggi hingga lupa dan tidak tahu bagaimana cara meraihnya. Pada akhirnya orang-orang tersebut akan cenderung menghalalkan aneka ragam cara untuk meraih tujuannya. Meski saya yakin mereka pun memahami efek samping dari segala sesuatu yang diperoleh secara instan.

Buah yang dimatangkan dengan cara dikarbit ataupun artificial treatment lainnya sudah pasti tidak semanis dengan buah yang matang di pohon. Karir seorang selebritis yang meniti mulai dari nol tentu saja akan lebih awet daripada artis yang meraih kesuksesan melalui cara-cara instant. Kebanggaan menyandang gelar S2 yang diraih dengan cara "membeli" ijazah sudah pasti jauh berbeda rasanya dengan orang yang harus bersusah payah menyelesaikan thesis untuk meraih gelar master. Apalagi untuk soal kualitas, sudah pasti segala sesuatu* yang natural lebih baik daripada yang artificial, sebagaimana pernah saya post sebelumnya disini

Saya sadar banyak constraints yang membatasi ruang gerak hidup kita. Ada beberapa hal yang memang sulit bila tidak ditempuh dengan cara instant. Namun saya yakin masih banyak lagi hal berharga di dalam sisi-sisi kehidupan kita yang masih bisa diperjuangkan secara baik-benar dan terlalu sayang bila diraih secara instant.

Karena, baik kesuksesan maupun kebahagiaan bukanlah semata fungsi hasil, namun fungsi proses. Segala sesuatu yang dilandasi dengan niat yang benar dan ikhlas, dilakukan dengan cara dan melalui jalan yang benar, dan disertai dengan doa yang tiada henti, Insya Alloh hasilnya pun akan berujung pada kepuasan dan kebahagiaan yang tiada tara. Mari kita saling bergandeng tangan, sisingkan lengan baju, dan bersatu raih kesuksesan bersama!!


Keep Learning, Keep Growing!

*terlebih untuk iklan yang diatas

Selasa, 20 Desember 2011

5000 atau 10000, Mana Yang Lebih Baik?

Sumber : marcelnunis.com

Tidak masuk pagi hari kecuali turun dua malaikat. Yang satu berdoa "Ya Alloh, orang yang berinfaq berilah gantinya" dan yang kedua berdoa "Ya Alloh, orang yang kikir habiskan hartanya
(HR. Bukhori dan Muslim)

Saya pernah mendengar satu cerita menarik tentang nilai sejumlah uang dalam sebuah khutbah Jumat. Sang khotib bercerita ada seorang guru yang bertanya pada muridnya. lebih baik mana orang yang berinfaq 5000 rupiah dengan orang yang berinfaq 10.000 rupiah?

Bila kita mengacu pada pelajaran matematika di sekolah dasar, dimana nilai sebuah bilangan asli selalu meningkat dari 1 hingga ke bilangan berikutnya, maka tentu orang yang berinfaq 10.000 jauh lebih baik.


Sang khotib tidak menyalahkan jawaban diatas, namun kita perlu melihat berapa jumlah uang yang dimiliki kedua orang tersebut sebelum menyisihkan uangnya untuk berinfaq. Bila infaq sejumlah 10.000 rupiah keluar dari orang yang berpenghasilan 10 juta rupiah per bulan, sedang infaq 5000 rupiah berasal dari orang yang berpenghasilan 30.000 per hari. Sudah pasti orang yang berinfaq 5000 masih jauh lebih mulia.

Khutbah Jumat hari itu membuat saya kembali merenung akan dua hal. Pertama, parameter kemuliaan harta bukan terletak pada jumlah maupun nominal yang berhasil kita kumpulkan, namun terlihat dari seberapa besar kebermanfaatan harta tersebut untuk kita dan orang-orang di sekitar kita. Karena selalu ada hak untuk orang lain diantara sekian banyak harta kita dan sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Kedua, saya teringat pesan Prof. Abdullah Shahab dalam khutbah Jumat di Masjid Manarul Ilmi ITS. Berinfaq, bersedekah, atau segala bentuk menyisihkan harta untuk orang lain adalah sebuah bentuk "manajemen keterpaksaan" bukan sekedar kerelaan semata. BIla mengacu prinsip kerelaan, sudah pasti kotak infaq akan banyak dipenuhi lembaran uang bergambar Kapiten Pattimura atau bahkan koin-koin bergambar bunga melati. That's why,  kita harus bisa "memaksa" diri kita untuk bisa meyisihkan "lebih" dari jumlah uang yang biasa kita berikan.


Semoga kita selalu sama-sama terjaga untuk terus saling berbagi dan bekerja sama dalam kebaikan.
Keep on spirit, Happy Tuesday fellas! :)



Keep Learning, Keep Growing!

Senin, 19 Desember 2011

Mabit in elTahfidh

Last weekend  I got a chance to spend a night in the a pondok pesantren elTahfidh by joining Wisata Qurani program. For sure I could feel the like I did a couple years ago.  Here are some picture which had been taken by me.


In Saturday night we got and listened the religious speech from the chairman of the pesantren.

By reading this banner, we could find big picture of this pondok pesantren. They had many programs, and one of them is Wisata Qurani which's held every 3rd week of the month. For sure it's free!!

Halaqoh Al Quran. We dugem together (duduk gembira melingkar)

The man who had family, brought their family and children. hey learned about Al-Quran together.  It was some kind of family holiday. Holiday in pondok pesantren, what a nice holiday!


In this remote area, we can get closer to nature. The buildings was built in green concept.

There are some building which had been built in 50 ha areas. Some of them are used for students and another one for their parents in case they visit them.

This pesantren also manages some kind of farming, there are fish breeding, feedlot cattle, and many more

Waa..its my dream for having a house above the pond. Very antique!

Mas Aziz (green jacket), the man whom I am with.
Anyway, It was the theme which had made me feel so enthusiastic in listening the Ustadz along the saturday night..:))


We (especially me) spend 5 days in week by working and applying our knowledge in workplace. We need a time to rest and recharge our spirit. Definitely, this program (Wisata Qurani) is really highly recommended for you. If you interested in this program, let's join in every 3rd week of the month at pondok pesantren el Tahfidh. Get the feel of being santri for a night. Hehe..Anyway keep on spirit, have a nice week!!


Keep Learning, Keep Growing!!

Minggu, 18 Desember 2011

Menulis (Quotes of the week)

theperversityofconservatismdeux.blogspot.com

.."Impian terbesarku dari menulis 
adalah 
ketika nanti di Mahsyar ku terbelalak melihat catatan amalku, 
“Ya Allah, bukankah timbangan amalku tak sebesar ini?”, 
Kemudian ku terima jawaban dari-Nya, “Ya, kau benar. Tapi ribuan orang telah tergerak beramal kebaikan setelah membaca tulisan2mu. Berantai amal sunnah terkerjakan setelah ribuan manusia membaca karya dari jemarimu”. 
Ah, demi Allah Yang Maha Tahu, itulah harapan tertinggiku"... 
(Penulis Buku Man Shabara Zhafira)


..Dengan membaca kita tahu Dunia..
..Dengan menulis, Dunia tahu siapa Kita..

(Inspirator,Penulis, Trainer DNA Sukses Mulia, Entrepreneur)



Keep Learning, Keep Growing!


Sabtu, 17 Desember 2011

Holcim in Bontang

panoramio.com

Delapan bulan yang lalu, tepatnya bulan April 2011, saya mengikuti berbagai tahapan seleksi rekrutmen sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang industri semen. 2 bulan kemudian saya resmi diterima sebagai peserta  Graduate Development Program batch 6 (GDP 6). Program ini berlangsung selama setahun dan kini sudah menginjak bulan ke 7. Selama 3 bulan pertama, kami menjalani in-class training. Materi yang diberikan meliputi general overview, safety induction selama 2 minggu, marketing and innovation, leadership and self development, all details relate to cement manufacturing dan tentu saja maintenance. Kini setelah 3 bulan in-class training, saya dan peserta lainnya dibagi per kelompok untuk  menempuh rotational OJT selama 6 bulan. Kami secara bergiliran berpidah-pindah mulai dari production dept, technical dept, maintenance dept, quarry dept, geocycle, corporate technical services, dan  OHS (occupational, health, and safety). Setiap departemen atau tempat OJT, kami diberi waktu antara 2 - 4 minggu untuk belajar dan menggali lebih banyak ilmu. Bulan ini kelompok saya sedang menempuh OJT di quarry dept atau penambangan bahan mentah. Kami belajar segala sesuatu tentang aktivitas penambangan, mulai dari pembukaan lahan tambang, drilling, blasting, loading, hauling, dan tentu saja penutupan lahan tambang / reklamasi.


Rotational OJT yang kami jalani akan berakhir di pertengahan bulan Maret tahun depan. Saat ini kami sedang menunggu pengumuman penempatan untuk dedicated OJT atau semacam spesialisasi pada sebuah departemen selama 3 bulan. Kami akan membuat semacam tugas akhir secara individu relate to analysis and problem solving. Hampir semua peserta GDP harap-harap cemas menunggu pengumuman ini. Penempatan ini akan memberikan sedikit gambaran terkait dimana kelak kami akan ditempatkan setelah lulus tahun pertama program GDP.


Tadi malam beberapa teman saya menginformasikan bahwa sudah ada pengumuman via e-mail terkait dedicated OJT. Beberapa ada yang ditempatkan di Cilacap Plant dan sisanya di Narogong Plant.  Saya bergegas membuka laptop dan menancapkan modem. Tidak lama kemudian saya pun sudah terkoneksi dengan internet. Saya buka kotak masuk email. Saya baca perlahan pengumuman yang masuk. "..Dear Essa, I would like to inform that you are going to be placed in Bontang Plant..". Begitulah inti dari pengumuman yang saya baca. Bontang Plant? Sejak kapan perusahaan saya membangun plant di Bontang? Setahu saya Holcim Indonesia hanya ada memiliki 4 plants untuk manufacturing yaitu Cilacap Plant, Narogong Plant, Ciwandan Plant, Malaysia Plant, dan Tuban Plant yang sedang dalam masa pembangunan. Sedang untuk Batching Plant berjumlah 29 tersebar di seantero Jawa dan Bali. Tapi tetap saja tidak ada yang di Bontang.


Di tengah-tengah kebingungan itu, jam weker saya berdering suangat keras. Perlahan saya membuka mata, jarum jam menunjukkan pukul 03.20. Alhamdulillah, ternyata ini semua hanya mimpi belaka. Hahaha. Entah saya yang begitu lelah setelah bermain futsal tadi malam, terlalu memikirkan dedicated OJT atau memang terlampau memikirkan "hal-hal" yang lain sampai-sampai ada Bontang Plant. Haha.
Happy weekend for you guys.:)



Keep Learning, Keep Growing 

Jumat, 16 Desember 2011

Mimpi Besar Berawal dari Safety Helmet


theofficedealer.com

Banyak anak yang terinspirasi orang tuanya, termasuk saya. Semasa kecil saya memiliki kebiasaan unik yang kembali terulang di masa kini, yaitu membantu bapak menyiapkan alat kerja beliau. Saya masih ingat bagaimana bersemangatnya saya bila menyemir safety shoes bapak sebelum bekerja sembari mengenakan safety helmet yang selalu kedodoran di kepala saya, melepaskan sepatu dan kaos kaki sata pulang, melipat jas hujan dan memasukkannya ke dalam tas, bahkan menyiapkan mi instan berikut telur,bawang putih untuk bekal makan di pabrik.

Sebelum berangkat kerja, bapak selalu pamit dan saya pun mencium tangannya. Bapak selalu pergi berangkat kerja dengan muka penuh semangat. Siang-malam, panas maupun hujan tak pernah meyurutkan semangat bapak untuk mencari nafkah. Saat itu bapak selalu mengayuh sepeda federal tiap kali berangkat kerja. Bapak yang saya kenal adalah orang yang sangat mencintai profesinya. Beliau selalu bercerita kepada saya tentang apa-apa saja yang ditemui selama di pabrik. Tak hanya bercerita, bapak pun menggambar. Saya banyak diajarkan bagaimana menggambar tanki minyak, kapal tanker, cerobong, furnace, dan pipa-pipa yang mengular. Lebih dari itu, beliau pun selalu menanamkan nilai-nilai positif yang ada di pabrik, seperti leadership, teamwork, kedisiplinan dan safety.

Interaksi yang sangat dekat dengan bapak, memberikan saya banyak inspirasi. Banyak hal yang membuat saya bercita-cita menjadi insinyur, meski di kemudian hari saya mengerti bapak bukanlah insinyur. Beliau hanyalah seorang karyawan biasa yang bekerja sangat keras. Tak jarang di tengah terik maupun dinginnya malam dan hujan, bapak harus naik turun belasan bahkan puluhan tanki minyak tiap harinya.Satu hal yang saya banggakan dari beliau, bapak tidak pernah mengeluh. Bapak selalu bersyukur dan  bangga dengan profesinya. Saya semakin terinspirasi dan bertekad kuat menjadi seorang insinyur. Inilah cita-cita saya saat masuk kuliah, menjadi seorang yang lebih baik dari bapak.  

Sudah 6 bulan ini saya merasakan apa-apa yang telah membuat saya dulu terinspirasi dari bapak. Kini kepala saya pun mengenakan safety helmet seperti bapak, sebuah hal yang saya impikan sejak kecil.  Sepasang safety shoes selalu menemani kemanapun saya melangkah dan tentu saja sebuah safety google yang memberikan keamanan bagi kedua mata saya. Meski bukan di industri minyak dan gas seperti bapak, saya harus tetap bersyukur dan bangga. Seperti halnya bapak yang selalu bersyukur meski hanya seorang low floor employee.

Seiring berjalannya waktu dan berbagai program self-development yang saya alami semasa kuliah, cita-cita saya pun terus berkembang. Segenap kemampuan yang telah dianugerahkan kepada saya lebih dari cukup untuk sekedar menjadi insinyur biasa dan harus lebih baik dari bapak, saya yakin! Saya dilahirkan sebagai sulung dari lima bersaudara, saya yakin bahwa saya dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Apapun bentuknya, sudah banyak tanggung jawab besar yang telah menanti saya di masa depan. Dengan segenap kerendahan hati, saya masih memiliki mimpi untuk bisa berpartisipasi bahu-membahu membangun negeri ini dengan memimpin sebuah perusahaan kelas dunia, seperti halnya Pak Dahlan Iskan.

Satu hal yang saya selalu pegang dimanapun saya berada, selama itu halal apapun profesinya kita harus bangga. Bila kita bangga dan cinta, saya yakin kita pasti akan enjoy dan nikmat dalam menjalaninya. Bila kita enjoy, saya yakin kita bisa berbuat dan berkontribusi lebih untuk peradaban ini. Semangat untuk hari ini.



Keep Learning, Keep Growing!!

Kamis, 15 Desember 2011

Innovation

mind-mapping.co.uk
 
Without tradition, art is a flock of sheep without a shepherd. 
Without innovation, it is a corpse.
Winston Churchill


Innovation distinguishes between a leader and a follower.
Steve Jobs


 Something which guarantee our life can be better day to day
is  called as Innovation.

Essa Abubakar Wahid
 


 
Keep Learning, Keep Growing!!

Rabu, 14 Desember 2011

Caring is Everything


the-marketeers.com

Saya memiliki seorang teman sesama siswa GDP yang cukup dekat dengan saya. Kami sama-sama humoris dan pecinta kuliner dari Padang. Kami banyak menghabiskan waktu bersama untuk sekedar mengobrol, bertukar pikiran, belajar, maupun berolahraga. Setiap hari Jumat, kami sering bermain futsal bersama. Saya menjadi penjaga gawang sedang dia menjadi pemain bertahannya. Penampilan fisik dan cara bermainnya mengingatkan saya pada sosok pemain Timnas U-23,Diego Michiels, hanya saja kulitnya sedikit lebih gelap. Ya, itulah Dede Kaladri Syamputra.

Semalam seusai makan, saya sempatkan untuk mampir ke rumah kontrakannya yang hanya terpisah 2 blok dengan rumah saya. Saya berniat mengantarkan uang kepada salah seorang teman sekaligus menjenguk Dede yang sudah seminggu ini terbaring sakit. Sesampainya di rumah kontrakannya, saya langsung menuju kamar Dede untuk sekedar menanyakan kabar terkini dan mengobrol singkat. Nampak rona wajah gembira dan langsung menyambut saya meski saat itu dia nampak sangat lemas. Obrolan kami cukup singkat, tidak sampai 10 menit saya lalu bergegas mengantarkan uang kepada seorang teman lainnya.

Seusai menjenguk dan mengantarkan uang, saya pamit ke Dede. Tanpa saya duga, dia bangkit dari tempat tidurnya dan mengantarkan saya sampai ke depan pintu gerbang, meski saat itu dia masih lemas dan demam cukup tinggi. Dia sempatkan sedikit waktu untuk mengantarkan saya dan berulang kali mengucapkan terima kasih, ungkapan rasa bahagia karena telah dijenguk dan diperhatikan.

Sering kali  kita (termasuk saya) sering melupakan hal-hal kecil namun esensial. Kita sering berpikir terlalu tinggi untuk membahagiakan orang lain. Mungkin ada yang berpendapat bahwa membahagiakan orang harus dengan uang, harta, dan sebagainya. Padahal bisa jadi bukan itu yang dibutuhkan olehnya. Malam ini saya kembali belajar dan ditunjukkan bahwa salah satu jalan membahagiakan orang lain adalah dengan memberikan apa yang memang dibutuhkan olehnya. Dede yang sedang sakit, saat ini mungkin tidak terlalu memerlukan makanan enak nan mahal namun justru kepedulian dan perhatian dari orang di sekitarnya. Bagi seorang anak yang sedang tumbuh beranjak besar, bisa jadi bukan mainan dan aneka fasilitas hidup lainnya yang bisa membuatnya selalu merasa bahagia. Namun kehadiran Bapak dan Ibunya-lah di tiap sesi makan pagi dan malam yang bisa membuatnya merasakan kebahagiaan sebagai satu keluarga. Sedikit waktu untuk berbicara di telepon tiap malam bisa jadi merupakan hal yang paling dibutuhkan oleh seorang perempuan yang terpisah jauh dari pasangannya bukan kiriman paket berisi hadiah.

Hal ini merupakan PR buat saya untuk lebih peka dalam menjalin sebuah relasi, karena kebahagiaan sekali lagi tidak semata diraih dengan limpahan materi namun juga dengan kepedulian dan empati.



Keep Learning, Keep Growing.

Selasa, 13 Desember 2011

Ayam Mati di Lumbung Padi

Ada sebuah pepatah yang biasa digunakan Pak Dahlan Iskan (Meneg BUMN) untuk menggambarkan daerah yang kaya akan sumber energi namun justru mengalami krisis listrik, Ayam Mati di Lumbung Padi.
Pagi ini ijinkan saya memakai pepatah tersebut untuk menggambarkan pengalaman pribadi yang sedikit mirip dengan pepatah tersebut. Inilah cerita saya.

Sudah 6 bulan lebih saya dan 2 teman lainnya (Ferry dan Ipung) mengontrak sebuah rumah sederhana di daerah Cileungsi. Rumah yang kami kontrak cukup sejuk dengan beberapa pohon rindang di depan dan samping rumah. Rumah ini pun cukup strategis, hanya berjarak 10 meter dari halaman masjid. Pemilik rumah ini adalah sebuah keluarga kecil yang tinggal tepat di depan rumah kami, keluarga Pak Bandono. Beberapa minggu yang lalu, kami bertiga baru saja memperpanjang kontrak sampai bulan Mei 2012.

Cerita ini berawal ketika 2 hari yang lalu, tepatnya Jumat malam, kedua teman saya pergi berlibur ke Puncak. Praktis tinggal saya sendiri di rumah. Akhir pekan itu saya memang berencana untuk bersih-bersih rumah dan seisinya.

Hari Sabtu saya memulai merapikan kamar tidur, ruang keluarga, dan dapur. Kemudian saya melanjutkan dengan menyapu dan mengepelnya. Setelah semuanya selesai, saya mencuci semua tumpukan baju kotor yang sudah seminggu ini menumpuk begitu saja. Cukup melelahkan namun sangat menyenangkan. Malam harinya, seperti biasa saya menonton tim kesayangan saya berlaga, Manchester United. Hanya segelas air putih dan sebungkus martabak manis yang menemani saya. Menjelang pertandingan berakhir, saya mulai mengantuk dan terlelap di depan TV. Saat itu pula tiba-tiba sebagian lampu di rumah saya dan TV mati tanpa diketahui sebabnya. Saya yang sudah terlanjur mengantuk berat spontan beranjak dari depan TV, membawa serta bantal guling untuk pindah tidur di kamar.

Keesokan harinya saya memanggil teman yang kebetulan salah satu lulusan elektro terbaik di kampus saya. Lulus dengan predikat cumlaude, dia merupakan andalan bagi saya bila listrik mati. Setelah berdiskusi beberapa saat, ditemukan beberapa hipotesa. Inti dari hipotesa itu listrik mati karena hubungan arus pendek sehingga merusak  circuit breaker. Sedang asal hubungan pendek terjadi, kami tidak tahu. Alhasil kami simpulkan untuk mencoba mengganti circuit breaker yang kami klaim sudah rusak.

Setibanya di toko alat-alat listrik, teman saya langsung menyebut part yang dimaksud dengan bahasa khas kampus. Nampak jelas rona wajah penuh kebingungan dari sang pemilik toko seperti halnya orang yang baru saja mendengar istilah yang sangat asing. Melihat situasi itu, saya meminta teman saya untuk menunjukkan saja foto part yang memang telah kami ambil sebelumnya. Barulah sang pemilik toko tertawa sembari berujar "Oalah itu namanya bla bla bla...". (ironi 1).Usai membayar kami pun bergegas pulang dan langsung mengganti part yang diklaim telah rusak. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya listrik rumah pun berhasil nyala, hore!

Siang harinya Pak Bandono dan seorang tukang membetulkan beberapa bagian rumah yang selalu bocor tiap kali hujan deras. Saya membantu semampunya. Saat beliau masuk ke rumah dan memeriksa dapur, beliau menanyakan sebuah sakelar yang terpasang kurang baik. Saya pun mulai mengurut kabel yang terpasang. Kabel tersebut bermuara di halaman depan, tepat diluar jendela kamar saya. Itulah sakelar untuk  kabel pompa air. 6 bulan sudah saya tinggal, masih saja ada bagian rumah yang tidak saya ketahui (ironi 2).

Malam harinya (Minggu malam), saya dan Ferry yang baru pulang dari puncak mencuci motor bersama-sama. Di saat sedang membilas, tiba-tiba air yang keluar dari dari kran mulai berkurang. Saya bergegas mengecek pompa. Tiap kali sakelar ditekan pada posisi on, listrik rumah kami selalu saja trip. Setelah diulang berulang kali ternyata masih saja trip. Saya pun baru sadar, ternyata yang menyebabkan hubungan arus pendek beberapa hari ini adalah pompa air. Kami pun memeriksa pompa air, tidak ada yang aneh. Siapapun tahu, hubungan arus pendek pasti berasal dari komponen elektronik. Salah seorang teman kami yang lulusan Elektro pun mengatakan hal yang sama. Hipotesa kami, motor pompa tersebutlah yang bermasalah. Malam itu kami terpaksa menghemat air untuk keesokan harinya.

Senin sore sepulang kerja, saya dan Ferry bersama-sama mencari tukang pompa. Poor we are, sang tukang pompa sudah tutup dan baru bisa besok siang. Nampaknya kami harus lebih lama lagi menghemat air. Sepulang sholat Isya berjamaah di masjid, saya bertemu Pak Bandono. Saya utarakan masalah yang terjadi. Mulanya saya hanya ingin meminta bantuan untuk mengawasi tukang yang akan datang esok hari. Sayangnya, baik Pak Bandono maupun istri akan sama-sama pulang kerja di sore hari, sehingga tidak ada orang yang bisa mengawasi perbaikan pompa. Beliau bertanya apa yang rusak, saya jawab pompa mengalami konrsleting. Kemungkinan ada beberapa lilitan pada motor yang rusak.
  
Pak Bandono yang sudah sekian lama berkeluarga mengajak saya untuk sama-sama melihat kondisi pompa. Sebuah screwdriver atau obeng dan  sebuah headlamp, saya berikan kepada beliau. Sembari Pak Bandono mencoba mengutak-atik motor pompa, saya diminta untuk menekan tombol sakelar. Sekalinya saya tekan ke posisi on, listrik rumah saya langsung trip! Ferry yang baru pulang dari masjid langsung bergabung dengan Pak Bandono.

Tidak sampai 3 menit setelah saya menekan sakelar dan listrik seisi rumah mati, Pak Bandono setengah berteriak “Wah ini bukan motornya yang kornselting, ini kabelnya yang dimakan tikus!” (ironi 3). Seketika saya dan Ferry saling memandang. Senang campur malu (lebih banyak malu). Senang karena malam ini kami bisa mandi. Malu karena kami terlanjur bilang motor pompa kornsleting. Urat malu yang selama ini putus seakan-akan berfungsi semua. Malu karena kami lulus dari perguruan tinggi dengan status sarjana teknik, namun “payah” dalam menyelesaikan masalah seperti ini. Kami semakin malu karena telah gagal mencari akar masalah.

Tugas akhir kami yang dihiasi dengan bahasa khas akademisi nan sulit dipahami orang awam tidak menggambarkan apapun dari kami. Indeks prestasi yang kami raih pun bukan jaminan bahwa aneka ragam masalah bisa kami selesaikan. Namun yang pasti, kegagalan kami kemarin pun bukanlah akhir dari segalanya. Kami hanya butuh waktu untuk banyak berlatih. Kami siap belajar. Kami dirancang untuk terus berkembang. Supaya kelak tak ada lagi “ayam mati di lumbung padi”, atau lebih tepatnya “pompa mati di sangkar Insinyur”. Semoga kami bukan termasuk Sarjana Mesin yang "tahu segalanya" namun justru sama sekali "tak tahu" apapun tentang mesin.



Keep Learning, Keep Growing

Senin, 12 Desember 2011

Waktu yang ada Tak sebanyak Impian Kita

 "(Ibrahim berdoa), Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang saleh." QS : 26:83

Semalam ini hujan rintik-rintik mengguyur daerah Cileungsi dan sekitarnya. Saya menunggu kehadiran teman mentoring, Aziz, sembari memasukkan buku agenda dan Al Qur'an ke dalam tas. Sesaat kemudian dia datang, kami pun langsung meluncur ke kediaman Pak Hamim, tempat liqo kami malam ini. Kami menembus dinginnya udara Cileungsi, menerobos jalanan desa yang masih belum beraspal. Hujan membuat jalan semakin licin dan becek. Sekitar 20 menit kemudian kami tiba di tempat Pak Hamim. Liqo' sudah dimulai dengan tilawah secara bergiliran. Kedatangan kami membuat liqo' menjadi lengkap menjadi 14 orang. Kami pun "dugem"(duduk gembira melingkar) bersama.

Di tengah menunggu giliran tilawah, mata saya tertuju pada jam dinding sederhana yang bertuliskan "Waktu Yang Ada Tak Sebanyak Keinginan Kita". Kalimat mutiara yang sempat membuat saya sulit berkonsentrasi selama menunggu giliran tilawah. Saya mencoba sedikit merenung, betapa banyak impian-impian baik yang telah tertulis di buku blue print rencana hidup maupun yang belum. Sedang waktu saya saat ini sudah tidak sebanyak ataupun se-fleksibel seperti dulu. Selama 5 hari dalam seminggu, aktivitas saya praktis dihabiskan dari pagi hingga sore di dalam plant untuk mengamalkan ilmu yang telah saya dapat di bangku kuliah. Saya hanya punya waktu terbatas di malam hari dan tentu saja 2 hari libur tiap akhir pekan untuk mengejar impian-impian lainnya. For that reason, saya butuh katalisator untuk mengakselerasi usaha saya meraih impian yang begitu banyak.

Saya jadi teringat pesan Pak Jamil Azzaini dalam sebuah peluncuran buku di Surabaya. Beliau menyampaikan kisah tentang seekor nyamuk yang bisa terbang pulang-pergi dari Surabaya ke Malang dalam tempo satu hari. Bagi sebagian orang, cerita ini mungkin terdengar  mustahil, tapi tidak bagi Alloh. Nyamuk tersebut bisa terbang sejauh itu karena dia terjebak di dalam sebuah mobil yang bepergian dari Surabaya ke Malang. Lesson learn dari cerita itu adalah pesan untuk selalu berkumpul dengan orang-orang/komunitas yang bisa menunjang pencapaian mimpi kita, atau dalam lagu tombo ati ditunjukkan dengan penggalan lirik "Wong kang sholeh kumpulono". Sedang dalam Harvard Business Review edisi November 2011 disebutkan " Find and stay in touch with colleagues who can sharpen your thinking and connect your role to your organization's broader mission.

Afterall, saya seperti di-recharge, mengapa saya harus terus bersemangat untuk berangkat liqo' dan menjalani tiap program di dalamnya. Saya sadari bahwa lima hari dalam seminggu merupakan waktu yang sangat lama bila tidak diisi dengan hal-hal yang bernilai ibadah, sedang tingkat keimanan saya masih sangat jauh dari kata "bagus". That's why, saya sangat membutuhkan sebuah komunitas yang bisa terus membuat saya terjaga dalam hal ibadah dan masih banyak lagi komunitas lain yang saya butuhkan untuk meraih impian-impian lain yang telah menunggu.

Apapun profesinya, pastikan kita selalu mengelilingi diri kita dengan orang-orang hebat yang bisa mengakselerasi pencapaian impian-impian kita. Semoga Alloh selalu memberi kemudahan kepada kita dalam mencari ilmu dan selalu memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang shaleh.

Selamat mengawali awal pekan ini dengan semangat!!




Keep Learning, Keep Growing

Sabtu, 10 Desember 2011

Eamon's quote


Don't put other in the corner even though he/she against you
Eamon Ginley (CEO of Holcim Indonesia)




Keep Learning, Keep Growing!!

Jumat, 09 Desember 2011

Kuda Kuda

Foto diambil sekitar tahun 2008 di Gn.Bromo.


Bukan orang yang di balik kemudi mobil sport berharga ratusan juta, bukan pula orang diatas motor balap berkecepatan tinggi yang membuat saya berdecak kagum. Namun seorang penunggang kuda-lah yang berkali-kali membuat saya terpana dan terpancing untuk melakukan hal yang sama. Saya bermimpi suatu saat nanti bisa memiliki beberapa ekor kuda.

Bila suatu hari saya menjadi seorang manager dan diijinkan, saya akan berangkat kerja dengan menunggang kuda. Mobil dinas cukup saya stand by-kan di area plant. Sepulang kerja atau pada hari libur,  saya berpetualang/touring memasuki daerah-daerah terpencil, menelusuri jalan-jalan kecil dengan menunggang kuda. At the end, tentu saja saya bisa menggembala ternak dengan menunggang kuda. What a cowboy wanna be.. :)




Keep Learning, Keep Growing

Kamis, 08 Desember 2011

Terlindas Zaman atau Melindas Zaman

google.com


Seminggu yang lalu, tepatnya rabu malam, kami seluruh peserta GDP 6 berkesempatan untuk menikmati makan malam bersama HR Director of HIL, Pak Rully Safari. Saat sesi ramah tamah kami banyak memberikan feedback terkait pelaksanaan program GDP. Diskusi pun berlangsung sangat interaktif dan penuh dengan suasana kekeluargaan. Beliau banyak menyampaikan cerita inspiratif dari berbagai role model. Salah satunya cerita tentang seorang komisaris Holcim Groups (HGRS) yang tidak bisa membuat sms dan email (sayangnya saya lupa siapa nama beliau).

Komisaris yang dimaksud  adalah seorang bangkir yang supersibuk. Pak Rully bahkan bercerita bahwa 70% waktunya dihabiskan diatas pesawat. Tak terbayangkan betapa padat aktivitasnya. Di tengah-tengah karirnya yang terus menanjak dan memegang kendali beberapa perusahaan papan atas, beliau ternyata "sengaja" tidak mau belajar untuk sekedar membuat sms dan email!! Sehingga orang yang hendak berkomunikasinya terpaksa harus menelepon langsung atau mengirimkan fax. Ketika ditanya mengapa tidak mau belajar sms, beliau beralasan bila saya bisa membuat sms bisa dibayangkan berapa banyak orang yang akan sms dan tentu saja ini akan memakan banyak waktu untuk membalasnya.

Bagi saya, ini masih belum seberapa. Setidaknya si komisaris masih memiliki nomer handphone untuk dihubungi. Salah seorang dosen yang jadi role model saya, Ust.Abdullah Shahab, bahkan "sengaja" tidak mau memiliki handphone. Otomatis orang yang ingin berkomunikasi dengannya harus menelpon, mengirim email atau bahkan bertamu langsung ke rumahnya.

Kedua tokoh tersebut saa-sama memiliki alasan yang kuat atas pendiriannya. Mereka sama-sama tidak ingin hidupnya menjadi ketergantungan terhadap teknologi. Mereka ingin mempertahankan nilai-nilai luhur yang mungkin saja bisa tergusur dengan kehadiran teknologi. Bayangkan bila tidak ada sms, mungkin tidak ada mahasiswa yang asyik sms-an/bbm-an saat kuliah berlangsung, tidak ada orang yang sibuk sms-an/bbm-an saat rapat sedang berlangsung. Bahkan sering kita menjumpai orang yang tidak mengacuhkan lawan bicaranya dengan sibuk ber-sms ria.

Bagi orang dengan posisi tertentu, pendirian kedua tokoh bisa sangat acceptable. Sedang bagi kita yang belum apa-apa, pendirian tersebut justru bisa membuat dibilang gaptek atau sebagainya. Bagi kita dan saya khususnya, yang masih sangat membutuhkan teknologi semacam itu, bisa mengambil learning point dari dua tokoh tersebut. Jangan sampai kemajuan teknologi yang ada membuat kita lupa bagaimana menghormati dan menghargai dalam berkomunikasi orang lain. Carilah waktu yang tepat untuk membalas sms atau menerima telepon. Bila memang urgent, kita bisa meminta izin kepada lawan bicara untuk meminta waktu sebentar.




Keep Learning, Keep Growing.

Rabu, 07 Desember 2011

Maintenance : "Tidak Hanya Mesin Yang Perlu Dirawat"

howstuffworks.com

Sudah satu bulan ini saya dan dua rekan lainnya menghabiskan waktu OJT di departemen maintenance. Kami belajar segala sesuatu tentang teknik manajemen perawatan, mulai dari perencanaan, root cause analysis, budgeting, hingga ke segala macam metode perawatan. Saya jadi teringat sebuah kajian yang mengupas tentang hak-hak tubuh kita, seperti istirahat, makan, tidur, refreshing dan sebagainya. Tubuh kita tak ubahnya mesin yang memang perlu dirawat dan dijaga agar selalu fit. Terkait dengan itu, saya mencoba menghubungkan teknik perawatan pada mesin dengan manajemen perawatan pada tubuh kita.

1. Breakdown Maintenance
    Metode ini adalah yang tertua sepanjang sejarah perkembangan industri. Sebuah mesin akan dilakukan perbaikan setelah mesin tersebut benar-benar rusak atau tidak bisa digunakan. Bila dihubungkan pada manusia, kita hanya akan berobat setelah kita benar-benar jatuh sakit.
 
2. Corrective Maintenance
    Teknik perawatan korektif adalah bentuk perawatan yang dilakukan setiap kali ada trouble pada mesin atau peralatan. Sebagai contoh kita sering melihat orang mengganti lampu rumah yang mati. Aplikasi pada kehidupan kita sehari-hari adalah aktivitas meminum obat sakit kepala setiap kita merasa pusing. Metode ini selangkah di depan breakdown maintenance, mengingat perawatan dilakukan setiap ada gejala kerusakan tanpa harus menunggu hingga mesin tersebut benar-benar rusak

3. Preventive Maintenance
    Metode perawatan berikut ini adalah metode yang dilakukan secara berkala (time based) tanpa melihat mesin tersebut rusak atau tidak. Sebagai contoh penggantian pelumas sepeda motor setiap 3 bulan sekali atau service rutin setiap satu bulan sekali. Pada tubuh manusia metode ini dapat dilihat pada kebiasaan makan 3 hari sekali atau untuk menjaga kesehatan rohani kita diwajibkan untuk sholat 5 kali sehari. 
 
4. Predictive Maintenance
    Metode ini adalah yang paling baru. Perawatan dilakukan dengan cara melihat kondisi aktual dari mesin yang bersangkutan (condition based), sehingga bisa segera diambil tindakan perawatan yang tepat. Metode ini pada prinsipnya menangkap gejala awal kerusakan sehingga kerusakan yang terjadi tidak semakin parah. Contoh dari metode ini adalah pemeriksaan getaran (vibration analysis), pengukuran ketebalan (thickness measurement) dan radiografi (X-Ray measurement). Pada manusia metode ini sering dijumpai dalam bentuk cek darah, pemeriksaan denyut jantung, dan rontgen. Perawatan dengan metode ini alangkah baiknya bila dilakukan secara berkala tanpa harus menunggu hingga kita sakit, sehingga bisa diambil langkah-langkah yang tepat.

5. Overhaul
    Ini adalah bentuk perawatan besar-besaran yang dilakukan secara periodik, semisal setahun sekali. Mesin atau peralatan diistirahatkan selama beberapa hari untuk dilakukan perbaikan, pergantian suku cadang, dan modifikasi yang diperlukan. Umat muslim biasa melakukan overhaul pada tubuh mereka dalam bentuk puasa khususnya puasa romadhon. Selama bulan romadhon organ pencernaan diistirahatkan dari aktivitas yang berat, sedang hati dan rohani dijaga dari segala macam bentuk hawa nafsu.

6. Proactive Maintenance
    Dari sekian banyak metode, inilah metode yang paling murah dan mudah. metode ini lazim ditemukan dalam bentuk housekeeping dan penggunaan mesin atau peralatan sesuai dengan desain atau beban yang diijinkan. Sedang pada manusia, teknik ini bisa dijumpai dalam bentuk olah raga secara rutin dan makan makanan yang bergizi. Metode ini sejalan dengan prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati.

 Keenam metode tersebut hingga kini masih dapat dijumpai baik di dunia industri maupun medis. Optimasi dari metode-metode tersebut akan menghasilkan sebuah manajemen sistem perawatan yang unggul, baik dalam dunia industri maupun penerapan pada kehidupan kita sehari-hari. Karena tidak hanya mesin yang perlu dirawat, tapi tubuh pun memiliki hak untuk dirawat dan dijaga.



Keep Learning, Keep Growing!!

Senin, 05 Desember 2011

Sudahkah Kita Merasa Bahagia?

heripagaralam.wordpress.com

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud, ia berkata : Rasululloh bersabda :
"Tidak boleh iri, kecuali kepada dua hal, yakni seseorang yang dianugerahi harta oleh Alloh, lalu dia belanjakan habis dalam kebenaran; dan seseorang yang dianugerahi ilmu, lalu ia gunakan untuk memutuskan perkara dan dia ajarkan kepada orang lain"*

Seperti biasanya, setiap minggu malam saya membeli nasi goreng untuk persiapan sahur. Saya sering mengamati sekumpulan pedagang di sekitar komplek perumahan saya. Ada pedagang yang laris, namun tidak sedikit yang sepi pembeli. Terlebih bila hujan turun seperti kemarin, dari sore hingga larut malam. Pedagang akan sepi pembeli.

Terkadang saya membayangkan tentang kehidupan pedagang yang selama ini sepi pembeli. Bagaimana mereka menghidupi keluarga? Belum lagi bila mereka memiliki anak usia sekolah. Biaya sekolah saat ini tentu saja sangat mahal. Apakah mereka dan keluarganya hidup bahagia? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul.  

Alih-alih mencari jawaban dari pertanyaan itu, justru timbul pertanyaan untuk diri saya sendiri "benarkah saya sudah bahagia?". Jangan jangan saya-lah yang harus dikasihani. Apakah rizki yang selama ini diperoleh sudah dibelanjakan pada jalan yang benar?

Saya akui setelah memasuki dunia kerja, saya banyak menemukan banyak tipikal orang. Ada yang sama-sama sudah lama bekerja tetap saja tidak memiliki tabungan yang memadai. Ada juga yang sudah berpenghasilan masih saja merasa melarat, dan banyak lagi contoh orang yang kondisinya memprihatinkan meski sudah berpenghasilan tinggi.

Pada akhirnya hati saya kembali diingatkan. Kebahagiaan tidak terletak pada tingginya nominal gaji, uang, dan harta yang kita miliki. Bagai rumus gaya aksi-reaksi, kebahagiaan merupakan reaksi dari perwujudan rasa syukur. Wujud rasa syukur tidak hanya dalam bentuk ucapan hamdallah, rasa syukur juga diwujudkan dalam bentuk membelanjakan harta di jalan Alloh dan mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk kepentingan ummat.

PR besar untuk saya pribadi, bagaimana untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah saya peroleh. Tetap semangat untuk memulai aktivitas di minggu ini, semoga Alloh selalu memudahkan urusan kita. Amin



Keep Learning, Keep Growing

*diambil dari buku Ringkasan Riyadhush Shalihin yang disusun oelh Imam Namawi.

Minggu, 04 Desember 2011

My Gallery : The Holcim Academy

Hi guys, how's life? How's your week end?
I haven't been updating this site for almost 4 days due to some kind of reason. This morning I gonna let you guys know a little bit about Holcim Academy. Check it out
 

Main Gate of Narogong Plant.
Along the way we will be pampered with a view of the lush trees and green
The another side of artificial forest, it's very cool

There was a gazebo inside the artificial forest

Right to left : Muhammad Yanuar Ardi and me, we posed in front of Holcim Academy. Unsuspected before, finally we can be a team here.
Main gate into Holcim Academy. This building had been renovated in the 2008. It was dedicated for Tim Mackay  who had been victim in the bomb incident at JW Marriot Hotel.

Front desk of Holcim Academy. We will begin to feel the high spirit in learning.

All participant of Graduate Development Program  6.



That's enough for today. Next time, I will post another picture related to this impressive building. Have a nice weekend guys.

Stay Focused and Keep Learning, Keep Growing.